Archive for the ‘Pengenalan EDC’ Category

IMG-20180507-WA0027

Mengulas kembali awal pembuatan blog ini tahun 2012 lalu, ketika salah satu teman di sebuah grup BBM mendorong saya untuk menuliskan pengalaman saya menggunakan beberapa tools pada saat menjadi bagian dari tim penanggulangan bencana. Membuat review, menguji EDC tools yang baru terdengar menyenangkan, namun pada perjalanannya menjadi sulit karena review bukanlah salah satu kekuatan saya dan sudah banyak website atau blog yang mengulas mengenai hal tersebut.

Dalam perjalanannya, pada saat saya bergabung ke sebuah komunitas bilah, saya menemukan banyak sekali pengetahuan yang berguna, simple namun aplicable yang hanya di sebarkan dari mulut ke mulut pada saat bertemu dengan teman-teman, comment di kolom status media sosial seperti Facebook ataupun harus mencari tahu melalui jalan panjang dan berliku seperti browsing di internet, yang selain memakan waktu, juga memakan kuota, sodara-sodara.. hehehehe.

Dari sinilah timbul konsep baru mengenai arah blog EDC Indonesia, bahwasanya EDC Indonesia harus menjadi sarana belajar, mengumpulkan informasi mengenai konsep EDC dan juga penyebaran pengetahuan, tidak hanya menjadi ajang jualan dan pameran foto EDC tool yang keren saja.

IMG_20180416_084255_922

Dengan jelasnya arah seperti ini, saya menjadi semakin terpacu untuk mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan mengenai konsep EDC, menggabungkan dengan pengalaman pribadi yang di dapat selama bekerja, untuk kemudian menurunkannya menjadi sebuah tulisan yang mudah di pahami, dengan bahasa yang tidak terlalu ‘njelimet‘ tentunya.

Kemudian satu kesempatan datang manakala komunitas bilah tempat saya bergabung diundang untuk mengisi acara family gathering salah satu radio swasta di jakarta. Pada saat pertemuan singkat, untuk menentukan sesi apakah yang akan di berikan pada kesempatan tersebut, saya memberanikan diri untuk mengusulkan agar dapat memberikan materi mengenai pengenalan pisau kepada anak-anak yang bersumber dari salah satu tulisan saya sebelumnya. Usulan tersebut di setujui, hingga pada akhirnya materi tersebut menjadi bagian dari kegiatan tersebut dan mendapat respon yang cukup baik dari peserta yang hadir.

20140608_105518

20140608_105522

Kejadian tersebut semakin mendorong saya untuk terus mengembangkan konsep Every Day Carry dan terus mendorong teman-teman dan diri saya sendiri untuk dapat membagikan pengetahuan, baik dalam suasana non formal ataupun dalam sesi-sesi khusus seperti yang telah saya jelaskan diatas. Hingga saat ini alhamdullilah saya telah dipercaya beberapa kali untuk membawakan sesi khusus mengenai pengenalan pisau kepada anak-anak dan kedepannya saya akana terus berusaha untuk mengembangkan materi-materi lain agar cakupan yang didapatkan akan semakin luas dan semakin banyak orang yang akan mengerti dan memahami konsep EDC itu sendiri.

Pengetahuan belumlah dapat disebut pengetahuan apabila belum disebarluaskan kepada orang-orang lain.

IMG-20180507-WA0038

IMG-20180507-WA0036

IMG-20180507-WA0028

IMG-20180507-WA0013

IMG-20180507-WA0015

IMG-20180507-WA0016

IMG-20180507-WA0010

Bilamana teman-teman tertarik mengenai sesi-sesi pengenalan EDC yang diberikan oleh EDC Indonesia, dapat langsung menghubungi saya di +62.813.1934.5506 atau email di roadrunners_yogi@yahoo.com

Advertisements

Writer : Muhammad Rasyad Bisma Wiratara 

HT01

Selamat pagi rekan-rekan EDC Indonesia, setelah beberapa waktu tidak mengirim tulisan ijinkan kali ini saya berbagi tulisan, yang pada akhirnya menjadi pelajaran bagi saya pribadi agar jangan minder dan jangan dengarkan perkataan miring orang lain mengenai peralatan / gear yang kita bawa dalam EDC harian. Kisah ini bagi saya pribadi menjadi titik balik / turning point  saya, mengenai kesadaran akan kesiapsiagaan sebagai dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum memulai lebih lanjut, izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Muhammad  Rasyad Bisma Wirata, biasa dipanggil Bisma, seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan  kelas 2.  Dalam keseharian saya selalu membawa peralatan EDC ringan seperti obat-obatan, Leatherman Micra dan senter di tas, bersama printilan lain. Namun, semenjak 5 bulan lalu ada satu gear yang saya tambahkan yaitu sebuah handheld transceiver atau biasa di sebut HT keluaran Alinco dengan seri DJ-W500. Beberapa komentar iseng dan miring sudah sering saya dengar, seperti  “Ngapain bawa HT?”, “Buat apa? Kayak satpam aja sih?”, dan masih banyak lagi, yang keluar dari teman-teman sekeliling saya.

HT03Gambar 1. Bagian depan HT

Bagian depan HT ini memiliki layar dan keypad, memudahkan kita untuk melihat dan menginput frekuensi yang kita kehendaki. Kenapa saya memilih HT seperti ini, karena tipe ini bukan tipe profesional yang mengharuskan input melalui komputer, mengingat saya adalah pengguna amatir yang menginginkan dapat melakukan perpinadahan frekuensi dimana saja tanpa harus bergantung pada komputer. Fungsi-fungsi dasar HT juga terdapat pada shortcut  dibagian keypad. Layar depan HT ini bisa menampilkan dua  frekuensi (digambar frekuensi sudah di save dan diberi nama) agar dalam situasi yang perlu standby pada 2 frekuensi dapat dilakukan.

HT04Gambar 2. Bagian kiri HT

Pada bagian kiri HT terdapat tombol PTT (fungsi transmisi) dan tombol untuk mengecek voltase baterai.

HT05Gambar 3. Bagian kanan HT

Pada bagian kanan HT terdapat slot untuk handsfree / ekstra microphone yang bertujuan untuk mempermudah penggunaan disaat kita membutuhkan mobilitas yang tanggi.

HT06Gambar 4. Bagian belakang HT

Sedangkan pada bagian belakang HT terdapat pocket clip yang kuat ( ini wajib, agar HT tidak terlepas). HT ini juga memiliki 2 knop rotari diatas , satu untuk volume dan satu lagi berfungsi sebagai memory switch.

Berikut ini saya akan coba berbagi sebuah pengalaman saya yang juga menjadi alasan kenapa saya yakin bahwa HT menjadi bagian penting dari EDC gear saya sehari-hari.

Pada 10 Maret 2018, saya diajak mendaki ke Gunung Panderman yang berlokasi di Batu, Jawa Timur. Saya beserta ketiga teman saya (salah satunya membawa HT juga) berangkat dari kota Malang dan dari awal memang memiliki niat untuk melakukan uji coba HT di gunung tersebut sembari berkemah. Kami berangkat pada pukul 22.00  WIB dan tiba di sana pada pukul 23.30 WIB. Setelah melakukan registrasi, naiklah kami dengan tujuan Latar Ombo sebagai titik dimana kami dapat berkemah. Pendakian relatif sedikit licin karena hujan yang mengguyur. Pada saat kami tiba di Latar Ombo, salah satu adik kelas yang sudah berangkat lebih dulu melaporkan ke kami mereka menemukan satu penyintas di salah satu jalur sebelum Latar Ombo. Saat kami temukan, pria itu  dalam kondisi basah dan tanpa alas kaki dan tanpa tas. Rupanya dia adalah solo hiker, berangkat dari sore namun  di tengah trek dia tersesat dan terkena hujan, tergelincir jatuh dan mengalami memar serta luka. Tas carriernya tertinggal di jalur pendakian dan pada saat ditemukan hanya membawa tas slempang.

Mengingat kondisinya yang sedikit memprihatikan, kami pun segera memasang tenda, memasak air sembari mencoba menstabilkan kondisi korban dan bertanya mengenai kejadin sesungguhnya. Setalah bertanya dan melihat kondisi korban, dugaan awal kami korban menderita Hipotermia, yang artinya membutuhkan perawatan lebih lanjut. Kamipun segera coba mengontak nomor yang ada di tiket registrasi, yang ternyata  adalah nomor PERHUTANI dan tidak dapat dihubungi. Tak putus asa, saya keluarkan HT saya dan coba mengontak frekuensi RJT Kota Malang yang diterima Mas Dandi Widhi. Ternyata karena kami berada di Batu rekan rekan RJT tidak dapat mengkondisikan, maklum saat mengkontak kami lupa menyebutkan lokasi di Batu (karena panik mungkin), setelah itu kami mencoba frekuensi RAPI lokal daerah Batu yang diterima dengan baik biarpun kami tidak menggunakan 10 kodenya RAPI, tapi sedikit kode bisa saya pahami yang menanyakan identitas saya sebagai operator.

Setelah identtitas kami dan penyintas jelas kami diberi kabar bahwa rekan BPBD Kota Batu yang dipimpin oleh Ockta Hero akan segera meluncur ke lokasi kami berkemah. Hati kami lega mendapatkan kabar tersebut. Setelah beberapa waktu menunggu, rekan-rekan BPBD datang (sejumlah 9 personel) dan langsung melakukan pengecekan kondisi korban dan melakukan penanganan dan kemudian pada pukul 02.00WIB korban di bawa kembali untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Kami sangat berterima kasih kepada RAPI dan BPBD Kota Batu atas responnya yang sangat cepat.

HT07

Berkaca dari kejadian tersebut, saya sangat bersyukur membawa HT pada saat itu dan memahami harus mengkomunikasikan berita kejadian dan siapa yang harus dihubungi pada saat terdesak. Bisa dibilang satu nyawa telah terselamatkan dari HT Alinco hitam ini. Teman-teman seregu saya juga lega dan banyak bersyukur dapat membantu sesama. Semenjak itu tidak ada keraguan saya dalam membawa HT ini dan ingin segera memiliki ijin resmi agar semakin legal dan nyaman dalam menggunakan jalur komunikasi ini.

Terimakasih banyak rekan rekan RJT Kota Malang untuk kesediaan frekuensinya darurat di wilayah Kota Malang (Mas Dandi Widhi), Besar harapan saya bisa saling membantu sesama seperti rekan RJT (hehehe). Rasa salut juga saya berikan kepada rekan BPBD Kota Batu (Om Ockta Hero) dan rekan RAPI se Nusantara khususnya kota Batu atas frekuensi dan bantuan hubungan ke BPBD.

HT08Penulis

Spesifikasi Teknis Alinco DJ-W500

General
Frequency range: [T: TX] 144 – 148MHz, 420 – 450MHz
[T: RX] 136 – 174MHz, 400 – 480MHz
Modulation: F3E (FM)
Frequency step: 2.5, 5, 6.25, 8.33, 10, 12.5, 20, 25, 30 and 50KHz
Memory channel: 200 memory channels in total
Antenna impedance: 50ohm unbalanced
Frequency stability: +/- 2.5ppm
Supply voltage: DC 7.4V (Battery)
Current consumption: 1400mA TX / 300mA receive at Max audio output
70mA squelched
Battery-save ON: average 27mA
Temperature range: Unit -20 ~ +55digC (-4 ~ 131digF)
Battery packs: -10digC to +45digC (+14 to +113digF)
Dimensions: 59.0W~98.0H~35.0D mm or 2.32W~3.86H~1.38D inches w/o projection
Weight: Approx.227g or 8.01oz inclusive of battery pack and antenna
Transmitter
Power Output:
(Approx.value)
Approx.5 / 2.5 / 1W
Modulation: Variable reactance FM
Spurious emission: -60dB or less
Max. deviation: FM : +/- 5KHz NFM: +/- 2.5KHz
Receiver
System: Direct-conversion
Sensitivity: Wide -12dBu / Narrow -9dBu
Intermediate frequency: 1st IF 38.85MHz, 2nd IF 450 KHz
Selectivity: -6dB : Wide 12kHz /Narrow 10kHz or more
-60dB :Wide 30kHz / Narrow 24kHz or less
AF output: 1W (10% distortion)

 

 

Forging For Dummies

Posted: April 23, 2018 in Article, Knife, Pengenalan EDC

20180423_201555

Source : Cornelius Rusandhy , Writer : Yogi Mahendra

Kepada teman-teman pembaca setia blog ini pasti pernah mengingat salah satu tulisan saya pada beberapa tahun lalu, Knives For Dummies. Nah, kali ini sebagai kelanjutannya saya akan mencoba untuk mengulas sedikit mengenai proses penempaan pisau, atau dengan biasa juga disebut forging. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bro Cornelius yang menyempatkan waktunya menjadi narasumber dan mempraktekkan dasar-dasar penempaan agar saya dapat dengan mudah mengerti materi yang akan saya jabarkan di bawah ini. Harap diingat, materi yang saya jabarkan di bawah ini adalah garis besar agar para pemula dapat mengerti istilah dan konsep dasar penempaan pisau. DIbutuhkan pembelajaran lebih lanjut agar dapat mengerti lebih detail proses pembuatan pisau dan karakteristik baja itu sendiri.

Secara garis besar teknik forging atau penempaan terbagi atas 2, yaitu :

  1. Stock Removal

= Pembuatan pisau dengan metode pemotongan, grinding tanpa melalui proses tempa pada umumnya. Biasanya bahan yang digunakan sudah berbentuk plat yang sesuai dengan ukuran pisau dan langsung di gambar dan kemudian dipotong sesuai bentuk designnya.

  1. Forging / penempaan

= Proses pembuatan pisau dengan menggunaka suhu panas dan dibentuk melalui beberapa proses penempaan yang akan dujelaskan lebih lanjut dibawah ini.

20180423_202117

Istilah-istilah umum pada penempaan (beberapa istilah yang berkaitan dapat ditemukan di tulisan Knives For Dummies) :

  1. Heat Treatment atau HT : adalah proses pemanasan pada baja untuk mendapatkan struktur atom yang kita inginkan.
  • Anilling : proses mengembalikan kondisi baja kepada kondisi terempuk untuk mempermudah pembentukan dalam proses dingin (gerinda, bor, kikir, dll)
  • Normalizing : proses mengembalikan struktur baja pada kondisi stabil dan merata. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terjadinya warping (pembengkokan).
  • Hardening : proses pengerasan pada baja dengan merubah struktur.
  • Quenching / penyepuhan : proses pendinginan mendadak dari suhu tinggi yang dicapai pada proses hardening untuk menghasilkan struktur terkeras yang bisa dihasilkan sebuah baja.
  • Tempering : proses yang dilakukan dengan menggunakan suhu panas untuk menurunkan kekerasan dan menambah ‘keuletan’ baja.
  1. Profile Forging : proses pembentukan material menjadi bentuk yang kita inginkan
  2. Bevel Forging : penempaan pada mata bilah untuk mendapatkan sudut bevel yang kita inginkan
  3. Hardness Rockwell : satuan kekerasan yang umumnya digunakan pada logam. Ada beberapa skala yang biasa digunakan yaitu :
  • HRA : dulunya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam non-ferrum
  • HRB : biasanya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam dengan kandungan ferrum
  • HRC : umumnya digunakan untuk mengukur kekerasan material pada bahan bahan baja atau Ferrum-Carbon
  1. Anvil : landasan tempa
  2. Tongs / Capit : alat bantu untuk ‘memegang’ material yang akan di tempa. Harap dingat, bahwa pemilihan capit yang tepat dan cara memegang yang benar amat penting diperhatikan karena cara memegang yang tidak tepat dan capit yang kurang baik dapat menyebabkan baja yang akan di tempa dapat terlepas dengan mudah dan akan membahayakan penempa dan orang-orang disekitarnya.
  3. Forge / Tungku : alat yang digunakan untuk memanaskan logam. Secara garis besar berdasarkan bahan bakar atau sumber energy yang digunakan tungku terbagi 3 :
  • Solid Fuel Forge : tungku dengan bahan bakar seperti arang, batu bara, bricket, dll. Ketelitian dibutuhkan dikarenakan bahan bakar ini memiliki tingkat panas yang sulit dikendalikan.
  • Gas Forge : tungku yang menggunakan bahan bakar gas seperti Propane, Butane atau campuran. Kelebihannya adalah pengaturan panas lebih mudah dan material yang dihasilkan lebih ‘bersih’ tanpa terlalu banyak kerak.
  • Electric Forge : Tungku yang menggunakan bahan bakar listrik. Kelebihannya adalah konsumsi panas yang lebih merata namun tidak efisien karena membutuhkan daya yang amat besar.

20180423_213228

Untuk Quenching, material yang umum digunakan secara garis besar terbagi 3 :

  1. Udara, merupakan media yang paling lambat dalam melakukan proses pendinginan. Berdasarkan tekanannya udara terbagi dua :
  • Udara bebas / suhu ruangan
  • Udara bertekanan tinggi
  1. Minyak (oil), berdasarkan cooling rate, flash point dan viskositasnya minyak terbagi 2 jenis (Semakin kental minyak, semakin lambat proses pendinginannya) :
  • Slow oil
  • Medium oil
  • Fast oil
  1. Air, media tercepat dibandingkan media lainnya dalam melakukan proses pendinginan. Bedasarkan kandungannya air terbagi tiga :
  • Air asin
  • Air yang mengandung ion
  • Air yang ditambahkan dengan campuran lain seperti cornstarch agar tidak terlalu cair dan menghindarkan perubahan suhu yang ekstrim dalam proses pendinginan.

20180423_213603

Material yang umum digunakan pada proses pembuatan pisau (Notes : untuk proses penempaan pisau, baja yang digunakan harus memiliki kandungan Carbon diatas 0.25%, yang berguna untutk mingkatkan kekerasan dan kekuatan pada baja tersebut hingga mampu di ‘dikeraskan’ pada saat proses heat treatmenthardening. Namun kandungan Carbon yang terlalu tinggi atau diatas 1.5% dapat menyebabkan baja menjadi sangat ‘getas’, oleh karena itu untuk jenis High Alloy Steel yang memiliki kandungan Carbon tinggi harus diseimbangkan dengan kandungan-kandungan alloy lainnya seperti Silicone, Nickel atau Chromium.) :

  1. Spring steel / baja per: ideal karena mudah dikerjakan (proses penempaan lebih mudah, termasuk proses HT), mudah didapat dengan harga yang relatif murah dan memiliki tingkat toughness yang lebih baik sehingga tidak mudah patah dan memiliki level hardness yang cukup untuk mempertahankan ketajaman. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.35% sampai 0.9%.
  2. Tool steel : contoh material ini adalah kikir, O1, dll. Kelebihan dari material ini adalah dapat mencapai kekerasan / edge retention diatas spring steel pada umumnya, namun lebih mudah berkarat. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.75% sampai 1.1%.
  3. Dies Steel : contoh material ini adalah D2, alat pemotong pada industri kertas, dll. Kelebihannya adalah umumnya lebih tahan karat dan memiliki kekerasan yang tinggi. Adapun kekurangannya adalah toughness yang tidak sebaik spring steel dan tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 1% sampai dengan 2%.
  4. Ball Bearing Steel : memiliki karakter yang hampir sama dengan tool steel, dengan ketahanan karat yang lebih baik daripada tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.8% sampai 1.5%.
  5. Stainless Martensitic Steel : contoh material ini adalah 440C (atau bisa didapatkan pada bearing stainless steel yang biasa digunakan pada industri maritim). Varian dari Stainless Steel yang dapat dikeraskan melalui proses heat treatment. Kelebihannya adalah lebih tahan karat. Umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 1%.
  6. High alloy steel : Biasanya digunakan sebagai bahan untuk pisau premium, control material ini adalah CPM S30V, Elmax, de el el. Dapat mencapai kekerasan yang tinggi dan umumnya lebih tahan terhadap karat. Kekurangannya adalah, mahal, susah didapat dan poses penempaannya membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap karakter masing-masing baja tersebut. Kandungan Carbon umumnya diatas 0.7%
  7. Nickel steel : contoh material ini adalah mata chainsaw dan bensaw. Memiliki karakter lebih tangguh, namun memiliki edge retention yang tidak sebaik tool steel. Nickel steel yang digunakan untuk menjadi bahan pembuatan pisau harus umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 0.5%, namun harus memiliki kandungan Nickel diatas 1%.

20180423_201905

Beberapa material handle yang umum digunakan (Notes : belum ada aturan baku antara hubungan material baja, jenis pisau yang akan ditempa dan jenis handle yang digunakan. Pada akhirnya ini lebih kepada preferensi masing-masing) :

  1. Kayu
  2. Tulang
  3. Tanduk
  4. Plastic Engineering : G10, micarta, UHMW, CF
  5. Resin Based

20180423_201819

Alur proses penempaan :

  1. Designing : proses pembuatan design pisau, dari proses gambar hingga pembuatan ‘mal’ pembantu.
  2. Profile Forging : proses penempaan untuk mendapatkan bentuk kasar pisau sesuai dengan design yang diinginkan

20180423_202208

  1. Normalizing
  2. Rough Grinding / Beveling : Untuk merapikan dan memperoleh bentuk dasar pisau
  • Profile grinding : Untuk memperoleh profile sesuai design yang diinginkan
  • Bevel grinding : Untuk memperoleh bentuk dasar bevel.

20180423_202337

  1. Hardening
  2. Quenching
  3. Final Grinding

20180423_202425

  1. Hand sanding
  2. Pembuatan gagang
  3. Finishing

20180423_202504

Pada akhirnya yang terbaik untuk dapat mengerti proses secara keseluruhan adalah melakukan praktik dan memahami proses tersebut secara langsung. Anyway, mohon abaikan orang yang menjadi model dalam foto-foto di tulisan ini.. hehehehehe

Persistence is to the character of man as carbon to steel – Napoleon Hill

Sebagai bagian dari upaya mengkampanyekan EDC sebagai bagian dari gaya hidup, dan menciptakan media yang mudah diterima oleh masyarakat, maka kami mencoba memindahkan beberapa tulisan yang pernah di muat kedalam blog ini ke dalam bentuk infografis yang lebih simple, berwarna dan mudah di aplikasikan ke dalam media cetak.

Kesempatan untuk mencoba media baru ini datang manakala EDC Indonesia mendapat kesempatan untuk membuka booth edukasi pada Gathering Nasional Indonesian Blades di Gedong Songo Semarang, 14 – 15 April 2018 lalu.

Melihat animo dan permintaan dari teman-teman pada acara tersebut, maka kami akan membagi infografis yang telah kami buat agar dapat disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih besar.

Pengenalan Pisau kepada Anak-anak

Untitled-1

First Aid Kit

Untitled-1

Bug Out Bag

Untitled-2

Kamipun memberikan kesempatan bagi teman-teman yang ingin memperbanyak infografis ini dalam bentuk hard copy selama tidak menghilangkan logo EDC Indonesia karena bagaimanapun ini merupakan kekayaan intelektual bagi kami, admin EDC Indonesia. Salam 🙂

Telapak Kaki dan Sepatu

Posted: August 13, 2017 in Article, Pengenalan EDC
Tags:

Setelah sekian lama ‘tidur’ akhirnya saya kembali mencoba untuk memberikan tambahan materi pada blog ini… Terima kasih kepada teman-teman, yang rajin mengingatkan dan menyindir-nyindir agar saya kembali menampilkan artikel…hehehehehehe..

Untuk kali ini saya akan mencoba mengulas tentang sepatu. Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang seringkali kebingungan pada saat akan memilih sepatu. Membeli langsung, kebingungan untuk memilih sepatu yang tepat, mencoba membeli online, tetap kebingungan karena selain banyaknya pilihan, juga pada istilah-istilah yang digunakan pada uraian spesifikasinya . Saya menyadari bahwa materi yang akan saya uraikan berikut ini belum terlalu lengkap karena (ternyata!! :)) banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari. Tapi setidaknya ini dapat sedikit membantu teman-teman kedepannya.

Sebagai awalan mungkin kita dapat melihat seperti apa bentuk anatomi telapak kaki teman-teman untuk kemudian dapat menentukan tipe sepatu seperti apa yang tepat. Harap diingat, telapak kaki kita menahan beban tubuh selama kita melangkah ataupun berlari, membentuk mekanisme penahan guncangan dan mekanisme penyeimbang agar kita dapat tetap berdiri tegak. Oleh karena itu amat sangat penting untuk dapat menjaga bagian ini agar tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara garis besar, ada tiga jenis istilah/kondisi yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan telapak kaki pada saat digunakan untuk berdiri atau melangkah dan berlari :

  1. Pronation / Eversion

Ini untuk menggambarkan kondisi normal telapak kaki pada saat digunakan untuk melangkah, dimana beban tubuh dibagi rata keseluruh jari kaki, dengan sedikit tambahan beban pada ibu jari dan telunjuk, yang memang dapat menampung beban lebih dibandingkan jari-jari lainnya.

  1. Overpronation

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah seluruh berat beban tubuh hanya di tumpukan pada ibu jari dan telunjuk, sehingga pergelangan kaki mengalami kesulitan untuk dapat mengatur keseimbangan. Pada kasus yang parah dimana telapak kaki rata menyebabkan tertariknya otot, urat dan ligament yang ada di telapak kaki. Untuk orang-orang yang cenderung bergerak seperti ini atau umumnya orang-orang yang memiliki telapak kaki rata disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi motion control, dimana sepatu jenis ini didesain untuk dapat mengurangi dan mengontrol efek dari gerakan kaki yang bergerak terlalu kedalam. Jenis sepatu ini biasanya lebih berat dan lebih kaku, namun lebih tahan lama. Pada kasus telapak kaki rata juga disarankan memakai orthotic atau insole yang dirancang khusus untuk dapat memperbaiki bentuk telapak kaki.

  1. Supination

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah beban tubuh ditumpukan pada kelingking dan jari manis kaki yang secara struktur tidak kuat untuk menahan beban sedemikian besar dan mengakibatkan tegangan berlebihan pada otot dan urat yang ada pada pergelangan kaki dan mata kaki. Pada kasus yang yang parah atau kejadian dimana kita salah dalam melangkah dan melakukan gerakan ini secara mendadak dapat mengakibatkan terkilir atau patah pergelangan kaki. Untuk orang-orang yang memang cenderung mengalami pergerakan seperti ini, atau memiliki telapak kaki yang tinggi (telapak kaki melengkung), disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi cushioned, atau sepatu yang memiliki bantalan tinggi pada bagian insole nya yang memang di desain untuk meredam benturan antara kaki dengan lantai/tanah pada saat melangkah atau berlari.

Untuk dapat melihat bentuk telapak kaki melalui pertipisan pada sol sepatu dan bentuk telapak kaki teman-teman dapat mengacu pada gambar di bawah ini:

Telapak Kaki

Telapak Sepatu

Ilustrasi oleh : Bugsy Kepik

Tips untuk memilih sepatu yang tepat :

  1. Identifikasi akan jenis sepatu yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas teman-teman:
  • Hiking : Untuk jenis ini sebaiknya memilih sepatu jenis boot yang tidak terlalu tinggi, mungkin 5 atau 6 inci dengan bahan upper yang kokoh, traction sole atau daya cengkeram sol dengan tanah yang kuat dan pendukung pergelangan kaki yang baik.
  • Kegiatan alam bebas di suhu yang rendah atau cenderung basah : untuk jenis ini dapat memilih sepatu yang memiliki traction sole yang baik, memiliki insulasi udara dan bahan luarnya tidak mudah tertembus air, seperti Gore-tex Bila sepatu yang memiliki insulasi terlalu panas untuk dipakai pada saat biasa, mungkin dapat memilih sepatu yang berukuran lebih besar sehingga pada saat udara dingin dapat memakai lebih dari satu pasang kaus kaki namun bila udara panas dapat dengan mudah disesuaikan.
  • Sepatu olah raga : Salah satu jenis sepatu yang amat banyak model dan jenisnya, mulai dari sepatu untuk lari, basket, sepak bola, dll. Untuk jenis ini mungkin dapat dikonsultasikan dengan pemilik toko atau petugasnya pada saat teman-teman akan memilih sepatu.
  • Sepatu kerja ataupun sepatu pesta : Disini, seringkali model sepatu yang menjadi pilihan utama tetapi harap diingat bentuk telapak kaki teman-teman, seberapa sering digunakan untuk melangkah dan berjalan dan harus tetap nyaman dipakai.
  1. Pertimbangkan kondisi telapak kaki teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas.
  2. Semakin banyak support yang ada pada sepasang sepatu (arch support, insulated, steel toe, dll), maka akan semakin berat pula sepatu tersebut. Bila anda banyak berjalan atau berlari pada kondisi alam yang ringan, sebaiknya memilih sepatu yang ringan agar dapat mengurangi beban pada kaki.
  3. Sebaiknya membeli sepatu pada saat sore atau malam hari, karena telapak kaki agak membesar pada saat siang hari yang panas.
  4. Gunakan kaus kaki yang akan dipergunakan pada sepatu tersebut nantinya pada saat mecoba sepatu.
  5. Selalu mengukur sepatu pada saat akan membeli sepatu. Ukuran telapak kaki berubah, walaupun tidak secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia. Pada kasus dimana ukuran kaki yang kiri berbeda dengan yang kanan, belilah sepatu dengan ukuran yang berbeda pula.
  6. Berdiri pada saat mencoba sepatu, tekan ringan ujung jari terjauh di kaki (biasanya antara ibu jari atau telunjuk). Sebaiknya ada jarak sekitar 1 cm antara ujung jari terjauh dengan ujung sepatu, agar memberikan ruang pada jari kaki pada saat melangkah. Coba gerakkan jari-jari kaki untu dapat merasakan bahwa jari kaki memiliki ruang yang tepat dan tidak terlalu ketat.
  7. Coba berjalan dengan sepatu tersebut. Rasakan, apakah terlalu sempit, pas atau terlalu besar? Apakah tumit dan mata kaki nyaman saat melangkah? Jangan selalu berasumsi bahwa sepatu selalu membutuhkan masa ‘broken in’ atau masa agar sepatu menjadi nyaman untuk dipakai. Sepatu harus sudah nyaman sejak saat dibeli.
  8. Pilihlah sepatu yang benar-benar nyaman untuk teman-teman, jangan hanya melihat ukuran dan spesifikasi sepatu tersebut. Setiap pabrik memiliki ukuran sepatu yang berbeda-beda. Ukuran satu merk belum tentu sama dengan merk lainnya. Jangan termakan iklan teman-teman.. 🙂
  9. Perhatikan lebar sepatu, agar memberikan kenyamanan pada mata kaki dan telapak kaki. Membeli sepatu dengan ukuran lebih besar tidak menyelesaikan masalah, karena telapak kaki justru akan mudah ‘tergelincir’ pada saat digunakan.
  10. Rasakan bagian dalam sepatu, apakah ‘tag’, jahitan maupun material sepatunya dapat membuat teman-teman tidak nyaman.
  11. Perhatikan sol sepatunya, beli sesuai kebutuhan teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas. Coba berjalan di lantai yang keras dan kemudian di permukaan yang lembut seperti karpet untuk dapat merasakan bedanya.

 

Beberapa istilah-istilah umum pada sepatu:

  1. Aglet : Ujung plastik pada tali sepatu, untuk memudahkan kita pada saat memasukkan tali sepatu kedalam lubang sepatu /
  2. Ankle Strap : Tali pengikat yang ada dibelakang sepatu dan melingkari pergelangan kaki. Biasanya memiliki buckle / pengikat yang dapat disesuaikan ukurannya.
  3. Arch : Bagian melengkung pada sol sepatu antara bantalan telapak kaki bagian depan dan tumit. Istilah ini juga merujuk pada bagian yang menonjol pada insole sepatu yang berfungsi untuk menunjang bagian tersebut.
  4. Back Seam : Jahitan tegak lurus pada bagian belakang sepatu
  5. Ball : Bagian telapak kaki antara ibu jari kaki dan lengkungan bagian dalam telapak / arch.
  6. Bellows Tongue : Lidah sepatu yang dijahitkan / menempel pada sisi depan atau samping dari sepatu. Juga berfungsi untuk menutup bagian atas sepatu agar tidak mudah kemasukan air.
  7. Boot Heel : Biasanya ditemukan pada sepatu model bot, dimana pada bagian tumit terdapat heel yang lebar, stabil namun tidak terlalu tinggi.
  8. Braided Thread : Model alur jahitan, dimana seluruh lapisan di jalin bersama-sama, tidah hanya dipilin sehingga lapisan-lapisan bahan memiliki daya perlekatan yang lebih baik.
  9. Brannock Device : Alat yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar sepatu agar mendapatkan sepatu yang benar-benar sesuai dengan ukuran.
  10. Burnish : Proses memoles kulit pada sepatu untuk mendapatkan kesan
  11. Cemented Construction : Konstruksi sepatu dimana bagian atas dari sepatu direkatkan langsung ke bagian sol sepatu, bukan di jahitkan seperti pada umumnya. Kelebihan model seperti ini adalah sepatu menjadi lebih elastis, lentur dan ringan.
  12. Collar : Bagian atas dari belakang sepatu bot, biasanya posisinya diatas tumit, memiliki bantalan untuk melindungi bagian tersebut dan memberikan kenyamanan.
  13. Contoured Footbed : Insole atau pelapis yang berada pada bagian dalam sepatu di cetak mengikuti bentuk sepatu.
  14. Dri – Lex : Konfigurasi dua lapis dari Hydrofill, dimana nylon fiber yang berfungsi sebagai penyerap kelembaban sebagai lapisan dalam dan lapisan pelindung kelembaban di jahit menjadi satu.
  15. Dual Density Midsole : Biasanya ditemukan pada model sepatu lari, dimana midsole menggunakan dua bantalan busa yang memiliki kepadatan yang berbeda dengan bantalan yang sedikit lebih tebal dibagian kaki yang lebih sering bergesek dengan permukaan.
  16. Elastic Gore : Panel elastis yang di masukkan kedalam sepatu untuk memberikan daya renggang yang baik.
  17. Energy Return : Biasanya ditemukan pada sepatu lari, ini adalah respon yang diberikan segera setalah sepatu beradu dengan permukaan tanah, dimana ‘dorongan’ otomatis diberikan untuk menciptakan langkah atau gerak yang efektif.
  18. V.A : Ethylene Vinyl Acetate, komposisi sintetik yang biasanya digunakan untuk outsole. E.V.A merupakan salah satu bantalan sol yang baik dan mudah dibentuk dengan proses yang menggunakan panas atau tekanan.
  19. Eyelet : Lubang untuk memasukkan tali sepatu.
  20. Fiberboard : Material sepatu yang biasanya terbuat dari bubur kayu, biasanya digunakan di telapak bagian depan atau untuk menaikkan posisi tumit (pada sepatu yang memiliki hak tinggi).
  21. Flat Heel : Sepatu yang memiliki tapak yang rata.
  22. Foxing : Strip karet yang menghubungkan bagian atas dan sol sepatu. Biasanya ditemukan pada sepatu model sneaker berbahan kanvas.
  23. Gore : Panel elastis yang biasanya berada pada bagian depan sepatu, untuk memudahkan memakai dan membuka sepatu.
  24. Heel : Bisa mengacu pada hak sepatu atau bagian belakang dari sepatu pada posisi tumit.
  25. Heel Counter : Bagian lebar pada hak sepatu, yang berfungsi untuk menahan benturan pada bagian tumit pada saat menggunakan sepatu yang memiliki hak.
  26. Hidden Gore : Panel elastis pada bagian depan sepatu yang biasanya tertutup oleh lidah sepatu. Berfungsi untuk memberikan kenyamanan pada sepatu.
  27. Injection Molded Construction : Tipe konstruksi sol sepatu dimana sol dibuat dengan cara menginjeksikan PVC cair atau material sejenis pada cetakan sol sepatu. Sering digunakan pada sepatu yang diproduksi dalam jumlah banyak karena tingkat efisiensinya.
  28. Insole : Bagian dalam sepatu dimana bagian bawah telapak kaki bertemu dengan dasar sepatu.
  29. Laces : Tali sepatu
  30. Lining : Material yang merupakan bagian dalam sepatu. Ada berbagai macam material yang biasanya digunakan sebagai lining, dengan masing-masing kelebihan dan keurangannya. Kulit misalnya, sangat nyaman dan lebih dingin bila digunakan, tetapi lebih lama kering bila basah, Goretex® merupakan bahan dengan tingkat water resistant yang amat baik, tetapi agak panas bila digunakan pada lokasi beriklim tropis.
  31. Mid-sole : Bagian antara sol bagian bawah dengan insole, merupakan bantalan pelapis antara sol dan insole dan berfungsi sebagai ‘penyerap’ benturan.
  32. Polyurethane : Biasa disingkat sebagai PU, merupakan material buatan yang memiliki bentuk dan kontur persis seperti kulit.
  33. Polyvynil Chloride : Biasa disingkat sebagai PVC, bahan plastic-metal yang agak kaku, biasa dipakai sebagai atasan hak sepatu yang tinggi dan pelapis sol bagian bawah untuk memberikan support yang lebih.
  34. Thermoplastic Rubber : (TPR) Material plastik yang oleh banyak perusahaan biasanya digunakan sebagai bahan dalam proses injection molding.
  35. Thermoplastic Urethane : (TPU) Material plastik yang biasa digunakan sebagai support pada bagian pinggir sepatu, biasanya digunakan pada sepatu lari.
  36. Toe Ridge : Cekungan horizontal pada telapak sepatu yang digunakan sebagai ‘dudukan’ pada jari dan juga berfungsi untuk peredam benturan. Biasanya ditemukan pada sandal.
  37. Vibram : Bahan yang digunakan sebagai bagian bawah telapak sepatu karena ketahanan, tidak licin saat digunakan, biasanya digunakan pasa sepatu untuk tracking atau hiking . Merupakan merk terdaftar dari Vibram S.P.A.
  38. Vulcanizing : Proses penyatuan sol thermoplastic atau karet dengan bagian sepatu dengan menggunakan panas.

 

* Bahan diambil dari berbagai sumber.

Posted By : Reza Fahlevi Sam (Pemenang Artikel Terbaik Bulan Oktober 2014)

IMG_9411

Assalamualaikum Wr. Wb., salam sejahtera bagi kita semua,

Every Day Carry atau biasa dikenal dengan EDC, baru memasuki hidup saya selama 2 tahun terakhir ini. EDC dapat dimaksudkan sebagai barang yang dibawa setiap hari, untuk konsep penggunaan EDC sudah banyak dibahas sedulur-sedulur di sini, dapat diartikan secara garis besar untuk membantu kegiatan kita setiap harinya.

Secara tidak sadar dan tidak langsung, saat ini konsep EDC terpaku pada 2 hal, yaitu size (ukuran) yang kecil dan price (harga) yang mahal. Konsep ini tidak salah, mengenai ukuran yang kecil memudahkan kita membawanya. Sedangkan jika kita berbicara harga, ada pepatah mengatakan “ada harga ada rupa”, konsep ini juga tidak salah. Jika sedulur-sedulur di mari belum pernah mengalaminya secara langsung tentang pepatah ini, bisa dilihat pada cuplikan di film 127 Hours.

IMG_9411 copy

Saya bukan salah satu orang yang berdompet tebal, maka dari itu saya harus mencari-cari EDC yang tepat dan bagus untuk saya pribadi. EDC pertama saya saat itu adalah pisau lipat berbentuk gantungan kunci seharga Rp 7.000 (sekitar 8 tahun yang lalu). Pepatah “ada harga ada rupa” saya alami untuk pertama kalinya, pisau patah saat saya membongkar mainan adik sepupu saya. Setelah itu EDC saya masuk ke pisau buatan replika (di saat masih awam, pisau berharga mahal masih saya anggap gak bener, gila aja pisau seharga ratusan ribu, akhirnya yang terjangkau ya pisau replika). Selama beberapa bulan, sedikit terasa melelahkan mulai dari size, fungsional, dan maintenance.

Akhirnya saya menemukan Ganzo G711 (thanks Mas Sigit buat group buy nya). Menurut saya pisau ini berukuran pas buat tangan saya, multi grip nya nyaman, bentuk blade nya cantik, dan kualitasnya bagus. Ganzo saya dapat dengan harga Rp 230.000 selanjutnya menjadi pisau andalan saya sebelum bertemu Spyderco Pingo, si kecil imut yang berbentuk tidak intimidatif. Ketika memakai Spyderco Pingo pun tidak takut mengeluarkannya karena efek bentuk yang imut.

CameraZOOM-20130905122702108

Untitled-1

Apakah Ganzo saya terbengkalai? Tidak, Ganzo menjadi primadona saya saat naik gunung. Kalau ditanya kenapa tidak memakai pisau-pisau seperti Spyderco, Benchmade, Enzo, Lionsteel atau yang lainnya karena faktor kebutuhan. Menurut saya Ganzo sudah memenuhi kebutuhan, mulai dari tebal  blade yang bisa digunakan sedikit agak berat walau belum bisa dikatakan linggis, dan tidak mempersulit untuk pekerjaan yang bersifat ringan.

IMG_9417

EDC saya yang lainya yaitu senter. Senter yang saya gunakan yaitu senter Ultrafire C3 SS AAA, 3 mode, waterproof dimana sangat bermanfaat disaat turun gunung malam dan turun hujan. Senter ini terbilang murah dengan harga Rp 180.000.

Jam tangan G-shock DW-6600 yang sangat berguna setiap saat untuk menunjukan waktu. Harga Rp – (given by my brother).

EDC selanjutnya survival whistle (peluit) yang bisa saya gunakan ketika terpisah dari rombongan seharga Rp 35.000.

Carabiner Eiger seharga Rp 12.500 dengan spec not for climbing karena tidak butuh mengangkut beban sampai berkilo-kilo.

Paracord dengan panjang 3 meter yang bisa digunakan untuk menarik motor teman yang mogok, cukup didapat dengan harga Rp 20.000.

Leatherman Fuse dengan harga Rp 500.000 (banyak gigi terselamatkan oleh bukaan botol LM, banyak mur kendor menjadi kencang atau sebaliknya oleh obeng si LM, gunting kecilnya sangat membantu untuk membuka plastik makanan, pisau di LM menjadi backup untuk Spyderco Pingo di saat membutuhkan pisau yang menggunakan locking).

Lakban, barang bisa direkatkan dengan bantuan lakban, mulai dari menambal kabel terkelupas, menambal jas hujan, dll saya dapat dengan harga Rp 5.000.

Spyderco Pingo bisa digunakan untuk jenis pekerjaan ringan mulai dari memotong rafia, membuka paket, atau bahkan memotong daun pisang, dll seharga Rp 750.000.

 

Edited by: Yogi Mahendra

Logo EDC Indonesia

Posted: September 17, 2014 in Article, Pengenalan EDC

IMG_20140612_100509

Beberapa teman pernah bertanya pada saya, kenapa memilih logo lebah yang rada-rada ngga jelas ini (hehehehe….) sebagai logo EDC-iD. Kenapa tidak memilih gambar multitools, pisau atau senter sebagai logo seperti blog, facebook group atau web yg bertemakan EDC pada umumnya.

Maka kali ini akan saya jelaskan secara singkat filosofi dari logo ini.

Lebah sendiri adalah binatang yang menakjubkan, sampai salah satu agama mempunyai ayat khusus yg menjelaskan betapa bergunanya mahluk ini. Bahkan ada kepercayaan bahwa salah satu tanda-tanda akhir jaman dimulai dengan punahnya lebah dari muka bumi. Bagaimana tidak, tubuhnya adalah salah satu contoh ‘multitools‘ hidup yang pernah ada, dari membuat madu, membantu proses penyerbukan, sebagai metode pengobatan, bahkan dapat menjadi alat membela dirinya sendiri yg menjadikan lebah amat dibutuhkan dan (bagi sebagian orang) juga ditakuti (termasuk oleh saya yang pernah merasakan 4 sengatan sekaligus.. hehehe).

Roda gear yg digambarkan menjadi tubuh lebah menjadi simbol peralatan dan alat bantu yang selalu dimiliki manusia sejak jaman prasejarah. Seperti diingat, sejarah manusia mulai berkembang pesat semenjak manusia mulai memikirkan penggunaan alat bantu dalam kehidupan sehari-hari, untuk menutupi kelemahannya dalam bertahan hidup bila dibandingkan mahluk-mahluk lain yg hidup di muka bumi.

Jadi secara keseluruhan, logo ini saya anggap sebagai jawaban filosofis dr konsep EDC itu sendiri. Bisa jadi salah menurut orang lain. Tapi seperti pernah saya tulis di artikel saya yang lain, ini adalah pendapat pribadi saya yang diharapkan dapat dimengerti oleh teman-teman semuanya.. 🙂

EDC 101 Version 1.0

Posted: September 15, 2014 in Article, Pengenalan EDC
Tags:

IMG_20140720_085329

 

Suatu kebanggan, saat ini sudah mulai banyak orang yang ‘melek’ akan konsep dan istilah Every Day Carry atau biasa disingkat EDC dan mengaplikasikannya pada keseharian masing-masing. Tetapi seringkali timbul pertanyaan, seperti apa sih konsep EDC yang ideal? Apakah peralatan atau tools standard yang wajb dibawa?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengacu pada definisi EDC itu sendiri. Bila teman-teman membuka laman Wikipedia, disitu dapat ditemukan definisi EDC, yang akan saya coba sadur dan terjemahkan disini:

“Every Day Carry refers to a small collections of tools, equipment, and supplies that are carried on a daily basis to assist in tackling situations ranging from mundane to disastrous. The terms EDC also refer to the philosophy or spirit of ‘preparedness’ that goes along with the selection and carrying of these items. Implicit in the term is the sense that an EDC is an individual’s personal selection of equipment, arrived at after deliberation, rather than standardized kit.” (Sumber: Wikipedia)

Secara bebas dapat diterjemahkan bahwa EDC adalah koleksi peralatan dan suplai yang dibawa untuk membantu dalam mengatasi berbagai situasi. Istilah EDC sendiri mengacu pada filosofi atau semangat dari kesiapsiagaan yang diikuti dengan pemilihan alat yang akan dibawa. Secara implisit istilah ini menjelaskan bahwa EDC lebih mengacu kepada pemilihan alat-alat sesuai kebutuhan pribadi secara bebas, daripada suatu standar baku peralatan yang dibutuhkan.

IMG_20140523_075956

 

Ini artinya bahwa tidak ada panduan baku peralatan apa yang harus dibawa agar dapat disebut atau dicap sebagai penganut konsep EDC. Yang ada adalah teman-teman yang memilih sendiri peralatan apa yang akan di bawa, yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bila misalnya teman-teman adalah seorang fotografer, maka yang menjadi bagian dari perlengkapan EDC teman-teman adalah kamera dan aksesoris pendukungnya. Seorang executive di perkantoran akan menjadikan pulpen sebagai peralatan wajib dalam konsep EDC dan satu set keychain set mungkin, daripada sebuah multitools lengkap yang besar dan senter ber lumens tinggi dan menggunakan 2 buah batere 18650 yang berat adalah contoh lain yang dapat diambil. Tapi yang saya tuliskan ini akan menjadi rancu bilamana berhadapan dengan seorang kolektor. Seorang kolektor pisau akan selalu membawa pisau dalam konsep EDCnya (labih dari satu mungkin), sama seperti seorang kolektor senter atau multitools misalnya. Hak pribadi masing-masing yang harus dimengerti dan dihargai… 🙂

Terkadang kita dihadapkan pada banyak sekali pilihan pada saat akan menentukan alat yang akan dibeli untuk kemudian menjadi EDC wajib yang akan di bawa. Seringkalipula pada akhirnya kita terjebak membeli atau mengggunakan alat-alat yang dapat diistilahkan ‘overkill’ seperti contoh diatas. Membeli senter misalkan, senter seperti apakah yang teman-teman butuhkan? Apakah sekedar menerangi saat mati lampu seperti Thrunite Ti? Atau mungkin karena teman-teman adalah anggota SAR yang membutuhkan senter besar dengan lumens tinggi dan berspek militer seperti Olight X6 Marauder? Dengan memahami kebutuhan dasar teman-teman, maka akan dengan mudah teman-teman dapat mentukan peralatan apa yang akan dibeli kemudian.

2014-04-23 10.07.41

Pertanyaan lain yang sering timbul dan ditanyakan oleh banyak orang kepada saya dan teman-temen yang lain adalah sejauh mana keharusan membawa pisau atau multitools dalam kegiatan sehari-hari? Mengapa EDC selalu identik dengan pisau dan multitools?

Untuk pisau saya dapat mengatakan kalau ini amat tergantung pada kegiatan yang akan teman-teman jalani. Pisau menjadi salah satu symbol dan alat penting dalam konsep EDC karena konsep EDC itu sendiri pada awalnya di kembangkan dikalangan militer, penggiat kegiatan alam bebas dan survivalist, dimana pisau adalah salah satu alat bantu yang tidak terpisahkan dalam aktivitas teman-teman dikalangan tersebut. Namun dalam konsep sipil, dan kehidupan sehari-hari, apalagi bila teman-teman hidup di areal perkotaan, alat ini menjadi amat jarang digunakan dan dapat pula digabungkan dengan peralatan lain, dalam sebuah multiools misalnya.

Sedang untuk multitools, saya dapat mengatakan kalau dalam berbagai bentuk, baik multitools lengkap seperti Leatherman Charge TTi ataupun multitools mini seperti Gerber Dime, alat ini akan selalu berguna untuk membantu kegiatan teman-teman. Dari membuka surat dan paket, membetulkan baut-baut yang longgar, memotong benang atau mungkin memperbaiki peralatan-peralatan teman-teman atau sekedar meraut pensil misalnya. Pada dasarnya, multitools sendiri diciptakan untuk menjawab kebutuhan akan suatu alat portable dan compact yang dapat membantu dalam mengerjakan berbagai tugas sehari-hari dalam kondisi yang mendadak.

Nah, sekarang kembali kepada teman-teman, alat apakah yang akan teman-teman jadikan sebagai bagian dari konsep EDC teman-teman sendiri? Ciptakan konsep dan pakem mu sendiri! 🙂

20130602_132749

Didalam blog ini sering kali saya menampilkan pisau sebagai salah satu alat bantu dalam kegiatan sehari-hari, bahkan kadang-kadang terkesan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari konsep EDC. Namun sering kali timbul pertanyaan mengenai aspek hukum mengenai hal tersebut. Untuk menjawabnya, mungkin kita dapat mengacu pada Undang Undang Darurat RI No.12 tahun 1951 yang masih berlaku hingga saat ini :

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 1951
TENTANG
MENGUBAH “ORDONNANTIETIJDELIJKE BIJZONDERE STRAFBEPALINGEN” (STBL. 1948
NOMOR 17) DAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA DAHULU NOMOR 8 TAHUN
1948

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
Bahwa berhubung dengan keadaan yang mendesak dan untuk kepentingan pemerintah dipandang
perlu untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam “Ordonnantie Tijdelijke Byzondere
Strafbepalingen” (Stbl. 1948 No. 17) dan Undang-undang Republik Indonesia dahulu No. 8 tahun
1948.

Menimbang pula:
Bahwa karena keadaan-keadaan yang mendesak, peraturan ini perlu segera diadakan.

Mengingat:
a. Pasal 96, 102 dan 142 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia;
b. “Ordonnantie Tijdelijke Byzondere Strafbepalingen” (Stbl. 1948 No. 17);
c. Undang-undang Republik Indonesia dahulu No. 8 tahun 1948.

MEMUTUSKAN :

A. Menetapkan:
UNDANG-UNDANG DARURAT TENTANG MENGUBAH “ORDONNANTIETIJDELIJKE
BYZONDERE STRAFBEPALINGEN” (STBL. 1948 NOMOR 17) DAN UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA DAHULU NOMOR 8 TAHUN 1948).

Pasal 1

  1. Barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.
  2. Yang dimaksudkan dengan pengertian senjata api dan amunisi termasuk juga segala barang sebagaimana diterangkan dalam pasal 1 ayat 1 dari Peraturan Senjata Api (Vuurwapenregeling : in-, uit-, doorvoer en lossing) 1936 (Stbl. 1937 No. 170), yang telah diubah dengan Ordonnantie tanggal 30 Mei 1939 (Stbl. No. 278), tetapi tidak termasuk dalam pengertian itu senjata-senjata yang nyata-nyata mempunyai tujuan sebagai barang kuno atau barang yang ajaib (merkwaardigheid), dan bukan pula sesuatu senjata yang tetap tidak dapat terpakai atau dibikin sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipergunakan.
  3. Yang dimaksudkan dengan pengertian bahan-bahan peledak termasuk semua barang yang dapat meledak, yang dimaksudkan dalam Ordonnantie tanggal 18 September 1893 (Stbl. 234), yang telah diubah terkemudian sekali dengan Ordonnantie tanggal 9 Mei 1931 (Stbl. No. 168), semua jenis mesin, bom-bom, bom-bom pembakar, ranjau-ranjau (mijnen), granat tangan dan pada umumnya semua bahan peledak baik yang merupakan luluhan kimia tunggal (enkelvoudige chemischeverbindingen) maupun yang merupakan adukan bahan-bahan peledak (explosievemengsels) atau bahan-bahan peledak pemasuk (inleidende explosieven), yang dipergunakan untuk meledakkan lain-lain barang peledak, sekedar belum termasuk dalam pengertian amunisi.

Pasal 2

  1. Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk (slag-, steek-, ofstootwapen), dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
  2. Dalam pengertian senjata pemukul, senjata penikam atau senjata penusuk dalam pasal ini, tidak termasuk barang-barang yang nyata-nyata dimaksudkan untuk dipergunakan guna pertanian, atau untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga atau untuk kepentingan melakukan dengan syah pekerjaan atau yang nyata-nyata mempunyai tujuan sebagai barang pusaka atau barang kuno atau barang ajaib (merkwaardigheid).

Pasal 3

Perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum Undang-undang Darurat ini dipandang sebagai
kejahatan.

Pasal 4

  1. Bilamana sesuatu perbuatan yang dapat dihukum menurut Undang-undang Darurat ini dilakukan oleh atau atas kekuasaan suatu badan hukum, maka penuntutan dapat dilakukan dan hukuman dapat dijatuhkan kepada pengurus atau kepada wakilnya setempat.
  2. Ketentuan pada ayat 1 di muka berlaku juga terhadap badan-badan hukum, yang bertindak selaku pengurus atau wakil dari suatu badan hukum lain.

Pasal 5

  1. Barang-barang atau bahan-bahan dengan mana terhadap mana sesuatu perbuatan yang terancam hukuman pada pasal 1 atau 2, dapat dirampas, juga bilamana barang-barang itu tidak kepunyaan si-tertuduh.
  2. Barang-barang atau bahan-bahan yang dirampas menurut ketentuan ayat 1, harus di rusak, kecuali apabila terhadap barang-barang itu oleh atau dari pihak Menteri Pertahanan untuk kepentingan Negara diberikan suatu tujuan lain.

Pasal 6

  1. Yang diserahi untuk mengusut perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum berdasarkan pasal 1 dan 2 selain dari orang-orang yang pada umumnya telah ditunjuk untuk mengusut perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, juga orang-orang, yang dengan peraturan Undang-undang telah atau akan ditunjuk untuk mengusut kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang bersangkutan dengan senjata api, amunisi dan bahan-bahan peledak.
  2. Pegawai-pegawai pengusut serta orang-orang yang mengikutinya senantiasa berhak memasuki tempat-tempat, yang mereka anggap perlu dimasukinya, untuk kepentingan menjalankan dengan saksama tugas mereka Apabila mereka dihalangi memasuknya, mereka jika perlu dapat meminta bantuan dari alat kekuasaan.

B. Menetapkan, bahwa segala peraturan atau ketentuan-ketentuan dari peraturan-peraturan
yang bertentangan dengan Undang-undang Darurat ini tidak berlaku.
Ketentuan terakhir.

C. Undang-undang Darurat ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undangundang
Darurat ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 1 September 1951

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
SOEKARNO
PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
SUKIMAN WIRJOSANDJOJO.
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
ISKAQ TJOKROHADISURJO.
MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
SEWAKA.
MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA, a. i.,

Ttd.
M. A. PELLAUPESSY.

Diundangkan:
Pada Tanggal 4 September 1951
MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA a. i.,
Ttd.
M.A.PELLAUPESSY

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 1951

Saya tidak memiliki kemampuan teknis untuk dapat menganalisa Undang-Undang diatas namun saya harapkan dengan adanya tulisan ini akan tercipta suatu diskusi aktif antara teman-teman komunitas penggila EDC ataupun kolektor pisau dengan pihak-pihak yang berkompeten sehingga tercipta suatu kejelasan di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, pisau adalah alat bantu untuk kegiatan kita sehari-hari, bukan senjata yang berbahaya dan harus dihindari.

Untitled-1

Sebagai orang tua yang kebetulan telah mempunyai anak dan memiliki beberapa pisau sebagai “simpanan”, banyak sekali pesan-pesan sponsor (hehehehe…..) baik dari orang tua, saudara dan teman mengenai bahayanya pisau terhadap anak-anak. Saya jadi berpikir, adalah benar bahwa pisau dapat melukai, bukan hanya kepada anak-anak pastinya, tapi hal yang lebih mendasar adalah paradigma masyarakat yang masih memandang pisau sebagai senjata yang berbahaya, bukan sebagai alat bantu yang bila ditangani dengan benar akan memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali kepada permasalahan pisau dan anak-anak, satu hal yang penting diketahui adalah pada saat kita memberikan pengenalan dan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk menggunakan pisau, walaupun dengan pengawasan penuh dari orang tua, selalu ada kemungkinan bahwa pisau dapat melukai, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan kecelakaan dan menghindari kecelakaan dengan konsekuensi yang lebih buruk. Berikan contoh cara penggunaan pisau sebelum mengijinkan anak-anak kita untuk menggunakannya.

Sebelum mengijinkan anak-anak menggunakan pisau, ada baiknya dijelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna mengenai besarnya tanggung jawab pada saat penggunaan pisau, bahayanya penggunaan pisau yang tidak tepat dan aspek legalitas kepemilikan dan penggunaan pisau yang tidak pada tempatnya. Saya tidak dapat menjabarkan secara terperinci cara penyampaian yang tepat karena orang tualah yang mengetahui lebih baik cara berkomunikasi dengan anak mereka masing-masing.

IMG_20140429_081318

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat akan mengijinkan anak-anak menggunakan pisau:

  1. Pastikan bahwa anak-anak selalu didampingi oleh orang tua ataupun orang dewasa.
  2. Pastikan bahwa P3K selalu berada pada lokasi yang dapat diakses dengan mudah dan cepat
  3. Bila terluka, ajarkan untuk tidak takut dan segera memberitahukan pada orang dewasa terdekat agar pertolongan pertama dapat segera dilakukan. Jangan memarahinya pada saat kecelakaan terjadi, yang dapat membuat anak takut untuk melaporkan bilamana lain kali mengalami kecelakaan yang sama.
  4. Pada saat memperkenalkan pisau, sebaiknya memulai dengan fixed knives, karena folding knives, walaupun memiliki locking system yang baik, selalu memiliki kemungkinan kecelakaan yang besar saat membuka dan menutup, terlebih yang memiliki fast opening system.
  5. Sebaiknya menggunakan pisau yang bilahnya tidak lebih panjang dari lebar telapak tangan anak-anak karena memiliki keseimbangan dan kontrol yang lebih baik.
  6. Selalu menggunakan tangan yang dominan (tangan kanan untuk yang biasa menggunakan tangan kanan dan kiri bagi yang kidal), penggunaan tangan yang tidak dominan akan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  7. Pastikan penggunaan pisau untuk melakukan aktifitas yang jelas dan berguna, penggunaan pisau tanpa aktifitas yang jelas akan memperbesar kemungkinan anak-anak akan mulai bermain-main dengan pisau dan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  8. Jangan memaksakan kegiatan penggunaan pisau, segera berhenti bila melihat anak-anak sudah lelah. Kelelahan akan mengakibatkan menurunnya konsentrasi dan akan memperbesar resiko terjadinya kecelakaan.
  9. Ajarkan anak-anak untuk membiarkan pisau yang secara tidak sengaja terjatuh, jangan mencoba untuk menangkap, karena hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan.
  10. Ajarkan teknik ‘lingkaran keamanan’ sebelum menggunakan pisau. ‘Lingkaran keamanan’ dilakukan dengan meluruskan tangan dominan kearah kiri atau kanan tubuh untuk memeriksa apakah ada kemungkinan akan menyentuh orang lain saat menggunakan pisau. Bila ya, minta izin kepada orang tersebut dan jelaskan bahwa ia akan menggunakan pisau.
  11. Gunakan pisau yang tajam, pisau yang tumpul akan memperbesar kemungkinan kecelakaan karena pisau yang tumpul akan memaksa anak-anak menekan atau berusaha lebih keras untuk memotong yang akan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  12. Pastikan membersihkan dan menyimpan pisau yang telah digunakan, pisau yang diletakkan begitu saja setelah digunakan depat mencelakakan orang lain.

Tips ringan yang mungkin dapat menjadi panduan bagi anak-anak pada saat penggunaan pisau:

  1. Genggam pisau dengan genggaman sempurna ataupun dengan telunjuk yang terletak pada punggung pisau.
  2. Jangan mengarahkan pisau kepada orang lain, bila akan memberikan pisau kepada orang lain, selalu dalam keadaan tertutup dalam sarung ataupun dengan gagang yang mengarah kepada orang tersebut.
  3. Pada saat memotong selalu mengarah keluar tubuh, jangan mengarah ke tubuh atau kearah genggaman tangan yang memegang benda yang akan dipotong.
  4. Usakan meletakkan benda yang akan dipotong pada bidang yang rata.
  5. Pada saat memegang benda yang akan dipotong selalu dalam keadaan jemari yang tertutup, jemari yang terbuka akan memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Salah satu permainan yang dapat dilakukan untuk melatih penggunaan pisau adalah permainan dengan penggunaan lilin malam, dimana lilin malam dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk seperti buah atau roti dan dipotong-potong dengan menggunakan pisau plastik. Dengan cara ini anak-anak akan terbiasa menggunakan pisau dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang relatif sangat kecil, kita dapat mengajarkan teknik-teknik memotong yang benar, disamping secara psikologi akan mengakrabkan hubungan orang tua dan anak melalui permainan yang mengasyikan.. 🙂

 

Picture by : Yogi Mahendra

Dirangkum dari berbagai sumber