Archive for the ‘Pengenalan EDC’ Category

Telapak Kaki dan Sepatu

Posted: August 13, 2017 in Article, Pengenalan EDC
Tags:

Setelah sekian lama ‘tidur’ akhirnya saya kembali mencoba untuk memberikan tambahan materi pada blog ini… Terima kasih kepada teman-teman, yang rajin mengingatkan dan menyindir-nyindir agar saya kembali menampilkan artikel…hehehehehehe..

Untuk kali ini saya akan mencoba mengulas tentang sepatu. Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang seringkali kebingungan pada saat akan memilih sepatu. Membeli langsung, kebingungan untuk memilih sepatu yang tepat, mencoba membeli online, tetap kebingungan karena selain banyaknya pilihan, juga pada istilah-istilah yang digunakan pada uraian spesifikasinya . Saya menyadari bahwa materi yang akan saya uraikan berikut ini belum terlalu lengkap karena (ternyata!! :)) banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari. Tapi setidaknya ini dapat sedikit membantu teman-teman kedepannya.

Sebagai awalan mungkin kita dapat melihat seperti apa bentuk anatomi telapak kaki teman-teman untuk kemudian dapat menentukan tipe sepatu seperti apa yang tepat. Harap diingat, telapak kaki kita menahan beban tubuh selama kita melangkah ataupun berlari, membentuk mekanisme penahan guncangan dan mekanisme penyeimbang agar kita dapat tetap berdiri tegak. Oleh karena itu amat sangat penting untuk dapat menjaga bagian ini agar tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara garis besar, ada tiga jenis istilah/kondisi yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan telapak kaki pada saat digunakan untuk berdiri atau melangkah dan berlari :

  1. Pronation / Eversion

Ini untuk menggambarkan kondisi normal telapak kaki pada saat digunakan untuk melangkah, dimana beban tubuh dibagi rata keseluruh jari kaki, dengan sedikit tambahan beban pada ibu jari dan telunjuk, yang memang dapat menampung beban lebih dibandingkan jari-jari lainnya.

  1. Overpronation

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah seluruh berat beban tubuh hanya di tumpukan pada ibu jari dan telunjuk, sehingga pergelangan kaki mengalami kesulitan untuk dapat mengatur keseimbangan. Pada kasus yang parah dimana telapak kaki rata menyebabkan tertariknya otot, urat dan ligament yang ada di telapak kaki. Untuk orang-orang yang cenderung bergerak seperti ini atau umumnya orang-orang yang memiliki telapak kaki rata disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi motion control, dimana sepatu jenis ini didesain untuk dapat mengurangi dan mengontrol efek dari gerakan kaki yang bergerak terlalu kedalam. Jenis sepatu ini biasanya lebih berat dan lebih kaku, namun lebih tahan lama. Pada kasus telapak kaki rata juga disarankan memakai orthotic atau insole yang dirancang khusus untuk dapat memperbaiki bentuk telapak kaki.

  1. Supination

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah beban tubuh ditumpukan pada kelingking dan jari manis kaki yang secara struktur tidak kuat untuk menahan beban sedemikian besar dan mengakibatkan tegangan berlebihan pada otot dan urat yang ada pada pergelangan kaki dan mata kaki. Pada kasus yang yang parah atau kejadian dimana kita salah dalam melangkah dan melakukan gerakan ini secara mendadak dapat mengakibatkan terkilir atau patah pergelangan kaki. Untuk orang-orang yang memang cenderung mengalami pergerakan seperti ini, atau memiliki telapak kaki yang tinggi (telapak kaki melengkung), disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi cushioned, atau sepatu yang memiliki bantalan tinggi pada bagian insole nya yang memang di desain untuk meredam benturan antara kaki dengan lantai/tanah pada saat melangkah atau berlari.

Untuk dapat melihat bentuk telapak kaki melalui pertipisan pada sol sepatu dan bentuk telapak kaki teman-teman dapat mengacu pada gambar di bawah ini:

Telapak Kaki

Telapak Sepatu

Ilustrasi oleh : Bugsy Kepik

Tips untuk memilih sepatu yang tepat :

  1. Identifikasi akan jenis sepatu yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas teman-teman:
  • Hiking : Untuk jenis ini sebaiknya memilih sepatu jenis boot yang tidak terlalu tinggi, mungkin 5 atau 6 inci dengan bahan upper yang kokoh, traction sole atau daya cengkeram sol dengan tanah yang kuat dan pendukung pergelangan kaki yang baik.
  • Kegiatan alam bebas di suhu yang rendah atau cenderung basah : untuk jenis ini dapat memilih sepatu yang memiliki traction sole yang baik, memiliki insulasi udara dan bahan luarnya tidak mudah tertembus air, seperti Gore-tex Bila sepatu yang memiliki insulasi terlalu panas untuk dipakai pada saat biasa, mungkin dapat memilih sepatu yang berukuran lebih besar sehingga pada saat udara dingin dapat memakai lebih dari satu pasang kaus kaki namun bila udara panas dapat dengan mudah disesuaikan.
  • Sepatu olah raga : Salah satu jenis sepatu yang amat banyak model dan jenisnya, mulai dari sepatu untuk lari, basket, sepak bola, dll. Untuk jenis ini mungkin dapat dikonsultasikan dengan pemilik toko atau petugasnya pada saat teman-teman akan memilih sepatu.
  • Sepatu kerja ataupun sepatu pesta : Disini, seringkali model sepatu yang menjadi pilihan utama tetapi harap diingat bentuk telapak kaki teman-teman, seberapa sering digunakan untuk melangkah dan berjalan dan harus tetap nyaman dipakai.
  1. Pertimbangkan kondisi telapak kaki teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas.
  2. Semakin banyak support yang ada pada sepasang sepatu (arch support, insulated, steel toe, dll), maka akan semakin berat pula sepatu tersebut. Bila anda banyak berjalan atau berlari pada kondisi alam yang ringan, sebaiknya memilih sepatu yang ringan agar dapat mengurangi beban pada kaki.
  3. Sebaiknya membeli sepatu pada saat sore atau malam hari, karena telapak kaki agak membesar pada saat siang hari yang panas.
  4. Gunakan kaus kaki yang akan dipergunakan pada sepatu tersebut nantinya pada saat mecoba sepatu.
  5. Selalu mengukur sepatu pada saat akan membeli sepatu. Ukuran telapak kaki berubah, walaupun tidak secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia. Pada kasus dimana ukuran kaki yang kiri berbeda dengan yang kanan, belilah sepatu dengan ukuran yang berbeda pula.
  6. Berdiri pada saat mencoba sepatu, tekan ringan ujung jari terjauh di kaki (biasanya antara ibu jari atau telunjuk). Sebaiknya ada jarak sekitar 1 cm antara ujung jari terjauh dengan ujung sepatu, agar memberikan ruang pada jari kaki pada saat melangkah. Coba gerakkan jari-jari kaki untu dapat merasakan bahwa jari kaki memiliki ruang yang tepat dan tidak terlalu ketat.
  7. Coba berjalan dengan sepatu tersebut. Rasakan, apakah terlalu sempit, pas atau terlalu besar? Apakah tumit dan mata kaki nyaman saat melangkah? Jangan selalu berasumsi bahwa sepatu selalu membutuhkan masa ‘broken in’ atau masa agar sepatu menjadi nyaman untuk dipakai. Sepatu harus sudah nyaman sejak saat dibeli.
  8. Pilihlah sepatu yang benar-benar nyaman untuk teman-teman, jangan hanya melihat ukuran dan spesifikasi sepatu tersebut. Setiap pabrik memiliki ukuran sepatu yang berbeda-beda. Ukuran satu merk belum tentu sama dengan merk lainnya. Jangan termakan iklan teman-teman.. 🙂
  9. Perhatikan lebar sepatu, agar memberikan kenyamanan pada mata kaki dan telapak kaki. Membeli sepatu dengan ukuran lebih besar tidak menyelesaikan masalah, karena telapak kaki justru akan mudah ‘tergelincir’ pada saat digunakan.
  10. Rasakan bagian dalam sepatu, apakah ‘tag’, jahitan maupun material sepatunya dapat membuat teman-teman tidak nyaman.
  11. Perhatikan sol sepatunya, beli sesuai kebutuhan teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas. Coba berjalan di lantai yang keras dan kemudian di permukaan yang lembut seperti karpet untuk dapat merasakan bedanya.

 

Beberapa istilah-istilah umum pada sepatu:

  1. Aglet : Ujung plastik pada tali sepatu, untuk memudahkan kita pada saat memasukkan tali sepatu kedalam lubang sepatu /
  2. Ankle Strap : Tali pengikat yang ada dibelakang sepatu dan melingkari pergelangan kaki. Biasanya memiliki buckle / pengikat yang dapat disesuaikan ukurannya.
  3. Arch : Bagian melengkung pada sol sepatu antara bantalan telapak kaki bagian depan dan tumit. Istilah ini juga merujuk pada bagian yang menonjol pada insole sepatu yang berfungsi untuk menunjang bagian tersebut.
  4. Back Seam : Jahitan tegak lurus pada bagian belakang sepatu
  5. Ball : Bagian telapak kaki antara ibu jari kaki dan lengkungan bagian dalam telapak / arch.
  6. Bellows Tongue : Lidah sepatu yang dijahitkan / menempel pada sisi depan atau samping dari sepatu. Juga berfungsi untuk menutup bagian atas sepatu agar tidak mudah kemasukan air.
  7. Boot Heel : Biasanya ditemukan pada sepatu model bot, dimana pada bagian tumit terdapat heel yang lebar, stabil namun tidak terlalu tinggi.
  8. Braided Thread : Model alur jahitan, dimana seluruh lapisan di jalin bersama-sama, tidah hanya dipilin sehingga lapisan-lapisan bahan memiliki daya perlekatan yang lebih baik.
  9. Brannock Device : Alat yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar sepatu agar mendapatkan sepatu yang benar-benar sesuai dengan ukuran.
  10. Burnish : Proses memoles kulit pada sepatu untuk mendapatkan kesan
  11. Cemented Construction : Konstruksi sepatu dimana bagian atas dari sepatu direkatkan langsung ke bagian sol sepatu, bukan di jahitkan seperti pada umumnya. Kelebihan model seperti ini adalah sepatu menjadi lebih elastis, lentur dan ringan.
  12. Collar : Bagian atas dari belakang sepatu bot, biasanya posisinya diatas tumit, memiliki bantalan untuk melindungi bagian tersebut dan memberikan kenyamanan.
  13. Contoured Footbed : Insole atau pelapis yang berada pada bagian dalam sepatu di cetak mengikuti bentuk sepatu.
  14. Dri – Lex : Konfigurasi dua lapis dari Hydrofill, dimana nylon fiber yang berfungsi sebagai penyerap kelembaban sebagai lapisan dalam dan lapisan pelindung kelembaban di jahit menjadi satu.
  15. Dual Density Midsole : Biasanya ditemukan pada model sepatu lari, dimana midsole menggunakan dua bantalan busa yang memiliki kepadatan yang berbeda dengan bantalan yang sedikit lebih tebal dibagian kaki yang lebih sering bergesek dengan permukaan.
  16. Elastic Gore : Panel elastis yang di masukkan kedalam sepatu untuk memberikan daya renggang yang baik.
  17. Energy Return : Biasanya ditemukan pada sepatu lari, ini adalah respon yang diberikan segera setalah sepatu beradu dengan permukaan tanah, dimana ‘dorongan’ otomatis diberikan untuk menciptakan langkah atau gerak yang efektif.
  18. V.A : Ethylene Vinyl Acetate, komposisi sintetik yang biasanya digunakan untuk outsole. E.V.A merupakan salah satu bantalan sol yang baik dan mudah dibentuk dengan proses yang menggunakan panas atau tekanan.
  19. Eyelet : Lubang untuk memasukkan tali sepatu.
  20. Fiberboard : Material sepatu yang biasanya terbuat dari bubur kayu, biasanya digunakan di telapak bagian depan atau untuk menaikkan posisi tumit (pada sepatu yang memiliki hak tinggi).
  21. Flat Heel : Sepatu yang memiliki tapak yang rata.
  22. Foxing : Strip karet yang menghubungkan bagian atas dan sol sepatu. Biasanya ditemukan pada sepatu model sneaker berbahan kanvas.
  23. Gore : Panel elastis yang biasanya berada pada bagian depan sepatu, untuk memudahkan memakai dan membuka sepatu.
  24. Heel : Bisa mengacu pada hak sepatu atau bagian belakang dari sepatu pada posisi tumit.
  25. Heel Counter : Bagian lebar pada hak sepatu, yang berfungsi untuk menahan benturan pada bagian tumit pada saat menggunakan sepatu yang memiliki hak.
  26. Hidden Gore : Panel elastis pada bagian depan sepatu yang biasanya tertutup oleh lidah sepatu. Berfungsi untuk memberikan kenyamanan pada sepatu.
  27. Injection Molded Construction : Tipe konstruksi sol sepatu dimana sol dibuat dengan cara menginjeksikan PVC cair atau material sejenis pada cetakan sol sepatu. Sering digunakan pada sepatu yang diproduksi dalam jumlah banyak karena tingkat efisiensinya.
  28. Insole : Bagian dalam sepatu dimana bagian bawah telapak kaki bertemu dengan dasar sepatu.
  29. Laces : Tali sepatu
  30. Lining : Material yang merupakan bagian dalam sepatu. Ada berbagai macam material yang biasanya digunakan sebagai lining, dengan masing-masing kelebihan dan keurangannya. Kulit misalnya, sangat nyaman dan lebih dingin bila digunakan, tetapi lebih lama kering bila basah, Goretex® merupakan bahan dengan tingkat water resistant yang amat baik, tetapi agak panas bila digunakan pada lokasi beriklim tropis.
  31. Mid-sole : Bagian antara sol bagian bawah dengan insole, merupakan bantalan pelapis antara sol dan insole dan berfungsi sebagai ‘penyerap’ benturan.
  32. Polyurethane : Biasa disingkat sebagai PU, merupakan material buatan yang memiliki bentuk dan kontur persis seperti kulit.
  33. Polyvynil Chloride : Biasa disingkat sebagai PVC, bahan plastic-metal yang agak kaku, biasa dipakai sebagai atasan hak sepatu yang tinggi dan pelapis sol bagian bawah untuk memberikan support yang lebih.
  34. Thermoplastic Rubber : (TPR) Material plastik yang oleh banyak perusahaan biasanya digunakan sebagai bahan dalam proses injection molding.
  35. Thermoplastic Urethane : (TPU) Material plastik yang biasa digunakan sebagai support pada bagian pinggir sepatu, biasanya digunakan pada sepatu lari.
  36. Toe Ridge : Cekungan horizontal pada telapak sepatu yang digunakan sebagai ‘dudukan’ pada jari dan juga berfungsi untuk peredam benturan. Biasanya ditemukan pada sandal.
  37. Vibram : Bahan yang digunakan sebagai bagian bawah telapak sepatu karena ketahanan, tidak licin saat digunakan, biasanya digunakan pasa sepatu untuk tracking atau hiking . Merupakan merk terdaftar dari Vibram S.P.A.
  38. Vulcanizing : Proses penyatuan sol thermoplastic atau karet dengan bagian sepatu dengan menggunakan panas.

 

* Bahan diambil dari berbagai sumber.

Advertisements

Posted By : Reza Fahlevi Sam (Pemenang Artikel Terbaik Bulan Oktober 2014)

IMG_9411

Assalamualaikum Wr. Wb., salam sejahtera bagi kita semua,

Every Day Carry atau biasa dikenal dengan EDC, baru memasuki hidup saya selama 2 tahun terakhir ini. EDC dapat dimaksudkan sebagai barang yang dibawa setiap hari, untuk konsep penggunaan EDC sudah banyak dibahas sedulur-sedulur di sini, dapat diartikan secara garis besar untuk membantu kegiatan kita setiap harinya.

Secara tidak sadar dan tidak langsung, saat ini konsep EDC terpaku pada 2 hal, yaitu size (ukuran) yang kecil dan price (harga) yang mahal. Konsep ini tidak salah, mengenai ukuran yang kecil memudahkan kita membawanya. Sedangkan jika kita berbicara harga, ada pepatah mengatakan “ada harga ada rupa”, konsep ini juga tidak salah. Jika sedulur-sedulur di mari belum pernah mengalaminya secara langsung tentang pepatah ini, bisa dilihat pada cuplikan di film 127 Hours.

IMG_9411 copy

Saya bukan salah satu orang yang berdompet tebal, maka dari itu saya harus mencari-cari EDC yang tepat dan bagus untuk saya pribadi. EDC pertama saya saat itu adalah pisau lipat berbentuk gantungan kunci seharga Rp 7.000 (sekitar 8 tahun yang lalu). Pepatah “ada harga ada rupa” saya alami untuk pertama kalinya, pisau patah saat saya membongkar mainan adik sepupu saya. Setelah itu EDC saya masuk ke pisau buatan replika (di saat masih awam, pisau berharga mahal masih saya anggap gak bener, gila aja pisau seharga ratusan ribu, akhirnya yang terjangkau ya pisau replika). Selama beberapa bulan, sedikit terasa melelahkan mulai dari size, fungsional, dan maintenance.

Akhirnya saya menemukan Ganzo G711 (thanks Mas Sigit buat group buy nya). Menurut saya pisau ini berukuran pas buat tangan saya, multi grip nya nyaman, bentuk blade nya cantik, dan kualitasnya bagus. Ganzo saya dapat dengan harga Rp 230.000 selanjutnya menjadi pisau andalan saya sebelum bertemu Spyderco Pingo, si kecil imut yang berbentuk tidak intimidatif. Ketika memakai Spyderco Pingo pun tidak takut mengeluarkannya karena efek bentuk yang imut.

CameraZOOM-20130905122702108

Untitled-1

Apakah Ganzo saya terbengkalai? Tidak, Ganzo menjadi primadona saya saat naik gunung. Kalau ditanya kenapa tidak memakai pisau-pisau seperti Spyderco, Benchmade, Enzo, Lionsteel atau yang lainnya karena faktor kebutuhan. Menurut saya Ganzo sudah memenuhi kebutuhan, mulai dari tebal  blade yang bisa digunakan sedikit agak berat walau belum bisa dikatakan linggis, dan tidak mempersulit untuk pekerjaan yang bersifat ringan.

IMG_9417

EDC saya yang lainya yaitu senter. Senter yang saya gunakan yaitu senter Ultrafire C3 SS AAA, 3 mode, waterproof dimana sangat bermanfaat disaat turun gunung malam dan turun hujan. Senter ini terbilang murah dengan harga Rp 180.000.

Jam tangan G-shock DW-6600 yang sangat berguna setiap saat untuk menunjukan waktu. Harga Rp – (given by my brother).

EDC selanjutnya survival whistle (peluit) yang bisa saya gunakan ketika terpisah dari rombongan seharga Rp 35.000.

Carabiner Eiger seharga Rp 12.500 dengan spec not for climbing karena tidak butuh mengangkut beban sampai berkilo-kilo.

Paracord dengan panjang 3 meter yang bisa digunakan untuk menarik motor teman yang mogok, cukup didapat dengan harga Rp 20.000.

Leatherman Fuse dengan harga Rp 500.000 (banyak gigi terselamatkan oleh bukaan botol LM, banyak mur kendor menjadi kencang atau sebaliknya oleh obeng si LM, gunting kecilnya sangat membantu untuk membuka plastik makanan, pisau di LM menjadi backup untuk Spyderco Pingo di saat membutuhkan pisau yang menggunakan locking).

Lakban, barang bisa direkatkan dengan bantuan lakban, mulai dari menambal kabel terkelupas, menambal jas hujan, dll saya dapat dengan harga Rp 5.000.

Spyderco Pingo bisa digunakan untuk jenis pekerjaan ringan mulai dari memotong rafia, membuka paket, atau bahkan memotong daun pisang, dll seharga Rp 750.000.

 

Edited by: Yogi Mahendra

Logo EDC Indonesia

Posted: September 17, 2014 in Article, Pengenalan EDC

IMG_20140612_100509

Beberapa teman pernah bertanya pada saya, kenapa memilih logo lebah yang rada-rada ngga jelas ini (hehehehe….) sebagai logo EDC-iD. Kenapa tidak memilih gambar multitools, pisau atau senter sebagai logo seperti blog, facebook group atau web yg bertemakan EDC pada umumnya.

Maka kali ini akan saya jelaskan secara singkat filosofi dari logo ini.

Lebah sendiri adalah binatang yang menakjubkan, sampai salah satu agama mempunyai ayat khusus yg menjelaskan betapa bergunanya mahluk ini. Bahkan ada kepercayaan bahwa salah satu tanda-tanda akhir jaman dimulai dengan punahnya lebah dari muka bumi. Bagaimana tidak, tubuhnya adalah salah satu contoh ‘multitools‘ hidup yang pernah ada, dari membuat madu, membantu proses penyerbukan, sebagai metode pengobatan, bahkan dapat menjadi alat membela dirinya sendiri yg menjadikan lebah amat dibutuhkan dan (bagi sebagian orang) juga ditakuti (termasuk oleh saya yang pernah merasakan 4 sengatan sekaligus.. hehehe).

Roda gear yg digambarkan menjadi tubuh lebah menjadi simbol peralatan dan alat bantu yang selalu dimiliki manusia sejak jaman prasejarah. Seperti diingat, sejarah manusia mulai berkembang pesat semenjak manusia mulai memikirkan penggunaan alat bantu dalam kehidupan sehari-hari, untuk menutupi kelemahannya dalam bertahan hidup bila dibandingkan mahluk-mahluk lain yg hidup di muka bumi.

Jadi secara keseluruhan, logo ini saya anggap sebagai jawaban filosofis dr konsep EDC itu sendiri. Bisa jadi salah menurut orang lain. Tapi seperti pernah saya tulis di artikel saya yang lain, ini adalah pendapat pribadi saya yang diharapkan dapat dimengerti oleh teman-teman semuanya.. 🙂

EDC 101 Version 1.0

Posted: September 15, 2014 in Article, Pengenalan EDC
Tags:

IMG_20140720_085329

 

Suatu kebanggan, saat ini sudah mulai banyak orang yang ‘melek’ akan konsep dan istilah Every Day Carry atau biasa disingkat EDC dan mengaplikasikannya pada keseharian masing-masing. Tetapi seringkali timbul pertanyaan, seperti apa sih konsep EDC yang ideal? Apakah peralatan atau tools standard yang wajb dibawa?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengacu pada definisi EDC itu sendiri. Bila teman-teman membuka laman Wikipedia, disitu dapat ditemukan definisi EDC, yang akan saya coba sadur dan terjemahkan disini:

“Every Day Carry refers to a small collections of tools, equipment, and supplies that are carried on a daily basis to assist in tackling situations ranging from mundane to disastrous. The terms EDC also refer to the philosophy or spirit of ‘preparedness’ that goes along with the selection and carrying of these items. Implicit in the term is the sense that an EDC is an individual’s personal selection of equipment, arrived at after deliberation, rather than standardized kit.” (Sumber: Wikipedia)

Secara bebas dapat diterjemahkan bahwa EDC adalah koleksi peralatan dan suplai yang dibawa untuk membantu dalam mengatasi berbagai situasi. Istilah EDC sendiri mengacu pada filosofi atau semangat dari kesiapsiagaan yang diikuti dengan pemilihan alat yang akan dibawa. Secara implisit istilah ini menjelaskan bahwa EDC lebih mengacu kepada pemilihan alat-alat sesuai kebutuhan pribadi secara bebas, daripada suatu standar baku peralatan yang dibutuhkan.

IMG_20140523_075956

 

Ini artinya bahwa tidak ada panduan baku peralatan apa yang harus dibawa agar dapat disebut atau dicap sebagai penganut konsep EDC. Yang ada adalah teman-teman yang memilih sendiri peralatan apa yang akan di bawa, yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bila misalnya teman-teman adalah seorang fotografer, maka yang menjadi bagian dari perlengkapan EDC teman-teman adalah kamera dan aksesoris pendukungnya. Seorang executive di perkantoran akan menjadikan pulpen sebagai peralatan wajib dalam konsep EDC dan satu set keychain set mungkin, daripada sebuah multitools lengkap yang besar dan senter ber lumens tinggi dan menggunakan 2 buah batere 18650 yang berat adalah contoh lain yang dapat diambil. Tapi yang saya tuliskan ini akan menjadi rancu bilamana berhadapan dengan seorang kolektor. Seorang kolektor pisau akan selalu membawa pisau dalam konsep EDCnya (labih dari satu mungkin), sama seperti seorang kolektor senter atau multitools misalnya. Hak pribadi masing-masing yang harus dimengerti dan dihargai… 🙂

Terkadang kita dihadapkan pada banyak sekali pilihan pada saat akan menentukan alat yang akan dibeli untuk kemudian menjadi EDC wajib yang akan di bawa. Seringkalipula pada akhirnya kita terjebak membeli atau mengggunakan alat-alat yang dapat diistilahkan ‘overkill’ seperti contoh diatas. Membeli senter misalkan, senter seperti apakah yang teman-teman butuhkan? Apakah sekedar menerangi saat mati lampu seperti Thrunite Ti? Atau mungkin karena teman-teman adalah anggota SAR yang membutuhkan senter besar dengan lumens tinggi dan berspek militer seperti Olight X6 Marauder? Dengan memahami kebutuhan dasar teman-teman, maka akan dengan mudah teman-teman dapat mentukan peralatan apa yang akan dibeli kemudian.

2014-04-23 10.07.41

Pertanyaan lain yang sering timbul dan ditanyakan oleh banyak orang kepada saya dan teman-temen yang lain adalah sejauh mana keharusan membawa pisau atau multitools dalam kegiatan sehari-hari? Mengapa EDC selalu identik dengan pisau dan multitools?

Untuk pisau saya dapat mengatakan kalau ini amat tergantung pada kegiatan yang akan teman-teman jalani. Pisau menjadi salah satu symbol dan alat penting dalam konsep EDC karena konsep EDC itu sendiri pada awalnya di kembangkan dikalangan militer, penggiat kegiatan alam bebas dan survivalist, dimana pisau adalah salah satu alat bantu yang tidak terpisahkan dalam aktivitas teman-teman dikalangan tersebut. Namun dalam konsep sipil, dan kehidupan sehari-hari, apalagi bila teman-teman hidup di areal perkotaan, alat ini menjadi amat jarang digunakan dan dapat pula digabungkan dengan peralatan lain, dalam sebuah multiools misalnya.

Sedang untuk multitools, saya dapat mengatakan kalau dalam berbagai bentuk, baik multitools lengkap seperti Leatherman Charge TTi ataupun multitools mini seperti Gerber Dime, alat ini akan selalu berguna untuk membantu kegiatan teman-teman. Dari membuka surat dan paket, membetulkan baut-baut yang longgar, memotong benang atau mungkin memperbaiki peralatan-peralatan teman-teman atau sekedar meraut pensil misalnya. Pada dasarnya, multitools sendiri diciptakan untuk menjawab kebutuhan akan suatu alat portable dan compact yang dapat membantu dalam mengerjakan berbagai tugas sehari-hari dalam kondisi yang mendadak.

Nah, sekarang kembali kepada teman-teman, alat apakah yang akan teman-teman jadikan sebagai bagian dari konsep EDC teman-teman sendiri? Ciptakan konsep dan pakem mu sendiri! 🙂

20130602_132749

Didalam blog ini sering kali saya menampilkan pisau sebagai salah satu alat bantu dalam kegiatan sehari-hari, bahkan kadang-kadang terkesan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari konsep EDC. Namun sering kali timbul pertanyaan mengenai aspek hukum mengenai hal tersebut. Untuk menjawabnya, mungkin kita dapat mengacu pada Undang Undang Darurat RI No.12 tahun 1951 yang masih berlaku hingga saat ini :

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 1951
TENTANG
MENGUBAH “ORDONNANTIETIJDELIJKE BIJZONDERE STRAFBEPALINGEN” (STBL. 1948
NOMOR 17) DAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA DAHULU NOMOR 8 TAHUN
1948

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
Bahwa berhubung dengan keadaan yang mendesak dan untuk kepentingan pemerintah dipandang
perlu untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam “Ordonnantie Tijdelijke Byzondere
Strafbepalingen” (Stbl. 1948 No. 17) dan Undang-undang Republik Indonesia dahulu No. 8 tahun
1948.

Menimbang pula:
Bahwa karena keadaan-keadaan yang mendesak, peraturan ini perlu segera diadakan.

Mengingat:
a. Pasal 96, 102 dan 142 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia;
b. “Ordonnantie Tijdelijke Byzondere Strafbepalingen” (Stbl. 1948 No. 17);
c. Undang-undang Republik Indonesia dahulu No. 8 tahun 1948.

MEMUTUSKAN :

A. Menetapkan:
UNDANG-UNDANG DARURAT TENTANG MENGUBAH “ORDONNANTIETIJDELIJKE
BYZONDERE STRAFBEPALINGEN” (STBL. 1948 NOMOR 17) DAN UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA DAHULU NOMOR 8 TAHUN 1948).

Pasal 1

  1. Barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.
  2. Yang dimaksudkan dengan pengertian senjata api dan amunisi termasuk juga segala barang sebagaimana diterangkan dalam pasal 1 ayat 1 dari Peraturan Senjata Api (Vuurwapenregeling : in-, uit-, doorvoer en lossing) 1936 (Stbl. 1937 No. 170), yang telah diubah dengan Ordonnantie tanggal 30 Mei 1939 (Stbl. No. 278), tetapi tidak termasuk dalam pengertian itu senjata-senjata yang nyata-nyata mempunyai tujuan sebagai barang kuno atau barang yang ajaib (merkwaardigheid), dan bukan pula sesuatu senjata yang tetap tidak dapat terpakai atau dibikin sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipergunakan.
  3. Yang dimaksudkan dengan pengertian bahan-bahan peledak termasuk semua barang yang dapat meledak, yang dimaksudkan dalam Ordonnantie tanggal 18 September 1893 (Stbl. 234), yang telah diubah terkemudian sekali dengan Ordonnantie tanggal 9 Mei 1931 (Stbl. No. 168), semua jenis mesin, bom-bom, bom-bom pembakar, ranjau-ranjau (mijnen), granat tangan dan pada umumnya semua bahan peledak baik yang merupakan luluhan kimia tunggal (enkelvoudige chemischeverbindingen) maupun yang merupakan adukan bahan-bahan peledak (explosievemengsels) atau bahan-bahan peledak pemasuk (inleidende explosieven), yang dipergunakan untuk meledakkan lain-lain barang peledak, sekedar belum termasuk dalam pengertian amunisi.

Pasal 2

  1. Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk (slag-, steek-, ofstootwapen), dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
  2. Dalam pengertian senjata pemukul, senjata penikam atau senjata penusuk dalam pasal ini, tidak termasuk barang-barang yang nyata-nyata dimaksudkan untuk dipergunakan guna pertanian, atau untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga atau untuk kepentingan melakukan dengan syah pekerjaan atau yang nyata-nyata mempunyai tujuan sebagai barang pusaka atau barang kuno atau barang ajaib (merkwaardigheid).

Pasal 3

Perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum Undang-undang Darurat ini dipandang sebagai
kejahatan.

Pasal 4

  1. Bilamana sesuatu perbuatan yang dapat dihukum menurut Undang-undang Darurat ini dilakukan oleh atau atas kekuasaan suatu badan hukum, maka penuntutan dapat dilakukan dan hukuman dapat dijatuhkan kepada pengurus atau kepada wakilnya setempat.
  2. Ketentuan pada ayat 1 di muka berlaku juga terhadap badan-badan hukum, yang bertindak selaku pengurus atau wakil dari suatu badan hukum lain.

Pasal 5

  1. Barang-barang atau bahan-bahan dengan mana terhadap mana sesuatu perbuatan yang terancam hukuman pada pasal 1 atau 2, dapat dirampas, juga bilamana barang-barang itu tidak kepunyaan si-tertuduh.
  2. Barang-barang atau bahan-bahan yang dirampas menurut ketentuan ayat 1, harus di rusak, kecuali apabila terhadap barang-barang itu oleh atau dari pihak Menteri Pertahanan untuk kepentingan Negara diberikan suatu tujuan lain.

Pasal 6

  1. Yang diserahi untuk mengusut perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum berdasarkan pasal 1 dan 2 selain dari orang-orang yang pada umumnya telah ditunjuk untuk mengusut perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, juga orang-orang, yang dengan peraturan Undang-undang telah atau akan ditunjuk untuk mengusut kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang bersangkutan dengan senjata api, amunisi dan bahan-bahan peledak.
  2. Pegawai-pegawai pengusut serta orang-orang yang mengikutinya senantiasa berhak memasuki tempat-tempat, yang mereka anggap perlu dimasukinya, untuk kepentingan menjalankan dengan saksama tugas mereka Apabila mereka dihalangi memasuknya, mereka jika perlu dapat meminta bantuan dari alat kekuasaan.

B. Menetapkan, bahwa segala peraturan atau ketentuan-ketentuan dari peraturan-peraturan
yang bertentangan dengan Undang-undang Darurat ini tidak berlaku.
Ketentuan terakhir.

C. Undang-undang Darurat ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undangundang
Darurat ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 1 September 1951

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
SOEKARNO
PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
SUKIMAN WIRJOSANDJOJO.
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
ISKAQ TJOKROHADISURJO.
MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.
SEWAKA.
MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA, a. i.,

Ttd.
M. A. PELLAUPESSY.

Diundangkan:
Pada Tanggal 4 September 1951
MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA a. i.,
Ttd.
M.A.PELLAUPESSY

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 1951

Saya tidak memiliki kemampuan teknis untuk dapat menganalisa Undang-Undang diatas namun saya harapkan dengan adanya tulisan ini akan tercipta suatu diskusi aktif antara teman-teman komunitas penggila EDC ataupun kolektor pisau dengan pihak-pihak yang berkompeten sehingga tercipta suatu kejelasan di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, pisau adalah alat bantu untuk kegiatan kita sehari-hari, bukan senjata yang berbahaya dan harus dihindari.

IMG_20140429_081645

Sebagai orang tua yang kebetulan telah mempunyai anak dan memiliki beberapa pisau sebagai “simpanan”, banyak sekali pesan-pesan sponsor (hehehehe…..) baik dari orang tua, saudara dan teman mengenai bahayanya pisau terhadap anak-anak. Saya jadi berpikir, adalah benar bahwa pisau dapat melukai, bukan hanya kepada anak-anak pastinya, tapi hal yang lebih mendasar adalah paradigma masyarakat yang masih memandang pisau sebagai senjata yang berbahaya, bukan sebagai alat bantu yang bila ditangani dengan benar akan memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali kepada permasalahan pisau dan anak-anak, satu hal yang penting diketahui adalah pada saat kita memberikan pengenalan dan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk menggunakan pisau, walaupun dengan pengawasan penuh dari orang tua, selalu ada kemungkinan bahwa pisau dapat melukai, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan kecelakaan dan menghindari kecelakaan dengan konsekuensi yang lebih buruk. Berikan contoh cara penggunaan pisau sebelum mengijinkan anak-anak kita untuk menggunakannya.

Sebelum mengijinkan anak-anak menggunakan pisau, ada baiknya dijelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna mengenai besarnya tanggung jawab pada saat penggunaan pisau, bahayanya penggunaan pisau yang tidak tepat dan aspek legalitas kepemilikan dan penggunaan pisau yang tidak pada tempatnya. Saya tidak dapat menjabarkan secara terperinci cara penyampaian yang tepat karena orang tualah yang mengetahui lebih baik cara berkomunikasi dengan anak mereka masing-masing.

IMG_20140429_081318

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat akan mengijinkan anak-anak menggunakan pisau:

  1. Pastikan bahwa anak-anak selalu didampingi oleh orang tua ataupun orang dewasa.
  2. Pastikan bahwa P3K selalu berada pada lokasi yang dapat diakses dengan mudah dan cepat
  3. Bila terluka, ajarkan untuk tidak takut dan segera memberitahukan pada orang dewasa terdekat agar pertolongan pertama dapat segera dilakukan. Jangan memarahinya pada saat kecelakaan terjadi, yang dapat membuat anak takut untuk melaporkan bilamana lain kali mengalami kecelakaan yang sama.
  4. Pada saat memperkenalkan pisau, sebaiknya memulai dengan fixed knives, karena folding knives, walaupun memiliki locking system yang baik, selalu memiliki kemungkinan kecelakaan yang besar saat membuka dan menutup, terlebih yang memiliki fast opening system.
  5. Sebaiknya menggunakan pisau yang bilahnya tidak lebih panjang dari lebar telapak tangan anak-anak karena memiliki keseimbangan dan kontrol yang lebih baik.
  6. Selalu menggunakan tangan yang dominan (tangan kanan untuk yang biasa menggunakan tangan kanan dan kiri bagi yang kidal), penggunaan tangan yang tidak dominan akan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  7. Pastikan penggunaan pisau untuk melakukan aktifitas yang jelas dan berguna, penggunaan pisau tanpa aktifitas yang jelas akan memperbesar kemungkinan anak-anak akan mulai bermain-main dengan pisau dan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  8. Jangan memaksakan kegiatan penggunaan pisau, segera berhenti bila melihat anak-anak sudah lelah. Kelelahan akan mengakibatkan menurunnya konsentrasi dan akan memperbesar resiko terjadinya kecelakaan.
  9. Ajarkan anak-anak untuk membiarkan pisau yang secara tidak sengaja terjatuh, jangan mencoba untuk menangkap, karena hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan.
  10. Ajarkan teknik ‘lingkaran keamanan’ sebelum menggunakan pisau. ‘Lingkaran keamanan’ dilakukan dengan meluruskan tangan dominan kearah kiri atau kanan tubuh untuk memeriksa apakah ada kemungkinan akan menyentuh orang lain saat menggunakan pisau. Bila ya, minta izin kepada orang tersebut dan jelaskan bahwa ia akan menggunakan pisau.
  11. Gunakan pisau yang tajam, pisau yang tumpul akan memperbesar kemungkinan kecelakaan karena pisau yang tumpul akan memaksa anak-anak menekan atau berusaha lebih keras untuk memotong yang akan memperbesar kemungkinan kecelakaan.
  12. Pastikan membersihkan dan menyimpan pisau yang telah digunakan, pisau yang diletakkan begitu saja setelah digunakan depat mencelakakan orang lain.

Tips ringan yang mungkin dapat menjadi panduan bagi anak-anak pada saat penggunaan pisau:

  1. Genggam pisau dengan genggaman sempurna ataupun dengan telunjuk yang terletak pada punggung pisau.
  2. Jangan mengarahkan pisau kepada orang lain, bila akan memberikan pisau kepada orang lain, selalu dalam keadaan tertutup dalam sarung ataupun dengan gagang yang mengarah kepada orang tersebut.
  3. Pada saat memotong selalu mengarah keluar tubuh, jangan mengarah ke tubuh atau kearah genggaman tangan yang memegang benda yang akan dipotong.
  4. Usakan meletakkan benda yang akan dipotong pada bidang yang rata.
  5. Pada saat memegang benda yang akan dipotong selalu dalam keadaan jemari yang tertutup, jemari yang terbuka akan memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Salah satu permainan yang dapat dilakukan untuk melatih penggunaan pisau adalah permainan dengan penggunaan lilin malam, dimana lilin malam dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk seperti buah atau roti dan dipotong-potong dengan menggunakan pisau plastik. Dengan cara ini anak-anak akan terbiasa menggunakan pisau dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang relatif sangat kecil, kita dapat mengajarkan teknik-teknik memotong yang benar, disamping secara psikologi akan mengakrabkan hubungan orang tua dan anak melalui permainan yang mengasyikan.. 🙂

 

Picture by : Yogi Mahendra

Dirangkum dari berbagai sumber

 

2014-04-24 09.26.47

Seperti (mungkin) kebanyakan orang-orang yang menggemari konsep EDC, saya selalu percaya bahwa aplikasi kydex dapat lebih luas dari sekedar sheath untuk pisau, senter, multi tool ataupun handgun. Hali ini pulalah yang membawa saya mengenal Janne Ikonen, pemilik akun EDC Survival Tool di jejaring sosial Facebook.

IMG_20140424_084409

IMG_20140424_102553

IMG_20140424_102805

 Scale, Sheath and Bead for Esee Candiru

Pada awalnya saya menganggap Janne seperti maker kebanyakan yang hanya memiliki spesialisasi pada pembuatan sheath, scale dengan bahan kydex ataupun G10 dengan pakem-pakem yang itu-itu saja. Tapi setelah mengenal lebih jauh, saya amat terkesan dengan visinya dan ide-ide uniknya yang terus berkembang, belum lagi profesionalisme, komunikatif dan kerendahan hatinya, hal yang amat perlu dipelajari dan ditiru oleh maker-maker Indonesia untuk dapat bersaing di lingkup yang lebih luas.

IMG_20140424_103459

IMG_20140424_103613

Esee Arrow Head Sheath 

Dengan latar belakangnya di Finnish Defence Forces, UN peacekeeping- and NATO-Mission, hobinya sebagai penggila kegiatan outdoor, ditambah lagi bakatnya sebagai seorang seniman menjadikannya salah satu artisan yang mampu menggabungkan pengalaman, visi dalam sebuah keindahan, kekuatan dan fungsi sebuah karya. Selama 3 tahun terakhir, sudah banyak karya-karyanya yang digunakan dan di aplikasikan bukan hanya untuk peruntukan sipil, tapi juga militer. 

IMG_20140424_103811

20140424_092306

IMG_20140424_104420

Passport Case 

Harga yang ditawarkan juga amat kompetitif dibandingkan maker-maker lain, menjadikannya alternatif yang amat tepat bagi teman-teman yang menginginkan sesuatu yang berbeda dan unik. Amat menarik dan patut dicoba, bukan? 🙂

IMG_20140424_104818

IMG_20140424_105031

ID Card Holder 

Workshop : Pirkkala, Finland

Contact :

Picture by : Yogi Mahendra

 

 

 

First Aid Kit (Lagi)

Posted: April 14, 2014 in Article, Pengenalan EDC

FAK 01

Picture by: Yogi Mahendra

Sebenarnya topik ini sudah pernah diangkat oleh sahabat-sahabat  saya, Bro Rya dan Bro Arie di blog ID Prepper, jadi disini saya hanya mencoba menambahkan sedikit beberapa poin-poin yang mungkin dapat melengkapi tulisan tersebut dan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai First Aid Kit atau sering disebut FAK atau juga P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Kali ini saya tidak akan mengulas FAK yang disusun berdasarkan standar internasional, ISO 7010, karena tidak semua teman-teman memiliki dasar-dasar medis dan sebenarnya FAK sendiri lebih tepat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Sebelum saya mengulas lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat mempersiapkan FAK :

  1. FAK hanya digunakan untuk pertolongan pertama sebelum dirujuk ke dokter atau klinik terdekat.
  2. Sesuaikan dengan kebutuhan, apakah untuk kebutuhan pribadi, keluarga, apakah untuk kegiatan sehari-hari, untuk kegiatan alam bebas, dll.
  3. Pilih FAK ataupun alat-alat yang dapat teman-teman gunakan. Tidak perlu rasanya membeli FAK yang lengkap dan mahal tanpa memiliki dasar-dasar paramedis.
  4. Lengkapi dengan keperluan pribadi, seperti obat-obatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing atau nomor telepon yang dapat dihubungi pada kondisi darurat.
  5. Tempatkan FAK pada lokasi yang mudah dijangkau, misalnya pada bagian kompartemen tas yang dapat dengan cepat di akses, bagian rumah yang mudah terlihat dan dijangkau ataupun pada laci mobil.
  6. Lakukan pemeriksaan rutin pada FAK teman-teman karena obat-obatan ataupun medical supplies tertentu biasanya memiliki masa kadaluwarsa. Lakukan penggantian segera bilamana obat-obatan tersebut sudah kadaluwarsa ataupun habis terpakai.
  7. Sebaiknya FAK disimpan dalam wadah yang bersih, kedap udara dan kedap air untuk mencegah kerusakan akibat kondisi-kondisi diatas.

FAK 02

Picture by: Yogi Mahendra

Adapun kelengkapan yang biasanya ada didalam FAK:

Pengobatan untuk trauma ataupun luka luar

  • Perban berbagai ukuran
  • Elastic bandage seperti Hansaplast
  • Terkadang untuk menggantikan triangular bandage dapat menggunakan bandana atau shemagh
  • Saya pribadi lebih suka menggunakan kapas, kasa atau hypavix yang dibentuk seperti tampon karena lebih mudah untuk digunakan tanpa perlu menyentuh luka dan dapat dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menjadi penutup luka sementara.
  • Plester ataupun hypavix.
  • Betadine ataupun Povidine iodine
  • H2O2 atau Hidrogen peroxida untuk mencuci luka sebagai agen antimicrobial. Pada saat darurat, campuran antara H2O2 dan Betadine (dengan formula 1:1) digunakan untuk mencuci luka yang sangat kotor. Namun harap diingat untuk tidak mencampurkan kedua jenis cairan tersebut sebelum dipakai dan hanya digunakan seperlunya.
  • Dettol untuk desinfektan. Saya selalu menyarankan untuk membawa Dettol karena selain untuk mencuci luka, cairan ini dapat digunakan untuk mandi, mencuci pakaian bahkan untuk membersihkan ruangan pada kondisi yang kurang baik atau darurat.
  • Alcohol swab,untuk membersihkan luka-luka ringan.
  • Salep luka bakar

IMG_3085

Obat-obatan, adapun obat-obatan yang umum dibawa antara lain (yang saya sebutkan di bawah adalah nama generik, karena banyak sekali merk obat-obatan yng di jual bebas dipasaran):

Penghilang rasa sakit (analgesic). Ada beberapa analgesic yang umum digunakan:

  • Paracetamol (Acetaminophen). Salah satu obat yang umum digunakan, karena selain dapat menghilangkan rasa sakit ringan seperti sakit kepala, juga dapat digunakan sebagai pereda demam (antipyrectic). Dibandingkan analgesic lain, paracetamol jauh lebih beracun bila digunakan secara berlebihan, namun lebih aman bila digunakan pada dosis yang tepat.
  • Aspirin (Acetylsalicylic acid). Sebagai Analgesic ringan, antipyretic dan juga pengobatan untuk anti-inflammatory (iritasi). Sering juga dianjurkan untuk pengobatan nyeri pada persendian seperti rematik.
  • Ibuprofen (Isobutyl propanoic phenolic acid). Sebagai analgesic, antipyretic dan anti-inflammatory. Salah satu obat yang direkomendasikan oleh WHO, sehingga masuk kedalam daftar Model List of Esential Medicine dan Inter Agency Emergency Health Kit untuk penanggulangan bencana dan standar minimum dalam pelayanan kesehatan.
  • Ponstan (Mefenamic acid). Digunakan sebagain penghilang rasa sakit, anti-inflammatory dan pembengkakan seperti sakit gigi, dan sakit akibat menstruasi.
  • Co-codamol (komposisi campuran antara Codein phosphate dan Paracetamol). Lazim digunakan sebagai analgesic kelas menengah manalaka obat-obatan seperti ibuprofen, aspirin tidak mampu menanggulangi rasa sakitnya. Tidak dianjurkan pada ibu menyusui dan digunakan pada jangka waktu lama karena dapat mengakibatkan ketergantungan. Harus dengan resep dokter.

Obat-obatan antihistamin (Mengurangi gejala-gejala alergi, mabuk perjalanan, tukak lambung dan sengatan serangga) seperti:

  • Ranitidine, mengobati gejala awal tukak lambung dengan mengurangi produksi asam lambung.
  • Citirizine, Mengobati gejala radang selaput hidung, biduran.
  • Hydrocortisone, umum digunakan dalam bentuk salep untuk pengobatan sengatan serangga.
  • Benadryl, umum digunakan sebagai obat anti alergi.
  • Dimenhydrinate, umum digunakan untuk mengurangi gejala pada mabuk perjalanan ataupun muntah-muntah pada masa awal kehamilan.

Obat-obatan untuk mencegah racun pada makanan seperti arang aktif (Norit).

Obat-obatan untuk mencegah diare seperti Loperamide atau Immodium.

Jangan lupa untuk menambahkan obat-obatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan pemakai seperti inhaler pada penderita asma misalnya.

Peralatan pendukung seperti:

  • Gunting
  • Pinset
  • Selimut atau thermal blanket
  • Senter
  • Notes dan alat tulis
  • Termometer

 

* Dirangkum dari berbagai sumber *

Just Another Bag Story

Posted: April 6, 2014 in Article, Pengenalan EDC

IMG_7687

Picture by : Yogi Mahendra

Banyak sekali merk dan model tas yang ditawarkan pasaran pada saat ini, hingga terkadang menyulitkan kita untuk dapat memilih tas yang sesuai dengan kebutuhan.  Hal ini semakin sulit bila teman-teman memiliki budget yang terbatas yang tidak memungkinkan untuk memiliki lebih dari satu tas yang dapat difungsikan sesuai dengan keadaan yang kita hadapi, misalkan tas untuk bekerja, tas untuk kegiatan alam bebas atau sekedar untuk berjalan-jalan bersama keluarga (Ninja Mall !! Hehehehehe).

Berikut ini saya akan mencoba memberikan sedikit tips yang mungkin dapat membantu teman-teman untuk menentukan tas mana yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Secara garis besar ada dua macam tas pada umumnya dipilih untuk membantu temen-teman dalam menjalani aktivitas sehari-hari, yaitu tas ransel (backpack) ataupun tas sandang (messenger bag) yang tentunya maasing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tas Alex

Picture by : Charlie Alex

Tas Ransel :

Tas ransel merupakan tas yang paling umum digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih banyak menggunakan aktivitas fisik maupun kegiatan yang membutuhkan kemudahan untuk dapat bergerak lebih bebas.

Kelebihan:

  • Dapat memuat lebih banyak barang
  • Lebih dinamis
  • Lebih efisien untuk penggunaan dalam waktu yang lebih lama.

Kekurangan:

  • Akan terasa sangat tidak nyaman bila digunakan dalam jangka waktu yang lama dalam cuaca panas.
  • Tidak tersedianya cukup kompartemen untuk mengorganisir peralatan
  • Bila mana dalam kondisi penuh juga menyulitkan kita untuk dapat mengakses dengan cepat barang-barang yang dibutuhkan.

Pada saat sekarang ini hal tersebut telah coba diatasi dengan penggunaan pouch seperti Maxpedition EDC Pouch ataupun dengan penerapan molle  yang mana tas menyediakan tempat-tempat yang memungkinkan teman-teman untuk dapat melakukan penambahan kantong-kantong eksternal yang dapat membantu untuk mengorganisir peralatan teman-teman.

EDC Messenger

Picture by : Juan Christie

Tas Sandang:

Kelebihan:

  • Cocok untuk digunakan dalam cuaca yang panas
  • Tersedianya cukup kompartemen untuk dapat mengorganisir barang-barang
  • Lebih mudah mengakses barang-barang saat dibutuhkan

Kekurangan:

  • Tidak nyaman untuk dipakai memuat barang-barang yang berat dan banyak dalam waktu lama
  • Agak menyulitkan bila digunakan pada kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak aktivitas fisik.

Tas Yosa

Picture by: Yosa ‘Hellsuite”

Adapun beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pertimbangan teman-teman saat akan memilih tas yang nyaman dan tepat:

  • Jenis aktivitas yang teman-teman sering jalani sehari-hari, indoor atau outdoor, formal atau informal, wilayah perkotaan atau alam bebas, dll.
  • Perlengkapan atau barang-barang yang sering atau harus  dibawa untuk mendukung aktivitas tersebut, untuk menghindari pembelian tas yang oversize atau undersize.
  • Lama waktu yang biasanya dihabiskan untuk menjalani aktivitas tersebut.
  • Kondisi fisik teman-teman, seperti misalnya memungkinkan atau tidak menggunakan messenger bag yang notabene bertumpu pada satu bahu saja, atau mungkin memiliki permasalahan pada tulang belakang yang mengharuskan menggunakan backpack yang memiliki tingkat ergonomis yang tinggi, dll.
  • Kendaraan yang sering digunakan untuk mendukung aktivitas teman-teman, messenger bag agak menyulitkan bila digunakan saat mengendarai kendaraan roda dua misalnya.

IMG-20131227-WA0025

Picture by : Tomo ‘Equator Knives’

IMG_7688

Picture by : Yogi Mahendra

So, what’s yours today? 🙂

YogiEDC01

Included in this picture:

  • Protrek PRG 240
  • Jetbeam PC10
  • Boker Plus Toucan with Jeepaing Custom Kydex
  • Samsung S4 with Urban Armour Gear Hard Case

Picture By : Yogi Mahendra