Archive for the ‘Article’ Category

Writer : Muhammad Rasyad Bisma Wiratara 

HT01

Selamat pagi rekan-rekan EDC Indonesia, setelah beberapa waktu tidak mengirim tulisan ijinkan kali ini saya berbagi tulisan, yang pada akhirnya menjadi pelajaran bagi saya pribadi agar jangan minder dan jangan dengarkan perkataan miring orang lain mengenai peralatan / gear yang kita bawa dalam EDC harian. Kisah ini bagi saya pribadi menjadi titik balik / turning point  saya, mengenai kesadaran akan kesiapsiagaan sebagai dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum memulai lebih lanjut, izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Muhammad  Rasyad Bisma Wirata, biasa dipanggil Bisma, seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan  kelas 2.  Dalam keseharian saya selalu membawa peralatan EDC ringan seperti obat-obatan, Leatherman Micra dan senter di tas, bersama printilan lain. Namun, semenjak 5 bulan lalu ada satu gear yang saya tambahkan yaitu sebuah handheld transceiver atau biasa di sebut HT keluaran Alinco dengan seri DJ-W500. Beberapa komentar iseng dan miring sudah sering saya dengar, seperti  “Ngapain bawa HT?”, “Buat apa? Kayak satpam aja sih?”, dan masih banyak lagi, yang keluar dari teman-teman sekeliling saya.

HT03Gambar 1. Bagian depan HT

Bagian depan HT ini memiliki layar dan keypad, memudahkan kita untuk melihat dan menginput frekuensi yang kita kehendaki. Kenapa saya memilih HT seperti ini, karena tipe ini bukan tipe profesional yang mengharuskan input melalui komputer, mengingat saya adalah pengguna amatir yang menginginkan dapat melakukan perpinadahan frekuensi dimana saja tanpa harus bergantung pada komputer. Fungsi-fungsi dasar HT juga terdapat pada shortcut  dibagian keypad. Layar depan HT ini bisa menampilkan dua  frekuensi (digambar frekuensi sudah di save dan diberi nama) agar dalam situasi yang perlu standby pada 2 frekuensi dapat dilakukan.

HT04Gambar 2. Bagian kiri HT

Pada bagian kiri HT terdapat tombol PTT (fungsi transmisi) dan tombol untuk mengecek voltase baterai.

HT05Gambar 3. Bagian kanan HT

Pada bagian kanan HT terdapat slot untuk handsfree / ekstra microphone yang bertujuan untuk mempermudah penggunaan disaat kita membutuhkan mobilitas yang tanggi.

HT06Gambar 4. Bagian belakang HT

Sedangkan pada bagian belakang HT terdapat pocket clip yang kuat ( ini wajib, agar HT tidak terlepas). HT ini juga memiliki 2 knop rotari diatas , satu untuk volume dan satu lagi berfungsi sebagai memory switch.

Berikut ini saya akan coba berbagi sebuah pengalaman saya yang juga menjadi alasan kenapa saya yakin bahwa HT menjadi bagian penting dari EDC gear saya sehari-hari.

Pada 10 Maret 2018, saya diajak mendaki ke Gunung Panderman yang berlokasi di Batu, Jawa Timur. Saya beserta ketiga teman saya (salah satunya membawa HT juga) berangkat dari kota Malang dan dari awal memang memiliki niat untuk melakukan uji coba HT di gunung tersebut sembari berkemah. Kami berangkat pada pukul 22.00  WIB dan tiba di sana pada pukul 23.30 WIB. Setelah melakukan registrasi, naiklah kami dengan tujuan Latar Ombo sebagai titik dimana kami dapat berkemah. Pendakian relatif sedikit licin karena hujan yang mengguyur. Pada saat kami tiba di Latar Ombo, salah satu adik kelas yang sudah berangkat lebih dulu melaporkan ke kami mereka menemukan satu penyintas di salah satu jalur sebelum Latar Ombo. Saat kami temukan, pria itu  dalam kondisi basah dan tanpa alas kaki dan tanpa tas. Rupanya dia adalah solo hiker, berangkat dari sore namun  di tengah trek dia tersesat dan terkena hujan, tergelincir jatuh dan mengalami memar serta luka. Tas carriernya tertinggal di jalur pendakian dan pada saat ditemukan hanya membawa tas slempang.

Mengingat kondisinya yang sedikit memprihatikan, kami pun segera memasang tenda, memasak air sembari mencoba menstabilkan kondisi korban dan bertanya mengenai kejadin sesungguhnya. Setalah bertanya dan melihat kondisi korban, dugaan awal kami korban menderita Hipotermia, yang artinya membutuhkan perawatan lebih lanjut. Kamipun segera coba mengontak nomor yang ada di tiket registrasi, yang ternyata  adalah nomor PERHUTANI dan tidak dapat dihubungi. Tak putus asa, saya keluarkan HT saya dan coba mengontak frekuensi RJT Kota Malang yang diterima Mas Dandi Widhi. Ternyata karena kami berada di Batu rekan rekan RJT tidak dapat mengkondisikan, maklum saat mengkontak kami lupa menyebutkan lokasi di Batu (karena panik mungkin), setelah itu kami mencoba frekuensi RAPI lokal daerah Batu yang diterima dengan baik biarpun kami tidak menggunakan 10 kodenya RAPI, tapi sedikit kode bisa saya pahami yang menanyakan identitas saya sebagai operator.

Setelah identtitas kami dan penyintas jelas kami diberi kabar bahwa rekan BPBD Kota Batu yang dipimpin oleh Ockta Hero akan segera meluncur ke lokasi kami berkemah. Hati kami lega mendapatkan kabar tersebut. Setelah beberapa waktu menunggu, rekan-rekan BPBD datang (sejumlah 9 personel) dan langsung melakukan pengecekan kondisi korban dan melakukan penanganan dan kemudian pada pukul 02.00WIB korban di bawa kembali untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Kami sangat berterima kasih kepada RAPI dan BPBD Kota Batu atas responnya yang sangat cepat.

HT07

Berkaca dari kejadian tersebut, saya sangat bersyukur membawa HT pada saat itu dan memahami harus mengkomunikasikan berita kejadian dan siapa yang harus dihubungi pada saat terdesak. Bisa dibilang satu nyawa telah terselamatkan dari HT Alinco hitam ini. Teman-teman seregu saya juga lega dan banyak bersyukur dapat membantu sesama. Semenjak itu tidak ada keraguan saya dalam membawa HT ini dan ingin segera memiliki ijin resmi agar semakin legal dan nyaman dalam menggunakan jalur komunikasi ini.

Terimakasih banyak rekan rekan RJT Kota Malang untuk kesediaan frekuensinya darurat di wilayah Kota Malang (Mas Dandi Widhi), Besar harapan saya bisa saling membantu sesama seperti rekan RJT (hehehe). Rasa salut juga saya berikan kepada rekan BPBD Kota Batu (Om Ockta Hero) dan rekan RAPI se Nusantara khususnya kota Batu atas frekuensi dan bantuan hubungan ke BPBD.

HT08Penulis

Spesifikasi Teknis Alinco DJ-W500

General
Frequency range: [T: TX] 144 – 148MHz, 420 – 450MHz
[T: RX] 136 – 174MHz, 400 – 480MHz
Modulation: F3E (FM)
Frequency step: 2.5, 5, 6.25, 8.33, 10, 12.5, 20, 25, 30 and 50KHz
Memory channel: 200 memory channels in total
Antenna impedance: 50ohm unbalanced
Frequency stability: +/- 2.5ppm
Supply voltage: DC 7.4V (Battery)
Current consumption: 1400mA TX / 300mA receive at Max audio output
70mA squelched
Battery-save ON: average 27mA
Temperature range: Unit -20 ~ +55digC (-4 ~ 131digF)
Battery packs: -10digC to +45digC (+14 to +113digF)
Dimensions: 59.0W~98.0H~35.0D mm or 2.32W~3.86H~1.38D inches w/o projection
Weight: Approx.227g or 8.01oz inclusive of battery pack and antenna
Transmitter
Power Output:
(Approx.value)
Approx.5 / 2.5 / 1W
Modulation: Variable reactance FM
Spurious emission: -60dB or less
Max. deviation: FM : +/- 5KHz NFM: +/- 2.5KHz
Receiver
System: Direct-conversion
Sensitivity: Wide -12dBu / Narrow -9dBu
Intermediate frequency: 1st IF 38.85MHz, 2nd IF 450 KHz
Selectivity: -6dB : Wide 12kHz /Narrow 10kHz or more
-60dB :Wide 30kHz / Narrow 24kHz or less
AF output: 1W (10% distortion)

 

 

Advertisements

Forging For Dummies

Posted: April 23, 2018 in Article, Knife, Pengenalan EDC

20180423_201555

Source : Cornelius Rusandhy , Writer : Yogi Mahendra

Kepada teman-teman pembaca setia blog ini pasti pernah mengingat salah satu tulisan saya pada beberapa tahun lalu, Knives For Dummies. Nah, kali ini sebagai kelanjutannya saya akan mencoba untuk mengulas sedikit mengenai proses penempaan pisau, atau dengan biasa juga disebut forging. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bro Cornelius yang menyempatkan waktunya menjadi narasumber dan mempraktekkan dasar-dasar penempaan agar saya dapat dengan mudah mengerti materi yang akan saya jabarkan di bawah ini. Harap diingat, materi yang saya jabarkan di bawah ini adalah garis besar agar para pemula dapat mengerti istilah dan konsep dasar penempaan pisau. DIbutuhkan pembelajaran lebih lanjut agar dapat mengerti lebih detail proses pembuatan pisau dan karakteristik baja itu sendiri.

Secara garis besar teknik forging atau penempaan terbagi atas 2, yaitu :

  1. Stock Removal

= Pembuatan pisau dengan metode pemotongan, grinding tanpa melalui proses tempa pada umumnya. Biasanya bahan yang digunakan sudah berbentuk plat yang sesuai dengan ukuran pisau dan langsung di gambar dan kemudian dipotong sesuai bentuk designnya.

  1. Forging / penempaan

= Proses pembuatan pisau dengan menggunaka suhu panas dan dibentuk melalui beberapa proses penempaan yang akan dujelaskan lebih lanjut dibawah ini.

20180423_202117

Istilah-istilah umum pada penempaan (beberapa istilah yang berkaitan dapat ditemukan di tulisan Knives For Dummies) :

  1. Heat Treatment atau HT : adalah proses pemanasan pada baja untuk mendapatkan struktur atom yang kita inginkan.
  • Anilling : proses mengembalikan kondisi baja kepada kondisi terempuk untuk mempermudah pembentukan dalam proses dingin (gerinda, bor, kikir, dll)
  • Normalizing : proses mengembalikan struktur baja pada kondisi stabil dan merata. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terjadinya warping (pembengkokan).
  • Hardening : proses pengerasan pada baja dengan merubah struktur.
  • Quenching / penyepuhan : proses pendinginan mendadak dari suhu tinggi yang dicapai pada proses hardening untuk menghasilkan struktur terkeras yang bisa dihasilkan sebuah baja.
  • Tempering : proses yang dilakukan dengan menggunakan suhu panas untuk menurunkan kekerasan dan menambah ‘keuletan’ baja.
  1. Profile Forging : proses pembentukan material menjadi bentuk yang kita inginkan
  2. Bevel Forging : penempaan pada mata bilah untuk mendapatkan sudut bevel yang kita inginkan
  3. Hardness Rockwell : satuan kekerasan yang umumnya digunakan pada logam. Ada beberapa skala yang biasa digunakan yaitu :
  • HRA : dulunya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam non-ferrum
  • HRB : biasanya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam dengan kandungan ferrum
  • HRC : umumnya digunakan untuk mengukur kekerasan material pada bahan bahan baja atau Ferrum-Carbon
  1. Anvil : landasan tempa
  2. Tongs / Capit : alat bantu untuk ‘memegang’ material yang akan di tempa. Harap dingat, bahwa pemilihan capit yang tepat dan cara memegang yang benar amat penting diperhatikan karena cara memegang yang tidak tepat dan capit yang kurang baik dapat menyebabkan baja yang akan di tempa dapat terlepas dengan mudah dan akan membahayakan penempa dan orang-orang disekitarnya.
  3. Forge / Tungku : alat yang digunakan untuk memanaskan logam. Secara garis besar berdasarkan bahan bakar atau sumber energy yang digunakan tungku terbagi 3 :
  • Solid Fuel Forge : tungku dengan bahan bakar seperti arang, batu bara, bricket, dll. Ketelitian dibutuhkan dikarenakan bahan bakar ini memiliki tingkat panas yang sulit dikendalikan.
  • Gas Forge : tungku yang menggunakan bahan bakar gas seperti Propane, Butane atau campuran. Kelebihannya adalah pengaturan panas lebih mudah dan material yang dihasilkan lebih ‘bersih’ tanpa terlalu banyak kerak.
  • Electric Forge : Tungku yang menggunakan bahan bakar listrik. Kelebihannya adalah konsumsi panas yang lebih merata namun tidak efisien karena membutuhkan daya yang amat besar.

20180423_213228

Untuk Quenching, material yang umum digunakan secara garis besar terbagi 3 :

  1. Udara, merupakan media yang paling lambat dalam melakukan proses pendinginan. Berdasarkan tekanannya udara terbagi dua :
  • Udara bebas / suhu ruangan
  • Udara bertekanan tinggi
  1. Minyak (oil), berdasarkan cooling rate, flash point dan viskositasnya minyak terbagi 2 jenis (Semakin kental minyak, semakin lambat proses pendinginannya) :
  • Slow oil
  • Medium oil
  • Fast oil
  1. Air, media tercepat dibandingkan media lainnya dalam melakukan proses pendinginan. Bedasarkan kandungannya air terbagi tiga :
  • Air asin
  • Air yang mengandung ion
  • Air yang ditambahkan dengan campuran lain seperti cornstarch agar tidak terlalu cair dan menghindarkan perubahan suhu yang ekstrim dalam proses pendinginan.

20180423_213603

Material yang umum digunakan pada proses pembuatan pisau (Notes : untuk proses penempaan pisau, baja yang digunakan harus memiliki kandungan Carbon diatas 0.25%, yang berguna untutk mingkatkan kekerasan dan kekuatan pada baja tersebut hingga mampu di ‘dikeraskan’ pada saat proses heat treatmenthardening. Namun kandungan Carbon yang terlalu tinggi atau diatas 1.5% dapat menyebabkan baja menjadi sangat ‘getas’, oleh karena itu untuk jenis High Alloy Steel yang memiliki kandungan Carbon tinggi harus diseimbangkan dengan kandungan-kandungan alloy lainnya seperti Silicone, Nickel atau Chromium.) :

  1. Spring steel / baja per: ideal karena mudah dikerjakan (proses penempaan lebih mudah, termasuk proses HT), mudah didapat dengan harga yang relatif murah dan memiliki tingkat toughness yang lebih baik sehingga tidak mudah patah dan memiliki level hardness yang cukup untuk mempertahankan ketajaman. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.35% sampai 0.9%.
  2. Tool steel : contoh material ini adalah kikir, O1, dll. Kelebihan dari material ini adalah dapat mencapai kekerasan / edge retention diatas spring steel pada umumnya, namun lebih mudah berkarat. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.75% sampai 1.1%.
  3. Dies Steel : contoh material ini adalah D2, alat pemotong pada industri kertas, dll. Kelebihannya adalah umumnya lebih tahan karat dan memiliki kekerasan yang tinggi. Adapun kekurangannya adalah toughness yang tidak sebaik spring steel dan tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 1% sampai dengan 2%.
  4. Ball Bearing Steel : memiliki karakter yang hampir sama dengan tool steel, dengan ketahanan karat yang lebih baik daripada tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.8% sampai 1.5%.
  5. Stainless Martensitic Steel : contoh material ini adalah 440C (atau bisa didapatkan pada bearing stainless steel yang biasa digunakan pada industri maritim). Varian dari Stainless Steel yang dapat dikeraskan melalui proses heat treatment. Kelebihannya adalah lebih tahan karat. Umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 1%.
  6. High alloy steel : Biasanya digunakan sebagai bahan untuk pisau premium, control material ini adalah CPM S30V, Elmax, de el el. Dapat mencapai kekerasan yang tinggi dan umumnya lebih tahan terhadap karat. Kekurangannya adalah, mahal, susah didapat dan poses penempaannya membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap karakter masing-masing baja tersebut. Kandungan Carbon umumnya diatas 0.7%
  7. Nickel steel : contoh material ini adalah mata chainsaw dan bensaw. Memiliki karakter lebih tangguh, namun memiliki edge retention yang tidak sebaik tool steel. Nickel steel yang digunakan untuk menjadi bahan pembuatan pisau harus umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 0.5%, namun harus memiliki kandungan Nickel diatas 1%.

20180423_201905

Beberapa material handle yang umum digunakan (Notes : belum ada aturan baku antara hubungan material baja, jenis pisau yang akan ditempa dan jenis handle yang digunakan. Pada akhirnya ini lebih kepada preferensi masing-masing) :

  1. Kayu
  2. Tulang
  3. Tanduk
  4. Plastic Engineering : G10, micarta, UHMW, CF
  5. Resin Based

20180423_201819

Alur proses penempaan :

  1. Designing : proses pembuatan design pisau, dari proses gambar hingga pembuatan ‘mal’ pembantu.
  2. Profile Forging : proses penempaan untuk mendapatkan bentuk kasar pisau sesuai dengan design yang diinginkan

20180423_202208

  1. Normalizing
  2. Rough Grinding / Beveling : Untuk merapikan dan memperoleh bentuk dasar pisau
  • Profile grinding : Untuk memperoleh profile sesuai design yang diinginkan
  • Bevel grinding : Untuk memperoleh bentuk dasar bevel.

20180423_202337

  1. Hardening
  2. Quenching
  3. Final Grinding

20180423_202425

  1. Hand sanding
  2. Pembuatan gagang
  3. Finishing

20180423_202504

Pada akhirnya yang terbaik untuk dapat mengerti proses secara keseluruhan adalah melakukan praktik dan memahami proses tersebut secara langsung. Anyway, mohon abaikan orang yang menjadi model dalam foto-foto di tulisan ini.. hehehehehe

Persistence is to the character of man as carbon to steel – Napoleon Hill

Coffee Corner

Posted: April 21, 2018 in Article

Author : Pautomo Sulistio, Editor : Yogi Mahendra

EDCiD-Coffee Corner

IMG-20180420-WA0008

Beberapa teman-teman akan bertanya mengapa kopi menjadi bagian dari EDC, yang tentunya sedikit ganjil terdengar. Namun ini sesuai dengan perkembangan jaman dimana kopi bagi sebagian orang sudah menjadi bagian dari gaya hidup, kebiasaan dan kultur, serta banyak teman-teman yang menjadikan perlengkapan membuat kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari tool wajib sehari-hari, terutama dengan alasan klasik untuk menjaga ‘kewarasan’ setelah lelah bekerja 🙂

Siapa yang tidak tahu tentang kopi, tentunya kita semua pernah mencoba ataupun malah menggemarinya. Kopi adalah minuman terbanyak kedua yang diminum orang-orang setelah air putih. Hampir disetiap penjuru kota-kota di Indonesia maupun luar negeri terdapat warung kopi baik tradisional ataupun modern dengan segala teknik pengolahan dan peralatannya.

Tulisan ini akan mencoba mengulas kopi secara ringan dan mendasar agar pembaca yang baru mencoba mendalami seni pengolahan kopi dapat mengikutinya dengan mudah.

IMG-20180420-WA0012

Secara umum, jenis kopi yang paling banyak diminum adalah jenis Arabica dan Robusta dimana masing masing mempunyai perbedaan rasa dan juga yang pasti mempunyai penggemar fanatiknya masing-masing.

Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah dari karakter rasa yang dihasilkan. Secara umum Robusta mempunyai tekstur (body) yang lebih kental dibandingkan dengan Arabica. Rasa juga dapat dengan mudah dikenali dari kedua jenis kopi ini, Robusta cenderung lebih pahit dan creamy (gurih) sedang Arabica cenderung lebih asam.

Perbedaan umum antara Robusta dan Arabica:

  • Robusta memiliki tingkat kafein yang lebih tinggi (2.7%) dibandingkan Arabica (1.5%), sehingga Robusta lebih terasa pahit dibandingkan Arabica. Ini pulalah yang menyebabkan bagi sebagian pecinta kopi sering kita mendengar ungkapan bahwa Robusta memiliki efek yang lebih ‘nendang’ dibandingkan Arabika
  • Robusta memiliki kadar gula yang lebih rendah dibandingkan dengan
  • Bentuk biji kopi Robusta cenderung lebih membulat, sedangkan Arabica cenderung lebih oval
  • Kadar asam di Robusta lebih tinggi dibanding dengan Arabica. Ini ditunjukan dengan prosentase kadar Chlorogenic Acid (CGA) Robusta 7-10% CGA sedangkan pada Arabica hanya 5.5-8% CGA.

Oleh karena itu untuk peminum kopi yang memiliki riwayat asam lambung, disarankan untuk memilih kopi Arabica.

IMG-20180420-WA0009

Setelah itu kita akan membahas tentang alat alat yang digunakan untuk brewing, mulai dari yang sederhana sampai yang lebih lanjut dan spesifik.

  • Sumber Air Panas

Bisa berupa teko listrik ataupun teko konvensional dengan kompor.

  • Penggiling Kopi (Grinder)

Penggiling kopi saya anggap salah satu alat kopi terpenting karena grinder ini adalah jembatan antara biji kopi dan air (panas).

Roasted coffee beans and hot water to make a cup of coffee, and the grinder is THE mediator to make a good one.

Grinder ini pada dasarnya ada dua model, Electric dan Manual Grinder, yang penggunaan nya disesuaikan dengan situasi dan kondisinya.

  • Coffee maker (French Press, PourOver)

French Press ini bekerja dengan cara merendam bubuk kopi dengan air sampai waktu tertentu dan kemudian menekan tangkai tuas (plunger) untuk memisahkan kopi dan ampas nya. French Press ini sesuai nama nya ditemukan di Prancis dan dipatenkan pertama kali tahun 1958 oleh Faliero Bondanini.

PourOver bekerja dengan cara mengalirkan air diatas kopi dengan cara memutar, menetes ataupun kombinasi. Dalam metode PourOver ini, air hanya melewati kopi sajam tidak merendam seperti pada French Press. PourOver sendiri ada beberapa macam model yang akan dibahas di jenis jenis media penyaring. PourOver pertama kali ditemukan oleh seorang ibu rumah tangga di Jerman bernama Mellita Bentz tahun 1908.

  • Ketel leher angsa

Ketel ini mempunyai leher yang panjang dan menyempit sehingga aliran air dapat dengan mudah diatur seberapa deras diperlukan dan juga memudahkan untuk mengarahkan aliran air pada saat dituangkan.

  • Media penyaring (kertas, kain, kasa kain atau metal)

Media Penyaring (filter) ini sering digunakan para penikmat kopi sesuai dengan selera mereka masing masing. Metal filter umumnya digunakan pada French Press. Metal filter ini menyaring ampas kopi tetapi masih membawa minyak dari kopi yang mempunyai rasa yang dicari beberapa orang yang menyukainya.

Cloth Filter atau filter dari kain, biasanya kain katun dengan kerapatan yang cukup untuk menyaring sebagian minyak dan ampas halus dari bubuk kopi. Beberapa orang menyebut Cloth Filter ini sebagai filter ‘Hybrid’ alias penengah antara Metal Filter dan Paper Filter. Cloth Filter ini dapat dipakai berulang kali selama tidak sobek.

Paper Filter merupakan filter dengan kerapatan paling tinggi dan karena terbuat dari kertas maka kemampuan menyaring minyak kopi juga lebih tinggi sehingga kopi lebih bersih dan terbebas dari sedimen halus sekalipun.  Paper filter ini mempunyai beberapa model yang biasanya terbagi kedalam tiga kategori yaitu Kerucut (cone V60), Trapesium dengan bagian datar dibawahnya (Flat Bottom) dan Wave dengan model keranjang dan memiliki lipatan lipatan disekeliling dindingnya.

  • Thermometer (penunjuk suhu air)

Peran Thermometer disini adalah untuk mengetahui suhu air yang diinginkan, kita bisa mendapatkan hasil yang berbeda dengan suhu yang berbeda.

Pengaruh suhu air terhadap kopi adalah karena semakin tinggi suhu, semakin banyak partikel kopi yang akan larut kedalam minuman. Alangkah baiknya apabila suhu air berkisar antara 80-950 Celcius karena apabila dibawah 800 Celcius, kopi tidak akan larut sempurna (under-extracted) dan apabila menyentuh 1000 Celcius maka keseluruhan partikel kopi (termasuk yang tidak diinginkan) akan ikut masuk kedalam minuman kita (over-extracted). Suhu ideal itu akan didapat apabila kita telah mencoba beberapa kopi yang diseduh dengan suhu yang berbeda.

  • Timbangan dan penunjuk waktu

Timbangan dipakai untuk menakar jumlah kopi, air yang digunakan untuk brewing serta penunjuk waktu (timer) untuk menentukan berapa lama proses brewing itu sendiri.

Timbangan dan timer ini sangat membantu untuk mencapai hasil yang konsisten di setiap proses brewing, dengan bantuan kedua alat ini dapat dengan mudah mengulangi seduhan yang menurut kita enak dan pas tanpa harus menduga duga. Sebagai contoh, kopi yang terlalu cepat diseduhnya akan terasa hambar cenderung asam, sebaliknya kopi yang terlalu lama diseduh akan muncul rasa ‘getir’ atau pahit yang tidak nyaman dimulut.

  • Wadah penampung minuman (Server, Cup, Tumbler)

Setelah kopi jadi ini adalah pilihan tentang bagaimana kita akan menikmati kopi ini, langsung diminum sendiri, bersama sama (server) ataupun untuk dibawa di perjalanan.

Setelah pembahasan diatas mari kita mencoba untuk brewing dengan salah satu metode yang saya pilihkan untuk keperluan artikel ini yaitu dengan PourOver, mengapa PourOver, karena metode ini sedang banyak digandrungi oleh penikmat kopi di dunia.

Alat alat dan bahan yang diperlukan adalah:

  • V60 brewer
  • V60 filter
  • Grinder
  • Ketel Leher Angsa
  • 20 gram kopi
  • Air panas (900 Celcius sebanyak 300 ml/gram)
  • Timbangan
  • Timer

Cara penyeduhan:

  1. Lipat filter pada sambungan hingga berbentuk kerucut dan tempatkan pada penetesnya, bilas seluruh permukaan filter hingga basah merata. Tujuan nya adalah untuk menghilangkan bau kertas yang mungkin masih tertinggal, dan juga untuk menghangatkan alat seduh hingga suhu ideal (alat seduh yang dingin dapat menurunkan suhu yang ingin dicapai) setelah itu jangan lupa untuk membuang air bilasannya.
  2. Giling kopi dengan tingkat kehalusan sedang (tidak terlalu halus dan tidak terlalu kasar) kemudian tuang secara merata kedalam filter. Ada baiknya kita mengetuk penetes satu dua kali agar bubuk kopi rata.
  3. Langkah selanjutnya adalah membasahi kopi dengan air sampai seluruh permukaan kopi basah (Blooming). Tujuan dari proses ini adalah menghilang kan karbondioksida dari kopi dan membuka pori pori kopi agar siap untuk seduhan selanjutnya. CO2 ini penting untuk dihilangkan karena berpotensi untuk membuat ‘halangan’ bagi air untuk membasahi kopi. Beberapa orang juga menyebut Blooming dengan istilah Degassing (proses menghilangkan gas CO2). Banyaknya air yang digunakan ini bisa beragam, tetapi agar mudah diingat, biasanya menggunakan rasio dua kali dari jumlah kopi yang digunakan. Disini kita menggunakan 20 gram kopi, jadi air yang dipakai untuk membasahi kopi ini adalah 40 gram. Waktu yang diperlukan untuk Blooming adalah sekitar 30-45 menit tergantung jenis kopi dan kesegaran kopi. Semakin segar (freshly roasted) kopi, semakin lama waktu yang diperlukan untuk
  4. Tuang air dengan gerakan memutar, target waktu yang kita ingin capai adalah 3 menit. Kita dapat menyesuaikan aliran air dengan waktu yang ingin dicapai, semakin sering kita menyeduh, pola aliran air akan dikuasai dengan mudah. Peran timbangan dan timer disini sangat membantu karena kita dapat membandingkan antara target waktu dan jumlah air yang telah dituang.
  5. Setelah target waktu 3 menit tercpai, dan angka di timbangan menunjukkan angka 300 gram, proses penyeduhan selesai, dan penetes dapat dipindahkan ke tempat lain. Kertas penyaring dan bubuk kopi sebaiknya dibuang ke tanaman karena ampas kopi yang kaya akan nutrisi sangat baik untuk menyuburkan tanaman.
  6. Selamat menikmati minuman para dewa 🙂

IMG-20180420-WA0011

Didalam dunia kopi yang sangat luas ini, terlalu sulit untuk menuangkan seluruhnya kedalam artikel singkat ini, harapan saya adalah agar teman-teman dapat mulai untuk mengenal kopi secara singkat dan dapat mendalami nya sediri kemudian.

Mohon diperhatikan tentang alat dan metode yang disebutkan diatas bukanlah sesuatu yang absolut atau paling benar, itu hanyalah dari sudut pandang dan kebiasaan saya sebagai penikmat kopi, yang tentunya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Justru dengan perbedaan itulah kita akan semakin terpacu untuk menggali lebih dalam.

Apabila ada pertanyaan atau komentar, bisa dituliskan dibawah ini dan saya akan mencoba menjawab sesuai pengetahuan saya yang masih belajar ini.

Coffee is a lot more than just a drink; it’s something happening. Not as a hip, but like an event, a place to be, but not like location, but somewhere within yourself. It gives you time, but not actual hours or minutes, but a chance to be, like be yourself, and have a second cup.                                                      – Gertrude Stein –

Sebagai bagian dari upaya mengkampanyekan EDC sebagai bagian dari gaya hidup, dan menciptakan media yang mudah diterima oleh masyarakat, maka kami mencoba memindahkan beberapa tulisan yang pernah di muat kedalam blog ini ke dalam bentuk infografis yang lebih simple, berwarna dan mudah di aplikasikan ke dalam media cetak.

Kesempatan untuk mencoba media baru ini datang manakala EDC Indonesia mendapat kesempatan untuk membuka booth edukasi pada Gathering Nasional Indonesian Blades di Gedong Songo Semarang, 14 – 15 April 2018 lalu.

Melihat animo dan permintaan dari teman-teman pada acara tersebut, maka kami akan membagi infografis yang telah kami buat agar dapat disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih besar.

Pengenalan Pisau kepada Anak-anak

Untitled-1

First Aid Kit

Untitled-1

Bug Out Bag

Untitled-2

Kamipun memberikan kesempatan bagi teman-teman yang ingin memperbanyak infografis ini dalam bentuk hard copy selama tidak menghilangkan logo EDC Indonesia karena bagaimanapun ini merupakan kekayaan intelektual bagi kami, admin EDC Indonesia. Salam 🙂

 

 

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan ke saya dan teman-teman admin group Facebook EDC-iD mengenai seller ataupun maker pernak-pernik EDC, maka saya dan teman-teman berinisiatif membuat vendor/maker list yang diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan tersebut selain juga nantinya dapat membantu seller ataupun maker lokal untuk dapat bersaing dengan seller ataupun maker dari luar negeri. Disisi lain, list ini juga dapat membantu teman-teman yang ingin memiliki pernak-pernik EDC dengan harga yang lebih terjangkau dan dengan resiko seperti pengiriman internasional yang lebih kecil, barang hilang pada saat proses pengiriman, dan lain sebagainya.

So, happy shopping kepada para buyer dan wish you good fortune kepada para seller! 🙂

Catatan Penting :
Apapun deal yang dibuat ataupun permasalahan dikemudian hari yang timbul antara maker/seller dan buyer diluar tanggung jawab EDC Indonesia. Harap teliti dan bertanya kepada teman-teman yang punya pengalaman membeli di maker/seller yang dimaksud sebelum memutuskan untuk bertransaksi.
Terima kasih kepada Asa Munandri, CovenantEquator KnivesGoldy ShopParacraftz, Ruby Defense dan Strong Cow & Co. untuk sumbangan foto-fotonya.

 

  1. Nama Lapak : Alat Petualang
    Nama Seller: Sutjipto Huang
    Klasifikasi barang: EDC dan outdoor equipment
    Link Tokopedia : Klik disini
    Website : www.alatpetualang.com
    Email : alatpetualang@gmail.com
    No. Telp. : +62.858.8871.8181
    IG: alatpetualang
    Rating : Good seller
  2. Nama Lapak : Asa Munandri
    Nama Seller : Muhammad Asa Munandri
    Klasifikasi barang : EDC gear dan outdoor equipment, mengkhususkan diri untuk menjual pernak-pernik dengan brand Victorinox.
    Link Bukalapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Page FB : EDC Victorinox
    Email : asa.muh@gmail.com
    No Telp. : +62.878.3925.0599
    WA : +62.898.4917.219
    Alamat : Perumahan Sidoarum 2, Jalan Cereme B.9, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta
    Rating : Good seller
  3. Nama Lapak: Banteng Wulung Tactical
    Nama Seller: Purnama Giri
    Klasifikasi barang: EDC, tactical dan outdoor equipment
    Link Tokopedia : Klik disini
    Email : asephadianadipradja@gmail.com
    Link FB : Banteng Wulung Indonesia
    No. Telp. : +62.812.2171.1952
    IG: bantengwulungtactical
    Alamat (toko offline): Banteng Wulung Indonesia, Jl. Sukajadi Atas BLK 227, Bandung – 40153
    Rating : Good seller
  4. Nama Lapak : Covenant
    Nama Seller : Albert / Lius
    Klasifikasi barang : Beads, leather-craft, silver goods
    Website : http://www.covenantgears.com
    Email : covenant.gears@gmail com
    No. Telp. / WA : +62.812.3625.6000
    IG: covenant.gears
    Alamat (toko offline): Jl. M. Yamin VI no 6, Renon, Denpasar – Bali
    Rating: Recommended seller / maker
  5. Nama lapak : Contour Paracord
    Nama Seller: Dwi Kurniawan
    Klasifikasi : Bead, lanyard bead, bracelet.
    Web : Dwek Contour
    No Telp./ WA : +62.813.2534.9133
    Instagram : contourparacord
    Alamat (toko offline) : Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta
    Rating: Good seller
  6. Nama Lapak : –
    Nama Seller : Danang Amyluhur
    Klasifikasi barang: EDC, tactical dan Outdoor Equipment
    Page FB : Danang Amyluhur
    No. Telp: +62.878.0806.5021
    IG: d17_ ind
    Rating: Recommended Seller
  7. Nama Lapak : EDC Store Indonesia
    Nama Seller : Welly
    Klasifikasi barang : Senter & EDC equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Website : www.edc-store.com
    Email : info@edc-store.com
    No. Telp: +62.819.0116.0128
    IG: edcstore
    Rating: Good seller
  8. Nama Lapak: Eko Hobby’s Corner
    Nama Seller: Eko Nur
    Klasifikasi barang: EDC dan Outdoor Equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Email: izula@gmail.co.id
    No. Telp. : +62.819.0405.7878
    IG: hobbyscorner
    Rating: Recommended Seller
  9. Nama Lapak : Entong
    Nama Seller : Renaldy
    Klasifikasi barang: EDC dan Outdoor Equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Email: the_renaldy@yahoo.com
    No. Telp: +62.813.8208.0668
    Line: @renaldy
    IG: entong2593
    Alamat (toko offline): Jl. Kapuk Raya Gg. Las No.17 RT.006/05 Kel. Kapuk Kec. Cengkareng, Jakarta Barat –  11720
    Rating: Good seller
  10. Nama Lapak : Equator Knives
    Nama Seller : Pautomo Sulistio
    Klasifikasi barang : Pisau, accessories EDC dan outdoor equipment, authorized seller untuk pisau merk SpydercoChris Reeve dan Enzo Knives
    Website : www.equatorknives.com
    Email : pts652003@yahoo.co.uk
    No. Telp. / WA : +62.813.1053.1981
    IG : equatorknives
    Alamat (toko offline) : Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok, Lantai 1 Blok. B2 No.2-3 Jakarta Barat
    Rating: Recommended seller
  11. Nama Lapak : Goldy Shop
    Nama Seller : Yudi
    Klasifikasi barang : Flashlight/Headlamp
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Website : G0ldyShop
    No. Telp. / WA : +62.838.800.9908
    IG : g0ldys
    Rating : Recommended seller
  12. Nama Lapak : Mangpran Outdoor
    Nama Seller : Joseph Darajat Rachman
    Klasifikasi barang : EDC dan Outdoor equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Link Olx : Klik disini
    No. Telp. : +62.812.2322.6497
    IG: mangprangoutdoor
    Alamat : Jl. Kapten Harsono Sudiro No.152 RT.01/30 Babakan Karang, Ciamis, Jawa Barat
    Rating: Good seller
  13. Nama Lapak : Otel_Leathergoods
    Nama Seller : Hendra Wijaya
    Klasifikasi barang : Leather-craft, leather goods
    Email : gombong_otel@yahoo.com
    No. Telp. / WA : +62.813.3980.8130
    IG : otel_leathergoods
    Alamat (toko offline): Jl. Batas Kangin GA 14, Jimbaran – Bali
    Rating: Recommended maker
  14. Nama Lapak : Paracraftz
    Nama Seller : Sonny
    Klasifikasi barang : EDC gear, paracord stuff dan outdoor equipment
    Website : www.paracraftz.com
    Email : mawla01@gmail.com
    No. Telp. / WA : +62.812.230.6107
    Line/IG/FB : paracraftz
    Alamat (toko offline): Paracraftz Workshop
    Jl. Waruga jaya 203/24 RT.03/12, Ciwaruga, Bandung – 40559
    Rating: Recommended seller
  15. Nama Lapak : Project Alpha
    Nama Seller : Firmandana
    Klasifikasi barang: EDC dan Outdoor equipment
    Website: Project Alpha
    Email: projectalphadesign@gmail.com
    No. Telp: +62823-2103-9223
    Line: coming soon
    IG: project4lpha
    Rating: Good seller
  16. Nama Lapak : R Fahary
    Nama Seller : Rolly Fahary
    Klasifikasi barang : EDC equipment
    Email: rollyfahary@gmail.com
    No. Telp. : +62.838.9609.1170
    Alamat (toko offline) : Griya Sawangan Asri Blok E1/12 Pasir Putih, Sawangan Depok
    Rating: Good seller
  17. Nama Lapak : Rieco Rinaldi
    Nama Seller: Rieco Rinaldi
    Klasifikasi barang : EDC dan Outdoor equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Email: riecorinaldi95@gmail.com
    No. Telp: +62.857.4665.7899
    IG: riecrieco
    Rating: Recommended seller
  18. Nama Lapak : Ruby Defense
    Nama Seller: Danny Rahardian / Aryo Dewabrata
    Klasifikasi barang : EDC dan kydex holster
    Email : danny.rahardian@gmail.com
    No. Telp. : 08111552123
    IG : rubydefense
    Alamat (toko offline) : Menteng Residence, Bintaro.
    Rating : Good seller
  19. Nama Lapak : Strong Cow & Co.
    Nama Seller : Raymond Tambayong
    Klasifikasi barang : Leather works / leather crafts / leather Supply / leather enthusiast
    Email: sapikuat@gmail.com
    No. Telp: 081.333.505080
    IG: strongcow
    Alamat (toko offline): Perum. Villa Puncak Tidar, Blok U – 90.A, Malang, Jawa Timur
    Rating : Good seller
  20. Nama Lapak : Tokonline Jakarta
    Nama Seller : Halim Putra
    Klasifikasi barang: EDC equipment
    Link Buka Lapak : Klik disini
    Link Tokopedia : Klik disini
    Email: t0k0nline@yahoo.com
    No. Telp: +62.878.8768.6678
    IG: tokonline_jakarta
    Rating: Good seller
  21. Nama Lapak: WGGEAR
    Nama Seller: Raymon
    Klasifikasi barang: EDC equipment, carabiner, Tactical Pouch, Multitools, dll
    Link Tokopedia : Klik disini
    Email: raymontanaka@yahoo.com
    No. Telp.: +62.818.0690.8352
    IG: wggear 
    Rating: Good seller
  22. Nama Lapak : YS93 Shop
    Nama Seller: Yusuf Kurnia Steven Wijaya
    Klasifikasi barang: Tas tactical , pouch (brand : 5.11, Maxpedition, dll)
    Web : Yusuf Kurnia Steven Wijaya
    LinkTokopedia : Klik disini
    Email: yusuf_steven93@yahoo.com
    No. Telp. / WA : +62.857.4022.7229
    Line: yusufsteven93
    IG: yusufsteven
    Alamat (toko offline):  Semarang
    Rating: Recommended seller

 

Telapak Kaki dan Sepatu

Posted: August 13, 2017 in Article, Pengenalan EDC
Tags:

Setelah sekian lama ‘tidur’ akhirnya saya kembali mencoba untuk memberikan tambahan materi pada blog ini… Terima kasih kepada teman-teman, yang rajin mengingatkan dan menyindir-nyindir agar saya kembali menampilkan artikel…hehehehehehe..

Untuk kali ini saya akan mencoba mengulas tentang sepatu. Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang seringkali kebingungan pada saat akan memilih sepatu. Membeli langsung, kebingungan untuk memilih sepatu yang tepat, mencoba membeli online, tetap kebingungan karena selain banyaknya pilihan, juga pada istilah-istilah yang digunakan pada uraian spesifikasinya . Saya menyadari bahwa materi yang akan saya uraikan berikut ini belum terlalu lengkap karena (ternyata!! :)) banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari. Tapi setidaknya ini dapat sedikit membantu teman-teman kedepannya.

Sebagai awalan mungkin kita dapat melihat seperti apa bentuk anatomi telapak kaki teman-teman untuk kemudian dapat menentukan tipe sepatu seperti apa yang tepat. Harap diingat, telapak kaki kita menahan beban tubuh selama kita melangkah ataupun berlari, membentuk mekanisme penahan guncangan dan mekanisme penyeimbang agar kita dapat tetap berdiri tegak. Oleh karena itu amat sangat penting untuk dapat menjaga bagian ini agar tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara garis besar, ada tiga jenis istilah/kondisi yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan telapak kaki pada saat digunakan untuk berdiri atau melangkah dan berlari :

  1. Pronation / Eversion

Ini untuk menggambarkan kondisi normal telapak kaki pada saat digunakan untuk melangkah, dimana beban tubuh dibagi rata keseluruh jari kaki, dengan sedikit tambahan beban pada ibu jari dan telunjuk, yang memang dapat menampung beban lebih dibandingkan jari-jari lainnya.

  1. Overpronation

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah seluruh berat beban tubuh hanya di tumpukan pada ibu jari dan telunjuk, sehingga pergelangan kaki mengalami kesulitan untuk dapat mengatur keseimbangan. Pada kasus yang parah dimana telapak kaki rata menyebabkan tertariknya otot, urat dan ligament yang ada di telapak kaki. Untuk orang-orang yang cenderung bergerak seperti ini atau umumnya orang-orang yang memiliki telapak kaki rata disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi motion control, dimana sepatu jenis ini didesain untuk dapat mengurangi dan mengontrol efek dari gerakan kaki yang bergerak terlalu kedalam. Jenis sepatu ini biasanya lebih berat dan lebih kaku, namun lebih tahan lama. Pada kasus telapak kaki rata juga disarankan memakai orthotic atau insole yang dirancang khusus untuk dapat memperbaiki bentuk telapak kaki.

  1. Supination

Ini untuk menggambarkan kondisi dimana pada saat melangkah beban tubuh ditumpukan pada kelingking dan jari manis kaki yang secara struktur tidak kuat untuk menahan beban sedemikian besar dan mengakibatkan tegangan berlebihan pada otot dan urat yang ada pada pergelangan kaki dan mata kaki. Pada kasus yang yang parah atau kejadian dimana kita salah dalam melangkah dan melakukan gerakan ini secara mendadak dapat mengakibatkan terkilir atau patah pergelangan kaki. Untuk orang-orang yang memang cenderung mengalami pergerakan seperti ini, atau memiliki telapak kaki yang tinggi (telapak kaki melengkung), disarankan menggunakan sepatu yang memiliki spesifikasi cushioned, atau sepatu yang memiliki bantalan tinggi pada bagian insole nya yang memang di desain untuk meredam benturan antara kaki dengan lantai/tanah pada saat melangkah atau berlari.

Untuk dapat melihat bentuk telapak kaki melalui pertipisan pada sol sepatu dan bentuk telapak kaki teman-teman dapat mengacu pada gambar di bawah ini:

Telapak Kaki

Telapak Sepatu

Ilustrasi oleh : Bugsy Kepik

Tips untuk memilih sepatu yang tepat :

  1. Identifikasi akan jenis sepatu yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas teman-teman:
  • Hiking : Untuk jenis ini sebaiknya memilih sepatu jenis boot yang tidak terlalu tinggi, mungkin 5 atau 6 inci dengan bahan upper yang kokoh, traction sole atau daya cengkeram sol dengan tanah yang kuat dan pendukung pergelangan kaki yang baik.
  • Kegiatan alam bebas di suhu yang rendah atau cenderung basah : untuk jenis ini dapat memilih sepatu yang memiliki traction sole yang baik, memiliki insulasi udara dan bahan luarnya tidak mudah tertembus air, seperti Gore-tex Bila sepatu yang memiliki insulasi terlalu panas untuk dipakai pada saat biasa, mungkin dapat memilih sepatu yang berukuran lebih besar sehingga pada saat udara dingin dapat memakai lebih dari satu pasang kaus kaki namun bila udara panas dapat dengan mudah disesuaikan.
  • Sepatu olah raga : Salah satu jenis sepatu yang amat banyak model dan jenisnya, mulai dari sepatu untuk lari, basket, sepak bola, dll. Untuk jenis ini mungkin dapat dikonsultasikan dengan pemilik toko atau petugasnya pada saat teman-teman akan memilih sepatu.
  • Sepatu kerja ataupun sepatu pesta : Disini, seringkali model sepatu yang menjadi pilihan utama tetapi harap diingat bentuk telapak kaki teman-teman, seberapa sering digunakan untuk melangkah dan berjalan dan harus tetap nyaman dipakai.
  1. Pertimbangkan kondisi telapak kaki teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas.
  2. Semakin banyak support yang ada pada sepasang sepatu (arch support, insulated, steel toe, dll), maka akan semakin berat pula sepatu tersebut. Bila anda banyak berjalan atau berlari pada kondisi alam yang ringan, sebaiknya memilih sepatu yang ringan agar dapat mengurangi beban pada kaki.
  3. Sebaiknya membeli sepatu pada saat sore atau malam hari, karena telapak kaki agak membesar pada saat siang hari yang panas.
  4. Gunakan kaus kaki yang akan dipergunakan pada sepatu tersebut nantinya pada saat mecoba sepatu.
  5. Selalu mengukur sepatu pada saat akan membeli sepatu. Ukuran telapak kaki berubah, walaupun tidak secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia. Pada kasus dimana ukuran kaki yang kiri berbeda dengan yang kanan, belilah sepatu dengan ukuran yang berbeda pula.
  6. Berdiri pada saat mencoba sepatu, tekan ringan ujung jari terjauh di kaki (biasanya antara ibu jari atau telunjuk). Sebaiknya ada jarak sekitar 1 cm antara ujung jari terjauh dengan ujung sepatu, agar memberikan ruang pada jari kaki pada saat melangkah. Coba gerakkan jari-jari kaki untu dapat merasakan bahwa jari kaki memiliki ruang yang tepat dan tidak terlalu ketat.
  7. Coba berjalan dengan sepatu tersebut. Rasakan, apakah terlalu sempit, pas atau terlalu besar? Apakah tumit dan mata kaki nyaman saat melangkah? Jangan selalu berasumsi bahwa sepatu selalu membutuhkan masa ‘broken in’ atau masa agar sepatu menjadi nyaman untuk dipakai. Sepatu harus sudah nyaman sejak saat dibeli.
  8. Pilihlah sepatu yang benar-benar nyaman untuk teman-teman, jangan hanya melihat ukuran dan spesifikasi sepatu tersebut. Setiap pabrik memiliki ukuran sepatu yang berbeda-beda. Ukuran satu merk belum tentu sama dengan merk lainnya. Jangan termakan iklan teman-teman.. 🙂
  9. Perhatikan lebar sepatu, agar memberikan kenyamanan pada mata kaki dan telapak kaki. Membeli sepatu dengan ukuran lebih besar tidak menyelesaikan masalah, karena telapak kaki justru akan mudah ‘tergelincir’ pada saat digunakan.
  10. Rasakan bagian dalam sepatu, apakah ‘tag’, jahitan maupun material sepatunya dapat membuat teman-teman tidak nyaman.
  11. Perhatikan sol sepatunya, beli sesuai kebutuhan teman-teman seperti yang sudah dijelaskan diatas. Coba berjalan di lantai yang keras dan kemudian di permukaan yang lembut seperti karpet untuk dapat merasakan bedanya.

 

Beberapa istilah-istilah umum pada sepatu:

  1. Aglet : Ujung plastik pada tali sepatu, untuk memudahkan kita pada saat memasukkan tali sepatu kedalam lubang sepatu /
  2. Ankle Strap : Tali pengikat yang ada dibelakang sepatu dan melingkari pergelangan kaki. Biasanya memiliki buckle / pengikat yang dapat disesuaikan ukurannya.
  3. Arch : Bagian melengkung pada sol sepatu antara bantalan telapak kaki bagian depan dan tumit. Istilah ini juga merujuk pada bagian yang menonjol pada insole sepatu yang berfungsi untuk menunjang bagian tersebut.
  4. Back Seam : Jahitan tegak lurus pada bagian belakang sepatu
  5. Ball : Bagian telapak kaki antara ibu jari kaki dan lengkungan bagian dalam telapak / arch.
  6. Bellows Tongue : Lidah sepatu yang dijahitkan / menempel pada sisi depan atau samping dari sepatu. Juga berfungsi untuk menutup bagian atas sepatu agar tidak mudah kemasukan air.
  7. Boot Heel : Biasanya ditemukan pada sepatu model bot, dimana pada bagian tumit terdapat heel yang lebar, stabil namun tidak terlalu tinggi.
  8. Braided Thread : Model alur jahitan, dimana seluruh lapisan di jalin bersama-sama, tidah hanya dipilin sehingga lapisan-lapisan bahan memiliki daya perlekatan yang lebih baik.
  9. Brannock Device : Alat yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar sepatu agar mendapatkan sepatu yang benar-benar sesuai dengan ukuran.
  10. Burnish : Proses memoles kulit pada sepatu untuk mendapatkan kesan
  11. Cemented Construction : Konstruksi sepatu dimana bagian atas dari sepatu direkatkan langsung ke bagian sol sepatu, bukan di jahitkan seperti pada umumnya. Kelebihan model seperti ini adalah sepatu menjadi lebih elastis, lentur dan ringan.
  12. Collar : Bagian atas dari belakang sepatu bot, biasanya posisinya diatas tumit, memiliki bantalan untuk melindungi bagian tersebut dan memberikan kenyamanan.
  13. Contoured Footbed : Insole atau pelapis yang berada pada bagian dalam sepatu di cetak mengikuti bentuk sepatu.
  14. Dri – Lex : Konfigurasi dua lapis dari Hydrofill, dimana nylon fiber yang berfungsi sebagai penyerap kelembaban sebagai lapisan dalam dan lapisan pelindung kelembaban di jahit menjadi satu.
  15. Dual Density Midsole : Biasanya ditemukan pada model sepatu lari, dimana midsole menggunakan dua bantalan busa yang memiliki kepadatan yang berbeda dengan bantalan yang sedikit lebih tebal dibagian kaki yang lebih sering bergesek dengan permukaan.
  16. Elastic Gore : Panel elastis yang di masukkan kedalam sepatu untuk memberikan daya renggang yang baik.
  17. Energy Return : Biasanya ditemukan pada sepatu lari, ini adalah respon yang diberikan segera setalah sepatu beradu dengan permukaan tanah, dimana ‘dorongan’ otomatis diberikan untuk menciptakan langkah atau gerak yang efektif.
  18. V.A : Ethylene Vinyl Acetate, komposisi sintetik yang biasanya digunakan untuk outsole. E.V.A merupakan salah satu bantalan sol yang baik dan mudah dibentuk dengan proses yang menggunakan panas atau tekanan.
  19. Eyelet : Lubang untuk memasukkan tali sepatu.
  20. Fiberboard : Material sepatu yang biasanya terbuat dari bubur kayu, biasanya digunakan di telapak bagian depan atau untuk menaikkan posisi tumit (pada sepatu yang memiliki hak tinggi).
  21. Flat Heel : Sepatu yang memiliki tapak yang rata.
  22. Foxing : Strip karet yang menghubungkan bagian atas dan sol sepatu. Biasanya ditemukan pada sepatu model sneaker berbahan kanvas.
  23. Gore : Panel elastis yang biasanya berada pada bagian depan sepatu, untuk memudahkan memakai dan membuka sepatu.
  24. Heel : Bisa mengacu pada hak sepatu atau bagian belakang dari sepatu pada posisi tumit.
  25. Heel Counter : Bagian lebar pada hak sepatu, yang berfungsi untuk menahan benturan pada bagian tumit pada saat menggunakan sepatu yang memiliki hak.
  26. Hidden Gore : Panel elastis pada bagian depan sepatu yang biasanya tertutup oleh lidah sepatu. Berfungsi untuk memberikan kenyamanan pada sepatu.
  27. Injection Molded Construction : Tipe konstruksi sol sepatu dimana sol dibuat dengan cara menginjeksikan PVC cair atau material sejenis pada cetakan sol sepatu. Sering digunakan pada sepatu yang diproduksi dalam jumlah banyak karena tingkat efisiensinya.
  28. Insole : Bagian dalam sepatu dimana bagian bawah telapak kaki bertemu dengan dasar sepatu.
  29. Laces : Tali sepatu
  30. Lining : Material yang merupakan bagian dalam sepatu. Ada berbagai macam material yang biasanya digunakan sebagai lining, dengan masing-masing kelebihan dan keurangannya. Kulit misalnya, sangat nyaman dan lebih dingin bila digunakan, tetapi lebih lama kering bila basah, Goretex® merupakan bahan dengan tingkat water resistant yang amat baik, tetapi agak panas bila digunakan pada lokasi beriklim tropis.
  31. Mid-sole : Bagian antara sol bagian bawah dengan insole, merupakan bantalan pelapis antara sol dan insole dan berfungsi sebagai ‘penyerap’ benturan.
  32. Polyurethane : Biasa disingkat sebagai PU, merupakan material buatan yang memiliki bentuk dan kontur persis seperti kulit.
  33. Polyvynil Chloride : Biasa disingkat sebagai PVC, bahan plastic-metal yang agak kaku, biasa dipakai sebagai atasan hak sepatu yang tinggi dan pelapis sol bagian bawah untuk memberikan support yang lebih.
  34. Thermoplastic Rubber : (TPR) Material plastik yang oleh banyak perusahaan biasanya digunakan sebagai bahan dalam proses injection molding.
  35. Thermoplastic Urethane : (TPU) Material plastik yang biasa digunakan sebagai support pada bagian pinggir sepatu, biasanya digunakan pada sepatu lari.
  36. Toe Ridge : Cekungan horizontal pada telapak sepatu yang digunakan sebagai ‘dudukan’ pada jari dan juga berfungsi untuk peredam benturan. Biasanya ditemukan pada sandal.
  37. Vibram : Bahan yang digunakan sebagai bagian bawah telapak sepatu karena ketahanan, tidak licin saat digunakan, biasanya digunakan pasa sepatu untuk tracking atau hiking . Merupakan merk terdaftar dari Vibram S.P.A.
  38. Vulcanizing : Proses penyatuan sol thermoplastic atau karet dengan bagian sepatu dengan menggunakan panas.

 

* Bahan diambil dari berbagai sumber.

Posted By : Yusuf Kurnia Steven Wijaya (Pemenang Artikel Terbaik Bulan November 2014)

medic n tools EDC

Salam EDC Indonesia

Mencoba untuk share pengalaman. Kali ini saya akan mencoba untuk menggunakan pouch yang didapat dari tas olah raga atau tas promosi yang sudah tidak terpakai, yang bagian dalamnya terdapat kantung organizernya untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pouch untuk menyimpan medic kit ataupun tools. Kebetulan bagian pouch dari tas yang saya potong ini terbuat dari bahan yang kaku, tebal dan tahan air, sehingga nyaman digunakan sebagai pouch EDC.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagi berikut:

1.  Temukan bagian pouch atau organizer pada tas, lalu dipotong menggunakan gunting.

559581_4985539374352_1180691168399270574_n

10730938_4985539654359_5728288364835154517_n

 

2.  Rapikan benang-benang sisa potongan dengan dipotong ,lalu dibakar hati-hati dengan korek api supaya  rapi bekas dari potongan tersebut.

10429367_4985542174422_5967522628866195584_n

3.  Bisa tambahkan paracord pada resleting supaya lebih nyaman saat membuka pouch.

10402715_4985541774412_6511397305906554327_n

4.  Jahit tambahan velcro pada bagian depan untuk penambahan panel patch.
10422345_4985537174297_3123399387079039212_n

1234024_4985537694310_6024400582636997779_n

 

Adapun fungsi pouch buatan sendiri ini :

  1. Dapat digunakan sebagai medic pouch sederhana yang di bawa sehari-hari tanpa perlu membawa kotak atau pouch besar, bahkan menjadi survival kit sederhana. Disarankan ditambahkan plastik klip untuk medic atau survival kit supaya tahan air meskipun pouch terbuat dari bahan parasut tahan air.
  2. Bisa digunakan sebagai pouch EDC untuk multitools, knives, flash disk, flashlight, atau tools lainnya yang mudah dan ringan untuk dibawa sehari-hari.

Sekian review dan sharing pengalaman dari saya, semoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan. Terima kasih.

 

Edited by: Yogi Mahendra

Posted By : Reza Fahlevi Sam (Pemenang Artikel Terbaik Bulan Oktober 2014)

IMG_9411

Assalamualaikum Wr. Wb., salam sejahtera bagi kita semua,

Every Day Carry atau biasa dikenal dengan EDC, baru memasuki hidup saya selama 2 tahun terakhir ini. EDC dapat dimaksudkan sebagai barang yang dibawa setiap hari, untuk konsep penggunaan EDC sudah banyak dibahas sedulur-sedulur di sini, dapat diartikan secara garis besar untuk membantu kegiatan kita setiap harinya.

Secara tidak sadar dan tidak langsung, saat ini konsep EDC terpaku pada 2 hal, yaitu size (ukuran) yang kecil dan price (harga) yang mahal. Konsep ini tidak salah, mengenai ukuran yang kecil memudahkan kita membawanya. Sedangkan jika kita berbicara harga, ada pepatah mengatakan “ada harga ada rupa”, konsep ini juga tidak salah. Jika sedulur-sedulur di mari belum pernah mengalaminya secara langsung tentang pepatah ini, bisa dilihat pada cuplikan di film 127 Hours.

IMG_9411 copy

Saya bukan salah satu orang yang berdompet tebal, maka dari itu saya harus mencari-cari EDC yang tepat dan bagus untuk saya pribadi. EDC pertama saya saat itu adalah pisau lipat berbentuk gantungan kunci seharga Rp 7.000 (sekitar 8 tahun yang lalu). Pepatah “ada harga ada rupa” saya alami untuk pertama kalinya, pisau patah saat saya membongkar mainan adik sepupu saya. Setelah itu EDC saya masuk ke pisau buatan replika (di saat masih awam, pisau berharga mahal masih saya anggap gak bener, gila aja pisau seharga ratusan ribu, akhirnya yang terjangkau ya pisau replika). Selama beberapa bulan, sedikit terasa melelahkan mulai dari size, fungsional, dan maintenance.

Akhirnya saya menemukan Ganzo G711 (thanks Mas Sigit buat group buy nya). Menurut saya pisau ini berukuran pas buat tangan saya, multi grip nya nyaman, bentuk blade nya cantik, dan kualitasnya bagus. Ganzo saya dapat dengan harga Rp 230.000 selanjutnya menjadi pisau andalan saya sebelum bertemu Spyderco Pingo, si kecil imut yang berbentuk tidak intimidatif. Ketika memakai Spyderco Pingo pun tidak takut mengeluarkannya karena efek bentuk yang imut.

CameraZOOM-20130905122702108

Untitled-1

Apakah Ganzo saya terbengkalai? Tidak, Ganzo menjadi primadona saya saat naik gunung. Kalau ditanya kenapa tidak memakai pisau-pisau seperti Spyderco, Benchmade, Enzo, Lionsteel atau yang lainnya karena faktor kebutuhan. Menurut saya Ganzo sudah memenuhi kebutuhan, mulai dari tebal  blade yang bisa digunakan sedikit agak berat walau belum bisa dikatakan linggis, dan tidak mempersulit untuk pekerjaan yang bersifat ringan.

IMG_9417

EDC saya yang lainya yaitu senter. Senter yang saya gunakan yaitu senter Ultrafire C3 SS AAA, 3 mode, waterproof dimana sangat bermanfaat disaat turun gunung malam dan turun hujan. Senter ini terbilang murah dengan harga Rp 180.000.

Jam tangan G-shock DW-6600 yang sangat berguna setiap saat untuk menunjukan waktu. Harga Rp – (given by my brother).

EDC selanjutnya survival whistle (peluit) yang bisa saya gunakan ketika terpisah dari rombongan seharga Rp 35.000.

Carabiner Eiger seharga Rp 12.500 dengan spec not for climbing karena tidak butuh mengangkut beban sampai berkilo-kilo.

Paracord dengan panjang 3 meter yang bisa digunakan untuk menarik motor teman yang mogok, cukup didapat dengan harga Rp 20.000.

Leatherman Fuse dengan harga Rp 500.000 (banyak gigi terselamatkan oleh bukaan botol LM, banyak mur kendor menjadi kencang atau sebaliknya oleh obeng si LM, gunting kecilnya sangat membantu untuk membuka plastik makanan, pisau di LM menjadi backup untuk Spyderco Pingo di saat membutuhkan pisau yang menggunakan locking).

Lakban, barang bisa direkatkan dengan bantuan lakban, mulai dari menambal kabel terkelupas, menambal jas hujan, dll saya dapat dengan harga Rp 5.000.

Spyderco Pingo bisa digunakan untuk jenis pekerjaan ringan mulai dari memotong rafia, membuka paket, atau bahkan memotong daun pisang, dll seharga Rp 750.000.

 

Edited by: Yogi Mahendra

Posted By: Hendra Aryadi (Pemenang Tulisan Terbaik Bulan September 2014)

Hendra 02

Picture By : Hendra Aryadi

Hakikatnya konsep  EDC  adalah “ kebutuhan “, tools yang dibawa akan menunjang bahkan mempermudah situasi yang akan dihadapi. Berikut ini beberapa kejadian yang pernah saya alami  sebelumnya saya menginfokan kalau kegiatan saya berhubungan dengan sebuah event organizer.

Waktu itu saya belum mengenal konsep EDC tapi senter Maglite beserta Victorinox Hustman sudah biasa saya bawa saat berkegiatan. Acaranya di salah satu hotel di Puncak, Bogor. Giant Roll Banner yang musti terpasang pagi itu ternyata ukurannya tidak sesuai, dengan kata  lain terlalu panjang bambu seukuran kaki dewasa musti dipotong saat itu juga…. Beberapa teman langsung lari mencari bagian teknisi hotel untuk meminjam gergaji, disinilah fungsi tools yang saya bawa berperan, hanya menggunakan gergaji dari Victorinox  dengan hitungan menit bisa memotong bambu tadi akhirnya masalahpun bisa diatasi dengan mudah.

Kejadian berikutnya terjadi disalah satu tempat Outbound di Maribaya, Lembang.  Ketika sore-sore saat kita lagi santai tiba-tiba ada beberapa peserta berteriak minta tolong, ternyata ada temannya terjebak di toilet, kuncinya tidak bisa dibuka. Langsung saja saya mengeluarkan Pouch Maxpedition,  karena butuh alat pencongkel   waktu itu yang ada hanya Leatherman Skeletool dengan bilahnya saya mencongkel bagian kuncinya hingga akhirnya bisa membuka paksa pintu toilet tersebut. Karena pintu kuncinya sudah jebol dan tidak bisa digunakan lagi, sayapun membuat tulisan dengan secarik kertas menggunakan spidol Sharpie “ Toilet Rusak” ditempel menggunkan lakban. Semua tools dan bahan tadi semuanya ada di pouch yang saya bawa.

Hendra 01

Picture By : Hendra Aryadi

Berikutnya kejadian sedikit heroik, masih saat bertugas dalam suatu event di kaki Gunung Tangkuban Perahu, konsep eventnya full outdoor para peserta akan melakukan trekking dengan secara berkelompok. Cuaca sudah mulai gelap dan sebelumnya hujan cukup besar. Sebagian peserta berhasil melewati pos saat saya kebagian menyisir rute trekking ternyata ada satu peserta mengalami masalah kesehatan dia tidak bisa berjalan karena kram otot, waktu itu saya dan seorang paramedik sepakat menunggu ditempat, lalu  teman saya mencari bantuan karena HT yang di bawa baterenya sudah habis.  Langitpun sedit demi sedikit berubah jadi hitam, sayapun mengeluarkan senter mungil Fenix HL10 yang biasa saya bawa, dengan nyala yang cukup terang membuat nyaman dan tenang kami bertiga terlebih peserta yang sakit, tak lama dari itu hujan mulai turun kembali karena kondisi peserta tadi yang tidak bisa berjalan terpaksa kami harus diam di tempat, lagi-lagi perlengkapan yang saya bawa bisa membantu kondisi darurat tersebut, kali ini sebuah flysheat dan beberapa meter paracord saya rangkai jadi sebuah sherter untuk berteduh kami bertiga. Hingga akhirnya bantuan dari kawan-kawan saya tiba masalahpun bisa saya atasi dengan “ gampang “  berkat bantuan EDC yang saya bawa.

Itulah peristiwa yang membuat saya yakin hingga sekarang, tentang pentinya sebuah kesiapan dan kecakapan menghadapi situasi yang tak terduga dengan bantuan tools yang kita bawa yang disebut EDC.

Edit by : Yogi Mahendra

Logo EDC Indonesia

Posted: September 17, 2014 in Article, Pengenalan EDC

IMG_20140612_100509

Beberapa teman pernah bertanya pada saya, kenapa memilih logo lebah yang rada-rada ngga jelas ini (hehehehe….) sebagai logo EDC-iD. Kenapa tidak memilih gambar multitools, pisau atau senter sebagai logo seperti blog, facebook group atau web yg bertemakan EDC pada umumnya.

Maka kali ini akan saya jelaskan secara singkat filosofi dari logo ini.

Lebah sendiri adalah binatang yang menakjubkan, sampai salah satu agama mempunyai ayat khusus yg menjelaskan betapa bergunanya mahluk ini. Bahkan ada kepercayaan bahwa salah satu tanda-tanda akhir jaman dimulai dengan punahnya lebah dari muka bumi. Bagaimana tidak, tubuhnya adalah salah satu contoh ‘multitools‘ hidup yang pernah ada, dari membuat madu, membantu proses penyerbukan, sebagai metode pengobatan, bahkan dapat menjadi alat membela dirinya sendiri yg menjadikan lebah amat dibutuhkan dan (bagi sebagian orang) juga ditakuti (termasuk oleh saya yang pernah merasakan 4 sengatan sekaligus.. hehehe).

Roda gear yg digambarkan menjadi tubuh lebah menjadi simbol peralatan dan alat bantu yang selalu dimiliki manusia sejak jaman prasejarah. Seperti diingat, sejarah manusia mulai berkembang pesat semenjak manusia mulai memikirkan penggunaan alat bantu dalam kehidupan sehari-hari, untuk menutupi kelemahannya dalam bertahan hidup bila dibandingkan mahluk-mahluk lain yg hidup di muka bumi.

Jadi secara keseluruhan, logo ini saya anggap sebagai jawaban filosofis dr konsep EDC itu sendiri. Bisa jadi salah menurut orang lain. Tapi seperti pernah saya tulis di artikel saya yang lain, ini adalah pendapat pribadi saya yang diharapkan dapat dimengerti oleh teman-teman semuanya.. 🙂