Archive for April, 2018

Forging For Dummies

Posted: April 23, 2018 in Article, Knife, Pengenalan EDC

20180423_201555

Source : Cornelius Rusandhy , Writer : Yogi Mahendra

Kepada teman-teman pembaca setia blog ini pasti pernah mengingat salah satu tulisan saya pada beberapa tahun lalu, Knives For Dummies. Nah, kali ini sebagai kelanjutannya saya akan mencoba untuk mengulas sedikit mengenai proses penempaan pisau, atau dengan biasa juga disebut forging. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bro Cornelius yang menyempatkan waktunya menjadi narasumber dan mempraktekkan dasar-dasar penempaan agar saya dapat dengan mudah mengerti materi yang akan saya jabarkan di bawah ini. Harap diingat, materi yang saya jabarkan di bawah ini adalah garis besar agar para pemula dapat mengerti istilah dan konsep dasar penempaan pisau. DIbutuhkan pembelajaran lebih lanjut agar dapat mengerti lebih detail proses pembuatan pisau dan karakteristik baja itu sendiri.

Secara garis besar teknik forging atau penempaan terbagi atas 2, yaitu :

  1. Stock Removal

= Pembuatan pisau dengan metode pemotongan, grinding tanpa melalui proses tempa pada umumnya. Biasanya bahan yang digunakan sudah berbentuk plat yang sesuai dengan ukuran pisau dan langsung di gambar dan kemudian dipotong sesuai bentuk designnya.

  1. Forging / penempaan

= Proses pembuatan pisau dengan menggunaka suhu panas dan dibentuk melalui beberapa proses penempaan yang akan dujelaskan lebih lanjut dibawah ini.

20180423_202117

Istilah-istilah umum pada penempaan (beberapa istilah yang berkaitan dapat ditemukan di tulisan Knives For Dummies) :

  1. Heat Treatment atau HT : adalah proses pemanasan pada baja untuk mendapatkan struktur atom yang kita inginkan.
  • Anilling : proses mengembalikan kondisi baja kepada kondisi terempuk untuk mempermudah pembentukan dalam proses dingin (gerinda, bor, kikir, dll)
  • Normalizing : proses mengembalikan struktur baja pada kondisi stabil dan merata. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terjadinya warping (pembengkokan).
  • Hardening : proses pengerasan pada baja dengan merubah struktur.
  • Quenching / penyepuhan : proses pendinginan mendadak dari suhu tinggi yang dicapai pada proses hardening untuk menghasilkan struktur terkeras yang bisa dihasilkan sebuah baja.
  • Tempering : proses yang dilakukan dengan menggunakan suhu panas untuk menurunkan kekerasan dan menambah ‘keuletan’ baja.
  1. Profile Forging : proses pembentukan material menjadi bentuk yang kita inginkan
  2. Bevel Forging : penempaan pada mata bilah untuk mendapatkan sudut bevel yang kita inginkan
  3. Hardness Rockwell : satuan kekerasan yang umumnya digunakan pada logam. Ada beberapa skala yang biasa digunakan yaitu :
  • HRA : dulunya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam non-ferrum
  • HRB : biasanya digunakan untuk menentukan kekerasan material pada logam dengan kandungan ferrum
  • HRC : umumnya digunakan untuk mengukur kekerasan material pada bahan bahan baja atau Ferrum-Carbon
  1. Anvil : landasan tempa
  2. Tongs / Capit : alat bantu untuk ‘memegang’ material yang akan di tempa. Harap dingat, bahwa pemilihan capit yang tepat dan cara memegang yang benar amat penting diperhatikan karena cara memegang yang tidak tepat dan capit yang kurang baik dapat menyebabkan baja yang akan di tempa dapat terlepas dengan mudah dan akan membahayakan penempa dan orang-orang disekitarnya.
  3. Forge / Tungku : alat yang digunakan untuk memanaskan logam. Secara garis besar berdasarkan bahan bakar atau sumber energy yang digunakan tungku terbagi 3 :
  • Solid Fuel Forge : tungku dengan bahan bakar seperti arang, batu bara, bricket, dll. Ketelitian dibutuhkan dikarenakan bahan bakar ini memiliki tingkat panas yang sulit dikendalikan.
  • Gas Forge : tungku yang menggunakan bahan bakar gas seperti Propane, Butane atau campuran. Kelebihannya adalah pengaturan panas lebih mudah dan material yang dihasilkan lebih ‘bersih’ tanpa terlalu banyak kerak.
  • Electric Forge : Tungku yang menggunakan bahan bakar listrik. Kelebihannya adalah konsumsi panas yang lebih merata namun tidak efisien karena membutuhkan daya yang amat besar.

20180423_213228

Untuk Quenching, material yang umum digunakan secara garis besar terbagi 3 :

  1. Udara, merupakan media yang paling lambat dalam melakukan proses pendinginan. Berdasarkan tekanannya udara terbagi dua :
  • Udara bebas / suhu ruangan
  • Udara bertekanan tinggi
  1. Minyak (oil), berdasarkan cooling rate, flash point dan viskositasnya minyak terbagi 2 jenis (Semakin kental minyak, semakin lambat proses pendinginannya) :
  • Slow oil
  • Medium oil
  • Fast oil
  1. Air, media tercepat dibandingkan media lainnya dalam melakukan proses pendinginan. Bedasarkan kandungannya air terbagi tiga :
  • Air asin
  • Air yang mengandung ion
  • Air yang ditambahkan dengan campuran lain seperti cornstarch agar tidak terlalu cair dan menghindarkan perubahan suhu yang ekstrim dalam proses pendinginan.

20180423_213603

Material yang umum digunakan pada proses pembuatan pisau (Notes : untuk proses penempaan pisau, baja yang digunakan harus memiliki kandungan Carbon diatas 0.25%, yang berguna untutk mingkatkan kekerasan dan kekuatan pada baja tersebut hingga mampu di ‘dikeraskan’ pada saat proses heat treatmenthardening. Namun kandungan Carbon yang terlalu tinggi atau diatas 1.5% dapat menyebabkan baja menjadi sangat ‘getas’, oleh karena itu untuk jenis High Alloy Steel yang memiliki kandungan Carbon tinggi harus diseimbangkan dengan kandungan-kandungan alloy lainnya seperti Silicone, Nickel atau Chromium.) :

  1. Spring steel / baja per: ideal karena mudah dikerjakan (proses penempaan lebih mudah, termasuk proses HT), mudah didapat dengan harga yang relatif murah dan memiliki tingkat toughness yang lebih baik sehingga tidak mudah patah dan memiliki level hardness yang cukup untuk mempertahankan ketajaman. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.35% sampai 0.9%.
  2. Tool steel : contoh material ini adalah kikir, O1, dll. Kelebihan dari material ini adalah dapat mencapai kekerasan / edge retention diatas spring steel pada umumnya, namun lebih mudah berkarat. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.75% sampai 1.1%.
  3. Dies Steel : contoh material ini adalah D2, alat pemotong pada industri kertas, dll. Kelebihannya adalah umumnya lebih tahan karat dan memiliki kekerasan yang tinggi. Adapun kekurangannya adalah toughness yang tidak sebaik spring steel dan tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 1% sampai dengan 2%.
  4. Ball Bearing Steel : memiliki karakter yang hampir sama dengan tool steel, dengan ketahanan karat yang lebih baik daripada tool steel. Kandungan Carbon pada material ini berkisar antara 0.8% sampai 1.5%.
  5. Stainless Martensitic Steel : contoh material ini adalah 440C (atau bisa didapatkan pada bearing stainless steel yang biasa digunakan pada industri maritim). Varian dari Stainless Steel yang dapat dikeraskan melalui proses heat treatment. Kelebihannya adalah lebih tahan karat. Umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 1%.
  6. High alloy steel : Biasanya digunakan sebagai bahan untuk pisau premium, control material ini adalah CPM S30V, Elmax, de el el. Dapat mencapai kekerasan yang tinggi dan umumnya lebih tahan terhadap karat. Kekurangannya adalah, mahal, susah didapat dan poses penempaannya membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap karakter masing-masing baja tersebut. Kandungan Carbon umumnya diatas 0.7%
  7. Nickel steel : contoh material ini adalah mata chainsaw dan bensaw. Memiliki karakter lebih tangguh, namun memiliki edge retention yang tidak sebaik tool steel. Nickel steel yang digunakan untuk menjadi bahan pembuatan pisau harus umumnya memiliki kandungan Carbon diatas 0.5%, namun harus memiliki kandungan Nickel diatas 1%.

20180423_201905

Beberapa material handle yang umum digunakan (Notes : belum ada aturan baku antara hubungan material baja, jenis pisau yang akan ditempa dan jenis handle yang digunakan. Pada akhirnya ini lebih kepada preferensi masing-masing) :

  1. Kayu
  2. Tulang
  3. Tanduk
  4. Plastic Engineering : G10, micarta, UHMW, CF
  5. Resin Based

20180423_201819

Alur proses penempaan :

  1. Designing : proses pembuatan design pisau, dari proses gambar hingga pembuatan ‘mal’ pembantu.
  2. Profile Forging : proses penempaan untuk mendapatkan bentuk kasar pisau sesuai dengan design yang diinginkan

20180423_202208

  1. Normalizing
  2. Rough Grinding / Beveling : Untuk merapikan dan memperoleh bentuk dasar pisau
  • Profile grinding : Untuk memperoleh profile sesuai design yang diinginkan
  • Bevel grinding : Untuk memperoleh bentuk dasar bevel.

20180423_202337

  1. Hardening
  2. Quenching
  3. Final Grinding

20180423_202425

  1. Hand sanding
  2. Pembuatan gagang
  3. Finishing

20180423_202504

Pada akhirnya yang terbaik untuk dapat mengerti proses secara keseluruhan adalah melakukan praktik dan memahami proses tersebut secara langsung. Anyway, mohon abaikan orang yang menjadi model dalam foto-foto di tulisan ini.. hehehehehe

Persistence is to the character of man as carbon to steel – Napoleon Hill

Advertisements

Coffee Corner

Posted: April 21, 2018 in Article

Author : Pautomo Sulistio, Editor : Yogi Mahendra

EDCiD-Coffee Corner

IMG-20180420-WA0008

Beberapa teman-teman akan bertanya mengapa kopi menjadi bagian dari EDC, yang tentunya sedikit ganjil terdengar. Namun ini sesuai dengan perkembangan jaman dimana kopi bagi sebagian orang sudah menjadi bagian dari gaya hidup, kebiasaan dan kultur, serta banyak teman-teman yang menjadikan perlengkapan membuat kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari tool wajib sehari-hari, terutama dengan alasan klasik untuk menjaga ‘kewarasan’ setelah lelah bekerja 🙂

Siapa yang tidak tahu tentang kopi, tentunya kita semua pernah mencoba ataupun malah menggemarinya. Kopi adalah minuman terbanyak kedua yang diminum orang-orang setelah air putih. Hampir disetiap penjuru kota-kota di Indonesia maupun luar negeri terdapat warung kopi baik tradisional ataupun modern dengan segala teknik pengolahan dan peralatannya.

Tulisan ini akan mencoba mengulas kopi secara ringan dan mendasar agar pembaca yang baru mencoba mendalami seni pengolahan kopi dapat mengikutinya dengan mudah.

IMG-20180420-WA0012

Secara umum, jenis kopi yang paling banyak diminum adalah jenis Arabica dan Robusta dimana masing masing mempunyai perbedaan rasa dan juga yang pasti mempunyai penggemar fanatiknya masing-masing.

Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah dari karakter rasa yang dihasilkan. Secara umum Robusta mempunyai tekstur (body) yang lebih kental dibandingkan dengan Arabica. Rasa juga dapat dengan mudah dikenali dari kedua jenis kopi ini, Robusta cenderung lebih pahit dan creamy (gurih) sedang Arabica cenderung lebih asam.

Perbedaan umum antara Robusta dan Arabica:

  • Robusta memiliki tingkat kafein yang lebih tinggi (2.7%) dibandingkan Arabica (1.5%), sehingga Robusta lebih terasa pahit dibandingkan Arabica. Ini pulalah yang menyebabkan bagi sebagian pecinta kopi sering kita mendengar ungkapan bahwa Robusta memiliki efek yang lebih ‘nendang’ dibandingkan Arabika
  • Robusta memiliki kadar gula yang lebih rendah dibandingkan dengan
  • Bentuk biji kopi Robusta cenderung lebih membulat, sedangkan Arabica cenderung lebih oval
  • Kadar asam di Robusta lebih tinggi dibanding dengan Arabica. Ini ditunjukan dengan prosentase kadar Chlorogenic Acid (CGA) Robusta 7-10% CGA sedangkan pada Arabica hanya 5.5-8% CGA.

Oleh karena itu untuk peminum kopi yang memiliki riwayat asam lambung, disarankan untuk memilih kopi Arabica.

IMG-20180420-WA0009

Setelah itu kita akan membahas tentang alat alat yang digunakan untuk brewing, mulai dari yang sederhana sampai yang lebih lanjut dan spesifik.

  • Sumber Air Panas

Bisa berupa teko listrik ataupun teko konvensional dengan kompor.

  • Penggiling Kopi (Grinder)

Penggiling kopi saya anggap salah satu alat kopi terpenting karena grinder ini adalah jembatan antara biji kopi dan air (panas).

Roasted coffee beans and hot water to make a cup of coffee, and the grinder is THE mediator to make a good one.

Grinder ini pada dasarnya ada dua model, Electric dan Manual Grinder, yang penggunaan nya disesuaikan dengan situasi dan kondisinya.

  • Coffee maker (French Press, PourOver)

French Press ini bekerja dengan cara merendam bubuk kopi dengan air sampai waktu tertentu dan kemudian menekan tangkai tuas (plunger) untuk memisahkan kopi dan ampas nya. French Press ini sesuai nama nya ditemukan di Prancis dan dipatenkan pertama kali tahun 1958 oleh Faliero Bondanini.

PourOver bekerja dengan cara mengalirkan air diatas kopi dengan cara memutar, menetes ataupun kombinasi. Dalam metode PourOver ini, air hanya melewati kopi sajam tidak merendam seperti pada French Press. PourOver sendiri ada beberapa macam model yang akan dibahas di jenis jenis media penyaring. PourOver pertama kali ditemukan oleh seorang ibu rumah tangga di Jerman bernama Mellita Bentz tahun 1908.

  • Ketel leher angsa

Ketel ini mempunyai leher yang panjang dan menyempit sehingga aliran air dapat dengan mudah diatur seberapa deras diperlukan dan juga memudahkan untuk mengarahkan aliran air pada saat dituangkan.

  • Media penyaring (kertas, kain, kasa kain atau metal)

Media Penyaring (filter) ini sering digunakan para penikmat kopi sesuai dengan selera mereka masing masing. Metal filter umumnya digunakan pada French Press. Metal filter ini menyaring ampas kopi tetapi masih membawa minyak dari kopi yang mempunyai rasa yang dicari beberapa orang yang menyukainya.

Cloth Filter atau filter dari kain, biasanya kain katun dengan kerapatan yang cukup untuk menyaring sebagian minyak dan ampas halus dari bubuk kopi. Beberapa orang menyebut Cloth Filter ini sebagai filter ‘Hybrid’ alias penengah antara Metal Filter dan Paper Filter. Cloth Filter ini dapat dipakai berulang kali selama tidak sobek.

Paper Filter merupakan filter dengan kerapatan paling tinggi dan karena terbuat dari kertas maka kemampuan menyaring minyak kopi juga lebih tinggi sehingga kopi lebih bersih dan terbebas dari sedimen halus sekalipun.  Paper filter ini mempunyai beberapa model yang biasanya terbagi kedalam tiga kategori yaitu Kerucut (cone V60), Trapesium dengan bagian datar dibawahnya (Flat Bottom) dan Wave dengan model keranjang dan memiliki lipatan lipatan disekeliling dindingnya.

  • Thermometer (penunjuk suhu air)

Peran Thermometer disini adalah untuk mengetahui suhu air yang diinginkan, kita bisa mendapatkan hasil yang berbeda dengan suhu yang berbeda.

Pengaruh suhu air terhadap kopi adalah karena semakin tinggi suhu, semakin banyak partikel kopi yang akan larut kedalam minuman. Alangkah baiknya apabila suhu air berkisar antara 80-950 Celcius karena apabila dibawah 800 Celcius, kopi tidak akan larut sempurna (under-extracted) dan apabila menyentuh 1000 Celcius maka keseluruhan partikel kopi (termasuk yang tidak diinginkan) akan ikut masuk kedalam minuman kita (over-extracted). Suhu ideal itu akan didapat apabila kita telah mencoba beberapa kopi yang diseduh dengan suhu yang berbeda.

  • Timbangan dan penunjuk waktu

Timbangan dipakai untuk menakar jumlah kopi, air yang digunakan untuk brewing serta penunjuk waktu (timer) untuk menentukan berapa lama proses brewing itu sendiri.

Timbangan dan timer ini sangat membantu untuk mencapai hasil yang konsisten di setiap proses brewing, dengan bantuan kedua alat ini dapat dengan mudah mengulangi seduhan yang menurut kita enak dan pas tanpa harus menduga duga. Sebagai contoh, kopi yang terlalu cepat diseduhnya akan terasa hambar cenderung asam, sebaliknya kopi yang terlalu lama diseduh akan muncul rasa ‘getir’ atau pahit yang tidak nyaman dimulut.

  • Wadah penampung minuman (Server, Cup, Tumbler)

Setelah kopi jadi ini adalah pilihan tentang bagaimana kita akan menikmati kopi ini, langsung diminum sendiri, bersama sama (server) ataupun untuk dibawa di perjalanan.

Setelah pembahasan diatas mari kita mencoba untuk brewing dengan salah satu metode yang saya pilihkan untuk keperluan artikel ini yaitu dengan PourOver, mengapa PourOver, karena metode ini sedang banyak digandrungi oleh penikmat kopi di dunia.

Alat alat dan bahan yang diperlukan adalah:

  • V60 brewer
  • V60 filter
  • Grinder
  • Ketel Leher Angsa
  • 20 gram kopi
  • Air panas (900 Celcius sebanyak 300 ml/gram)
  • Timbangan
  • Timer

Cara penyeduhan:

  1. Lipat filter pada sambungan hingga berbentuk kerucut dan tempatkan pada penetesnya, bilas seluruh permukaan filter hingga basah merata. Tujuan nya adalah untuk menghilangkan bau kertas yang mungkin masih tertinggal, dan juga untuk menghangatkan alat seduh hingga suhu ideal (alat seduh yang dingin dapat menurunkan suhu yang ingin dicapai) setelah itu jangan lupa untuk membuang air bilasannya.
  2. Giling kopi dengan tingkat kehalusan sedang (tidak terlalu halus dan tidak terlalu kasar) kemudian tuang secara merata kedalam filter. Ada baiknya kita mengetuk penetes satu dua kali agar bubuk kopi rata.
  3. Langkah selanjutnya adalah membasahi kopi dengan air sampai seluruh permukaan kopi basah (Blooming). Tujuan dari proses ini adalah menghilang kan karbondioksida dari kopi dan membuka pori pori kopi agar siap untuk seduhan selanjutnya. CO2 ini penting untuk dihilangkan karena berpotensi untuk membuat ‘halangan’ bagi air untuk membasahi kopi. Beberapa orang juga menyebut Blooming dengan istilah Degassing (proses menghilangkan gas CO2). Banyaknya air yang digunakan ini bisa beragam, tetapi agar mudah diingat, biasanya menggunakan rasio dua kali dari jumlah kopi yang digunakan. Disini kita menggunakan 20 gram kopi, jadi air yang dipakai untuk membasahi kopi ini adalah 40 gram. Waktu yang diperlukan untuk Blooming adalah sekitar 30-45 menit tergantung jenis kopi dan kesegaran kopi. Semakin segar (freshly roasted) kopi, semakin lama waktu yang diperlukan untuk
  4. Tuang air dengan gerakan memutar, target waktu yang kita ingin capai adalah 3 menit. Kita dapat menyesuaikan aliran air dengan waktu yang ingin dicapai, semakin sering kita menyeduh, pola aliran air akan dikuasai dengan mudah. Peran timbangan dan timer disini sangat membantu karena kita dapat membandingkan antara target waktu dan jumlah air yang telah dituang.
  5. Setelah target waktu 3 menit tercpai, dan angka di timbangan menunjukkan angka 300 gram, proses penyeduhan selesai, dan penetes dapat dipindahkan ke tempat lain. Kertas penyaring dan bubuk kopi sebaiknya dibuang ke tanaman karena ampas kopi yang kaya akan nutrisi sangat baik untuk menyuburkan tanaman.
  6. Selamat menikmati minuman para dewa 🙂

IMG-20180420-WA0011

Didalam dunia kopi yang sangat luas ini, terlalu sulit untuk menuangkan seluruhnya kedalam artikel singkat ini, harapan saya adalah agar teman-teman dapat mulai untuk mengenal kopi secara singkat dan dapat mendalami nya sediri kemudian.

Mohon diperhatikan tentang alat dan metode yang disebutkan diatas bukanlah sesuatu yang absolut atau paling benar, itu hanyalah dari sudut pandang dan kebiasaan saya sebagai penikmat kopi, yang tentunya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Justru dengan perbedaan itulah kita akan semakin terpacu untuk menggali lebih dalam.

Apabila ada pertanyaan atau komentar, bisa dituliskan dibawah ini dan saya akan mencoba menjawab sesuai pengetahuan saya yang masih belajar ini.

Coffee is a lot more than just a drink; it’s something happening. Not as a hip, but like an event, a place to be, but not like location, but somewhere within yourself. It gives you time, but not actual hours or minutes, but a chance to be, like be yourself, and have a second cup.                                                      – Gertrude Stein –

Sebagai bagian dari upaya mengkampanyekan EDC sebagai bagian dari gaya hidup, dan menciptakan media yang mudah diterima oleh masyarakat, maka kami mencoba memindahkan beberapa tulisan yang pernah di muat kedalam blog ini ke dalam bentuk infografis yang lebih simple, berwarna dan mudah di aplikasikan ke dalam media cetak.

Kesempatan untuk mencoba media baru ini datang manakala EDC Indonesia mendapat kesempatan untuk membuka booth edukasi pada Gathering Nasional Indonesian Blades di Gedong Songo Semarang, 14 – 15 April 2018 lalu.

Melihat animo dan permintaan dari teman-teman pada acara tersebut, maka kami akan membagi infografis yang telah kami buat agar dapat disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih besar.

Pengenalan Pisau kepada Anak-anak

Untitled-1

First Aid Kit

Untitled-1

Bug Out Bag

Untitled-2

Kamipun memberikan kesempatan bagi teman-teman yang ingin memperbanyak infografis ini dalam bentuk hard copy selama tidak menghilangkan logo EDC Indonesia karena bagaimanapun ini merupakan kekayaan intelektual bagi kami, admin EDC Indonesia. Salam 🙂